Oh, Pita Suaraku



Saat ini suara saya hilang. Kalaupun keluar, parau terdengar. 

Itu karena saya mengalami radang pita suara. Hikss.. 
Jangan ditanya sediihnya.

Meski tak perih, tapi sedihnya sampai ke ulu hati, untunglah masih bisa curhat lewat tulisan.... Eaaa....




Ya emang begitu. Hanya gara-gara menenggak sebotol minuman kemasan teh bersoda yang rada sedikit dingin, maka merusak aset berhargaku, hingga saat ini. Sudah 3 minggu sis bro. Ya Alloh. Daku kalau ngomong sama teman, meski pakai kertas, atau ngomong berbisik-bisik.

“Kamu menderita laringitis akut. Untung gak bengkak (tenggorokan), kalau bengkak, itu akan berpengaruh pada pernafasan” ujar Dokter THT yang praktik di salah satu rumah sakit yang ada di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur. Ini adalah dokter pertama yang saya datangi, saat baru dua hari suara hilang.

“Gak boleh ngomong dong seminggu ya,” ujarnya lagi.

Ketika dokter bilang begitu, saya kira itu hanya saran dia agar saya istirahat ngomong saja. Tak mengira bahwa beneran saya gak bisa ngomong hingga berminggu lamanya.

Saya kira pula, dengan meminum obat yang diresepkannya, radang pita suara akan pulih dalam beberapa hari saja, dan saya pun bisa ngomong normal dan manja lagi. Ternyata, ini tak main-main sodara-sodara.

Lebih ngenes lagi, suara hilang jelang dua hari lebaran. Oh... Kebayangkan, di saat lebaran, niatnya mau kumpul bersama keluarga, ealah, saya malah kudu ngerem suara. Saya gak bisa bercengkrama banyak, gak bisa ngomelin dan becandaan sama  ponakan, dan lain-lain. Hhhh...

Seminggu berlalu. Tak juga keluar suara ini. Panik mulai menyerang. Mengingat beberapa hari lagi masa cuti lebaran saya habis, kudu masuk kerja. Gak lucu dong, kerja gak bisa ngomong sama rekan-rekan di kantor. Di situ kadang saya merasa gak syantik.

Saya ke dokter THT lagi. Kali ini dokter yang ada di kampung halaman saya. Karena saya tengah berada di kampung, untuk berlebaran.

Dokter yang kedua ini mengatakan, saya tak boleh berbicara selama dua minggu. WHAT? Lebih lama lagi anjurannya dari dokter yang pertama, yang cuma bilang seminggu.

“Gak boleh ngomong, bukan hanya untuk pemulihan, tapi juga terapi. Kalau dipaksakan ngomong, pita suara akan menebal. Sembuh sih sembuh, tapi suara kamu akan jadi seperti Renny Djayusman atau Ikang fauzi. Mau kamu?“ jelas Dokter THT yang kedua.  


Saya turutin saran pak dokter. Lagipula, meski bersuara atau bicara, akan menyusahkan saya dan menyusahkan yang mendengar, hahahha. Wong suara parau ala-ala yang keluar, terputus putus pula. Hmmmm....


By the way, apakah gak boleh ngomong atau puasa bicara jaminan akan sembuh? Entahlah? Sudah tiga minggu ini, radang pita suara belum nampak membaik. Padahal sudah diberi obat yang mahal, ngomong hanya yang penting-penting saja.

Tersiksa rasanya sodara-sodara.

Waktu lagi meeting di kantor, misalnya, saya gak bisa menjelaskan tentang sesuatu hal yang harusnya saya jelaskan, karena berkaitan dengan tugas saya. Atau, ada omongan teman yang pengen saya sela, karena merasa gak cocok atau ingin diluruskan, tapi gak bisa. Ya Tuhan. Jadwal konser 3 negara pun harus dibatalkan, hahahha

Hanya dengan Babang ojek online saya ngomong. Ya mau gak mau. Karena abang ojeknya kan tanya sesuatu, gak mungkin saya jawab pake bahasa isyarat. Belum lagi kalau dia nelpon, kan kudu dijawab. Kan dia juga gak tahu kalau saya gak boleh ngomong. Mau dijelasin juga, itu malah bikin saya susah sendiri, hehehe.

Kini, ketika obat dokter telah habis, sengaja diri ini tak ke dokter lagi, karena saya tahu, kalau saya konsul,  ujung-ujungnya disarankan gak boleh ngomong. Obat, tak terlalu membantu.

Browsing sana sini soal radang pita suara pun saya lakukan. Penyanyi Adele dan Megnan Trainor, rupanya pernah mengalaminya. Ternyata, memang lama penyembuhannya, karena ini menyangkut pita suara. Ada yang 3 minggu, 6 minggu, ada pula yang 3 bulan baru sembuh. Duh!  

Beda kalau radang tenggorakan doang, cepet sembuhnya. Saya pernah mengalami radang tenggorakan dan suara pun jadi parau persis sama seperti yang saya alami saat ini. Tapi, cuma 3-4 hari saja, sembuh sendiri. Cuma butuh istirahat saja.

Nah, radang pita suara, tentu lebih serius dan berbahaya. Bagi yang gak ngerti dengan kondisi saya, seperti si ibu penjual nasi uduk atau si mbak toko kelontong yang saya beli dagangannya, akan bilang “minum air asem, minum jeruk nipis sama kecap manis, minum obat ini dan itu....”

Tak semudah itu, beb. 

Kalau batuk dan radang tenggorakan, iya, itu tentu bisa. Ini beda. Saya sudah minum obat dari dokter yang harganya mahal, tak jua sembuh, apalagi obat biasa.


Untuk obat herbal, saya hanya mengkonsumsi madu dan air perasan lemon. Sampe saya borong dua botol madu sekaligus. Itu juga, sampai saat ini tak membantu. Meski begitu, saya tetap berharap dan sabar, mengingat manfaat madu yang luar biasa. Walau saat ini madu belum menyembuhkan radang pita suara saya, paling tidak, madu berguna untuk kesehatan lainnya.

Hari ini, seorang teman mengirimkan pesan kepada saya melalui WA, menawarkan pengobatan alternatif. BEKAM! Yes,  tawaran yang tak terpikirkan oleh saya. Akan saya coba, namanya juga usaha. Alamat dan kontak personnya saya sudah ada pada saya. Sore ini akan saya kunjungi. Doakan, semoga ada kemajuan.

Kisah BEKAM dan akhirnya saya sembuh, saya tuangkan di sini.

6 comments :

  1. Alhamdulillah. Sudah lama saya ndak mampir di blognya mba Eka ini heiiehieie. Minal Aidin wal faidzin. Maaf lahir batin, Waaa telat saya ini. Wah wah baru datang sudah disuguhi berita Suranya serak ya mba. Sudah ke dokter?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mas Asep, lama kita tak bersua di dunia maya yang uhuy ini, hehehe.. Apa kabar? Doakan smg suaraku segera membaik :))

      Delete
  2. Replies
    1. terima kasih Mas Ersa, sudah baikan aku sekarang, baru seminggu lalu. Tapi masih serak sih, belum 100 persen pulih,masih blum boleh ngomong banyak. tapi Alhadmullilah suara sudah keluar :))

      Delete
  3. mbak Eka,
    pa kabar??
    semoga sehat terus yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mbak Ninik, aku sekarang sdh sehat. Piye kabarmu? :))

      Delete

Hai teman-teman...

Silahkan tinggalkan komentar yang baik dan membangun ya....Karena yang baik itu, enak dibaca dan meresap dihati. Okeh..?