Kolintang Pecahkan Pagi di Batu Putih


Suara alat musik mirip angklung, di kawasan Batu Putih Bitung, Sulawesi Utara, pagi itu, menarik perhatian, Jumat(31/08/2018). Gemuruhnya membuat saya  mendekat. "Tapi kok, dipukul-pukul, bukan digoyang-goyang seperti angklung?" Batin ini bertanya.

Ehmmm....bukan angklung deh. Trus, cara mainnya kayak gamelan gitu.Tapi bukan gamelan. Kan gemelan terbuat dari lempengan besi, lah ini dari kayu. 

Oh, ternyata itu adalah Kolintang, alat musik khas Sulawesi Utara. Eikeh baru tahu.
Kolintang

Enam anak muda memainkannya. Terdengar lagu Viera “Rasa Ini” menggema pagi itu. Irama lagu barat dan instrumen, juga mereka mainkan.

Satu persatu orang keluar dari tenda untuk melihat lebih dekat irama lagu dari alat musik yang dimainkan.

Puluhan anak siswa Sekolah Dasar, tamu undangan, dan peserta pada  Jambore Nasional di lokasi itu mulai mengerubungi titik itu. Fokus satu titik (kayak Lagu Via Vallen).Ya titik itu,  titik di mana enam alat musik yang dipukul-pukul itu mengeluarkan suara indah, memecahkan pagi.

Ada beberapa pengunjung mencoba memainkannya, memegang alatnya atau sekedar merekam aksi para pemain. Saya juga mencoba memukul-mukulnya, saat mereka break, meski gak tahu nadanya, hihihihi, yang penting pernah megang Kolintag, hehehe

Rupanya, permainan mereka di pagi buta itu adalah gladi resik. Gladi resik  dilakukan untuk memeriahkan acara puncak puncak Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional HKAN 2018.Acara ini digagas oleh Kementerian Lingkugan Hidup dan Kehutanan KLHK.

Jauh ya mas bro eikeh sampai ke sana, hehehe....
Anak Muda dari Sanggar Prima Frista, Minahasa Utara memainkan alat musik Kolintang khas Sulawesi Utara di acara peringatan Hari Konservasi Alam Nasional di Bitung, Sulawesi Utara, Kamis (30/8/2018)

Asiknya lagi, saya bertemu dengan pemimpin sanggar grup musik Kolintang ini. Stave Tuwaidan (40), namanya. Ia sempat menjelaskan nada-nadanya, saat saya mencoba sok sok pegang alat pukulnya. “Ya, seperti piano” katanya. 

Ia juga bercerita, grup musik ini berada di naungan Sanggar Prima Frista. Sanggar ini berada di Minahasa Utara, di bawah Kaki Gunung Klabad. Eh, abang Stave ini juga turut unjuk gigi lho.
Mereka piawai sekali memainkan Kolintang. Pertunjukan Kolintang itu rupanya sudah mendunia. Bukan hanya memesona pengunjung kawasan Batuputih saja. Alunan nada Kolintang dari Sanggar Prima Frista bahkan sudah menggema hingga Moscow, Rusia.

Menurut Stave, mereka baru saja pulang dari Moscow, Rusia, menghadiri undangan Kedutaan Besar RI (KBRI) untuk mengisi acara Festival Musik Indonesia di sana.

"Kami hampir dua minggu berada di Moscow. Sekitar tiga minggu lalu. Sebelumnya kami tampil di Beogard (Ibukota Serbia). Yang tampil di Taman Wisata Alam Batu Putih ini grup yang the best," kata Stave.  
Stave Tuwaidan


Nada-nada dari enam buah alat musik Kolintang riuh menggema, mengalun indah dan rapi diiringi suara merdu penyanyinya. Maklumlah, para anak muda yang memainkannya adalah Juara Nasional dari beberapa event perlombaan nasional dan daerah. Kejuaraan tingkat nasional saja mereka bisa menyabetnya, apalagi yang tingkat daerah yak, tinggal kedip aja kali ya, hehehhe..

Salah satu prestasinya, juara di Festival Musik Kolintang Kerukunan Keluarga Kawanua (K3) pada Mei 2018 di Surabaya. 

Mereka pun menjuarai Lomba PINKAN (Persatuan Insan Kolintang Nasional) di Surabaya, Semarang dan Jakarta pada 2014, 2017 dan 2018. Saat ajang Festival Klabat Sulut, pada 2015, mereka juga menjadi pemenangnya.

Ada 40 orang belajar bermain kolintang di bawah bimbingan Stave. Mereka datang dari berbagai usia. Di Sulawesi Utara, kata Stave, ada sekitar 50 grup Kolintang. Ada yang dimainkan anak SD, SMP, SMU serta orang tua.

Ratusan nada lagu mereka hafal, sebagai bank musik grup ini. Setiap tampil, lagu yang dihadirkan menyesuaikan dengan segmen acara atau penonton. Namun, mereka paling sering memainkan lagu instrumen, sebagaimana juga lagu barat, nasional, pop dan dangdut.

Stave serius memainkan Kolintang sejak 2008.  Lalu ia membuat grup musik pada 2012.

“Saya yang melatih dan memproduksi alatnya sendiri. Saya ingin regenerasi, karena dulu saya lihat yang memainkan musik ini orang tua-tua," kata Stave.

Karena keseriusannya dengan kolintang, sarjana Tehnik Sipil ini pun membuat alat musik kolintang sendiri. Selain digunakan oleh grup sanggarnya, alat musik Kolintang yang mereka produksi pun, dijual. Mereka bahkan pernah menjual alat musik Kolintang ke Moscow dan Amerika. Satu set Kolintang, dijual seharga Rp 40 juta.

Satu set, terdiri dari sembilan hingga 10 alat musik, sesuai standar nasional. Meski jumlahnya segitu, namun jika tampil, tak harus membawa semua lengkap. Bahkan jika alat yang dimainkan hanya hanya 4 sampai 6, suaranya sudah cukup "ribut". “Yang penting sudah mewakili melodinya,” Gitu kata Stave.

Untuk pembuatan Kolintang, kayu kelas dua seperti kayu waru sudah bisa hasilkan bunyi. Tapi, kalau kita mau menilai secara estetikanya, Kolintang yang terbuat dari kayu cempaka akan nampak bewarna putih. Nah, Kolintang yang saya lihat hari itu, terbuat dari kayu cempaka.

Stave kini senang lho melihat perkembangan Kolintang mulai banyak digemari kalangan muda. Padahal, dulunya, pemain kolintang kebanyakan orang tua.

Stave berpesan, walaupun alat musik Kolintang merupakan jenis alat musik tradisional, tapi jangan dilihat dari sudut pandang tradisi terus menerus, karena tradisi itu terkesan seperti murah.

Ia menyarankan, agar Kolintang dilihat sebagai alat musik yang lebih bernilai. Apalagi Kolintang sedang go to UNESCO. Uuunnch....semoga bisa segera dipatenkan dan diresmikan. Biar makin manja alunan Kolintangnya.

Eh, saya jadi pengen deh “pukul-pukul” kolintang, alias main Kolintang. Kata Stave, gampang kok main Kolintang, sama seperti bermain piano. Kalau tingkat dasar, 30 menit belajar sudah bisa bermain Kolintang. Ah yang benar bang? Bisa gak ya akoh? 


Read More

Suaraku Tlah Kembali


Sudah 2 bulan ini saya bisa bersuara lagi, setelah 5 minggu  sang suara “hilang” karena radang pita suara. Penyebabnya? Sedihnya?  Saya tulis di sini.

Di minggu ke-5 itu pun--pada saat itu--meski suara sudah keluar, tapi masih serak-serak becek, dan masih takut juga buat ngomong kenceng atau dengan nada tinggi (kayak penyanyi aja pake nada tinggi), takut pita suara ngambek lagi.

Hasil browsing sana-sini, kalau mengalami radang pita suara lebih dari 4 minggu, itu termasuk kronis. Ini meleset dikit dari perkiraan dokter, yang bilang saya menderita radang pita suara akut.

Ternyata, kalau akut, radangnya hanya kisaran 1-3 mingguan. Nah, diriku, oh... sampe 5 mingguan, ya bearti temasuk kronis.  Gilleeee....Untung bisa pulih lagi.

Untung pula gak nyampe 3 bulan, seperti penyanyi Adelle, atau sepupu teman kantor saya. 5 minggu aja mesti puasa ngomong ya ‘tersiksa’, bijimane kalau sampe 3 bulan. Berapa banyak konser yang harus daku batalkan, eeaaaa...



Untuk pemulihannya, semua pengobatan saya jabani. Mulai dari konsultasi ke dokter dengan obat yang rupa-rupa dan mehong, konsumsi jamu/ tradisional sampai bekam.

Di minggu ke-3 radang, di saat obat dokter sudah satu minggu habis, saya pergi ke tempat bekam (2 Juli 2018) atas saran dari teman. Terapisnya membekam di sekitar titik-titik pita suara, di area leher depan dan belakang. Sakit bro, tapi lebih sakit lagi saat kamu boongin akuh.

Empat hari setelah bekam, terlihat ada kemajuan. Paling tidak, tak separah sebelumnya, namun, saya tetap puasa ngomong, karena radang suara belum pulih benar.

Selain bekam, saya juga rajin mengkonsumsi madu, jamu kunyit asem, dan mengkonsumsi air hangat setiap kali minum. Minum air hangat, baik untuk pemulihan tenggorokan dan radang. Ini anjuran dari dokter dan juga terapis bekam. Ya, saya ikutin dong. Kan mau cepet sembuh. Eh, saya juga menghindari makan yang pedes-pedes, yang dingin-dingin dan gorengan, bisa kumat lagi, selain juga bikin batuk.

Selisih delapan hari dari bekam pertama, saya bekam lagi untuk kedua kalinya (10 Juli 2018).

Seminggu setelah bekam kedua (sekitar 16 Juli 2018), akhirnya beb... suara saya sudah muncul dengan volume besar/ normal namun masih serak. Oh, teringat saa radangnya masih parah dulu,  walau bisa ngomong, volume suara yang dihasilkan kecil, gak bisa besar. Mau dipaksain gede pun, gak akan bisa. Pita suara yang radang seperti ‘memblok’ suara. 

23 Juli 2018, saya sudah bicara ‘beneran’. 



Untuk menyempurnakan kesembuhan, walau sudah bisa bersuara normal, saya tetap bekam ke tempat yang sama. Bekam yang ke-3 kali ini, mengakhiri ‘ritual’ pengobatan radang pita suara saya. Alhamdullilah.

Kalau ditanya, apakah saya sembuh karena bekam? Atau memang sudah saatnya saya sembuh? Ya, bisa jadi faktor keduanya.

Namuuunn, pasca suara sudah pulih, ada yang tersisa beb. Saya merasa pita suara saya ‘lecet” akibat radang tersebut. Saat bicara dengan nada kencang misalnya (bukan karena lagi marah ya) seraknya keluar. Dan saat ngomong terlalu banyak, suara terasa mandek atau capek. Ini tak pernah terjadi sebelumnya.  Selain itu, saat bangun tidur, seraknya juga lebih parah, daripada sebelum saya menderita radang.

Yah, begitulah.

Tapi saya bersyukur sekarang sudah bisa ngobrol lagi sama keluarga dan teman-teman. Semoga Anda tak mengalami apa yang saya alami, gak enak, beb. Menjaga makanan dan minuman yang kita konsumsi, memang penting. Karena kesalahan itu, saya mengalami ini...oh....

  

Read More