Oh, Pita Suaraku



Saat ini suara saya hilang. Kalaupun keluar, parau terdengar. 

Itu karena saya mengalami radang pita suara. Hikss.. 
Jangan ditanya sediihnya.

Meski tak perih, tapi sedihnya sampai ke ulu hati, untunglah masih bisa curhat lewat tulisan.... Eaaa....




Ya emang begitu. Hanya gara-gara menenggak sebotol minuman kemasan teh bersoda yang rada sedikit dingin, maka merusak aset berhargaku, hingga saat ini. Sudah 3 minggu sis bro. Ya Alloh. Daku kalau ngomong sama teman, meski pakai kertas, atau ngomong berbisik-bisik.

“Kamu menderita laringitis akut. Untung gak bengkak (tenggorokan), kalau bengkak, itu akan berpengaruh pada pernafasan” ujar Dokter THT yang praktik di salah satu rumah sakit yang ada di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur. Ini adalah dokter pertama yang saya datangi, saat baru dua hari suara hilang.

“Gak boleh ngomong dong seminggu ya,” ujarnya lagi.

Ketika dokter bilang begitu, saya kira itu hanya saran dia agar saya istirahat ngomong saja. Tak mengira bahwa beneran saya gak bisa ngomong hingga berminggu lamanya.

Saya kira pula, dengan meminum obat yang diresepkannya, radang pita suara akan pulih dalam beberapa hari saja, dan saya pun bisa ngomong normal dan manja lagi. Ternyata, ini tak main-main sodara-sodara.

Lebih ngenes lagi, suara hilang jelang dua hari lebaran. Oh... Kebayangkan, di saat lebaran, niatnya mau kumpul bersama keluarga, ealah, saya malah kudu ngerem suara. Saya gak bisa bercengkrama banyak, gak bisa ngomelin dan becandaan sama  ponakan, dan lain-lain. Hhhh...

Seminggu berlalu. Tak juga keluar suara ini. Panik mulai menyerang. Mengingat beberapa hari lagi masa cuti lebaran saya habis, kudu masuk kerja. Gak lucu dong, kerja gak bisa ngomong sama rekan-rekan di kantor. Di situ kadang saya merasa gak syantik.

Saya ke dokter THT lagi. Kali ini dokter yang ada di kampung halaman saya. Karena saya tengah berada di kampung, untuk berlebaran.

Dokter yang kedua ini mengatakan, saya tak boleh berbicara selama dua minggu. WHAT? Lebih lama lagi anjurannya dari dokter yang pertama, yang cuma bilang seminggu.

“Gak boleh ngomong, bukan hanya untuk pemulihan, tapi juga terapi. Kalau dipaksakan ngomong, pita suara akan menebal. Sembuh sih sembuh, tapi suara kamu akan jadi seperti Renny Djayusman atau Ikang fauzi. Mau kamu?“ jelas Dokter THT yang kedua.  


Saya turutin saran pak dokter. Lagipula, meski bersuara atau bicara, akan menyusahkan saya dan menyusahkan yang mendengar, hahahha. Wong suara parau ala-ala yang keluar, terputus putus pula. Hmmmm....


By the way, apakah gak boleh ngomong atau puasa bicara jaminan akan sembuh? Entahlah? Sudah tiga minggu ini, radang pita suara belum nampak membaik. Padahal sudah diberi obat yang mahal, ngomong hanya yang penting-penting saja.

Tersiksa rasanya sodara-sodara.

Waktu lagi meeting di kantor, misalnya, saya gak bisa menjelaskan tentang sesuatu hal yang harusnya saya jelaskan, karena berkaitan dengan tugas saya. Atau, ada omongan teman yang pengen saya sela, karena merasa gak cocok atau ingin diluruskan, tapi gak bisa. Ya Tuhan. Jadwal konser 3 negara pun harus dibatalkan, hahahha

Hanya dengan Babang ojek online saya ngomong. Ya mau gak mau. Karena abang ojeknya kan tanya sesuatu, gak mungkin saya jawab pake bahasa isyarat. Belum lagi kalau dia nelpon, kan kudu dijawab. Kan dia juga gak tahu kalau saya gak boleh ngomong. Mau dijelasin juga, itu malah bikin saya susah sendiri, hehehe.

Kini, ketika obat dokter telah habis, sengaja diri ini tak ke dokter lagi, karena saya tahu, kalau saya konsul,  ujung-ujungnya disarankan gak boleh ngomong. Obat, tak terlalu membantu.

Browsing sana sini soal radang pita suara pun saya lakukan. Penyanyi Adele dan Megnan Trainor, rupanya pernah mengalaminya. Ternyata, memang lama penyembuhannya, karena ini menyangkut pita suara. Ada yang 3 minggu, 6 minggu, ada pula yang 3 bulan baru sembuh. Duh!  
Beda kalau radang tenggorakan doang, cepet sembuhnya. Saya pernah mengalami radang tenggorakan dan suara pun jadi parau persis sama seperti yang saya alami saat ini. Tapi, cuma 3-4 hari saja, sembuh sendiri. Cuma butuh istirahat saja.

Nah, radang pita suara, tentu lebih serius dan berbahaya. Bagi yang gak ngerti dengan kondisi saya, seperti si ibu penjual nasi uduk atau si mbak toko kelontong yang saya beli dagangannya, akan bilang “minum air asem, minum jeruk nipis sama kecap manis, minum obat ini dan itu....”

Tak semudah itu, beb. 

Kalau batuk dan radang tenggorakan, iya, itu tentu bisa. Ini beda. Saya sudah minum obat dari dokter yang harganya mahal, tak jua sembuh, apalagi obat biasa.


Untuk obat herbal, saya hanya mengkonsumsi madu dan air perasan lemon. Sampe saya borong dua botol madu sekaligus. Itu juga, sampai saat ini tak membantu. Meski begitu, saya tetap berharap dan sabar, mengingat manfaat madu yang luar biasa. Walau saat ini madu belum menyembuhkan radang pita suara saya, paling tidak, madu berguna untuk kesehatan lainnya.

Hari ini, seorang teman mengirimkan pesan kepada saya melalui WA, menawarkan pengobatan alternatif. BEKAM! Yes,  tawaran yang tak terpikirkan oleh saya. Akan saya coba, namanya juga usaha. Alamat dan kontak personnya saya sudah ada pada saya. Sore ini akan saya kunjungi.

Kisah BEKAM ini, mudah-mudahan bisa saya ulas di tulisan selanjutnya. Doakan, semoga ada kemajuan.

Read More

Jalan-Jalan ke Museum MACAN


Hai-hai, suka jelong-jelong ke museum gak? Suka Seni Rupa jugakah kamyuh? Nah, kalau suka dua-duanya, cocok bingit deh kalau main ke Museum MACAN. 

MACAN, Bukan singkatan dari MANja dan CANtik, ya, bro (Itu sih akoh :D).

Bukan pula isinya macan semua, Hahahha. Kalau mas bro dan mbak sis mengira isinya macan, toss dululah sama dakuh. Karena, pertama kali mendengar nama museum macan, saya pikir bakal melihat macan-macan dari zaman nenek moyang yang diawetkan. Atau paling gak melihat kulit-kulit macan yang dibentangkan dan ditempel di dinding dengan manja, gitu, hehehe.


 Tapi, MACAN adalah singkatan: 
Modern And Contemporary Art in Nusantara


Saya main ke sana bersama rombongan,beberapa waktu lalu, karena ada suatu acara. Saat rombongan kami memasuki area museum, Communication Officer Museum MACAN, Nina Hidayat langsung mengarahkan kami dengan satu lukisan yang menggambarkan sosok pria muda dengan pakaian ala-ala bangsawan jadul.

Communication Officer Museum MACAN, Nina Hidayat

Kata Nina, lukisan itu potret diri Raden Saleh. Pernah mendengar nama ini? Beliau adalah pelukis Indonesia yang mempionirkan seni modern Indonesia. Dan doi sendiri yang melukis dirinya, atau istilahnya my art. 

 “Selama ini ada beberapa lukisan atau nama seniman yang kita cuma tahu atau dengar dari buku sejarah, misalnya Raden Saleh. Nah, di museum ini bisa langsung melihat wajah Raden Saleh” kata Nina.

Lukisan Raden Saleh
Nina saat menjelaskan soal lukisan Raden Saleh
Pengunjung


Ada sekitar 9 karya seni rupa modern Indonesia, dan juga dari seluruh dunia yang dipajangkan di museum ini lho.

Masuk lebih ke dalam lagi, saya melihat ada ragam lukisan seni kontemporer dan modern di pajangkan di sana. Gedungnya luas, lukisan dan instalasi tertata rapi. Ada yang dilukis di atas canvas, ada pula di atas kertas. Dan kertas tersebut sudah usang dimakan waktu, terlihat ada beberapa bagian kertas yang sudah robek. 


Lukisan di atas kertas

Museum MACAN adalah museum pertama di Indonesia yang punya koleksi seni modern dan kontemporer berstandar internasional. Bisa dibilang, museum ini surganya kamu, #eh, surganya seni rupa. Ada 90 karya dari 70 seniman berbagai negara.

Museum ini dibuka sejak November 2017. Gak cuma majangin lukisan lho, tapi juga menampilkan gaya kontemporer patung dan seni instalasi.



Oom security yang menjaga tempat ini, sempat bilang, kalau total nilai lukisan yang ada didalamnya, berkisar Rp 7 Trilliun.

Wajarlah ya, karena museum ini berstandar internasional. Tempatnya luas, elit, bangunannya juga keren, begitupun dengan interiornya. 




Museum yang berlokasi di Kebon Jeruk, Jakarta Barat ini, bisa banget lho jadi alternatif sarana edukasi buat anak sekolah, seniman muda, dan para penikmat seni. Anda Mau ke sini? Tiket masuknya Rp 50 ribu dari Selasa hingga Minggu. Berhubung waktu itu saya ke sana karena diundang untuk sebuah acara, jadi gratis dong masuknya, hehehe (gak ada yang nanya).

Yang belum sempat main ke Museum Macan, bolehlah nikmati dulu gambar-gambar yang ada di blog ini :))


Read More

Sarongge dan Saung Sarongge yang Ngangenin



Datang lagi ke Sarongge, Sabtu tadi. Cuaca alamnya masih sama seperti dua tahun lalu.  Dingiiiin. Kalau gak pakai jaket, bisa menggigil syantik. Kebun-kebun beraneka sayur, masih memanjakan mata, menyambut setiap tamu yang datang ke sini. Kebun tehnya juga masih terhampar menggemaskan. Jalan yang menanjak, lalu menukik tajam, menjadi ciri khasnya. Maklumlah, ini daerah pegunungan, jadi kontur jalanannya yang memang begitu.

Pertama kali singgah di kawasan yang ada di Cianjur ini sekitar 8 tahun lalu,  dengan teman-teman kantor, ya acara kantor, holiday gitu ceritanya, sekalian mengakrabkan diri satu sama lain. Siapa tahu di kantor jarang bersua bareng, sibuk ngopi sendiri, eaaaa....

Kedua kali, masih dengan teman kantor, dibiayai kantor, sekitar dua tahun lalu. Kali ketiga pun, tetap dengan teman-teman kantor di kantor yang sama. Kali ini kami holiday mandiri, jadi pakai dana pribadi dan personilnya banyak yang baru. Kami sengaja meluangkan waktu untuk menikmati alam indah nan sejuk, karena bertahun-tahun ‘terkungkung’ di hutan beton Jakarta dan menghisap debu-debu jahat, yang ngaruh banget buat kesehatan. 


Kolam depan saung
Ada Saung Sarongge, yang menjadi tempat persinggahan kami. Besar lho saungnya dan posisinya persis berhadapan dengan lekukan Gunung Geulis, hamparan kebun dan suasana perkampungan. Jadi asupan gizi indah bagi mata ini. Melihat anak-anak bermain di kolam kecil yang ada di depan saung pun, jadi pemandangan langka. Maka itu mas bro, duduk di teras saung, sambil menyeruput kopi atau teh panas, wajib dilakukan sebelum berleha-leha masuk saung. 


Nyantai dulu bro :)))
Mau merenung juga boleh :D
Andai tak ada saung ini, gak tahu tuh ya kita bakal nginep dimana. Ada sih beberapa homestay dan tempat penginapan yang bagus, dari beton pula, area camping ground juga ada, tapi rasanya gak seenak dan senyaman kalau berada di saung, hehehhe. Kamar mandinya juga bagus dan luas, lega deh. Gak sempit kayak di hotel bintang-bintang manja. 

Suasana Saung Sarongge


Kamarnya banyak, ada sekitar 10 kamar kali ya, dengan beraneka ukuran dipan/ tempat tidur. Satu kamar ada yang berisi 3 dipan ukuran satu orang. Kamar lain, ada yang ukuran dipan untuk dua orang dan satu orang, macam-macam deh, tergantung selera dan kebutuhan. Kamarnya juga sudah dilengkapi dengan selimut dan bantal. Bersih lho kamarnya, seprei dan selimut pun wangi, karena diurus.

Ibu-ibu setempat yang mengurus dan mengelola saung ini, termasuk mengurus setiap tamu yang berwisata di tempat ini. Mereka memasakkan kami makanan, minuman, dan mengurus ini dan itu jika kami ada keperluan. Saat kami baru tiba saja, mereka sudah menyediakan teh hangat dan makanan beserta lauk pauknya. Sambalnya yang maknyus dan hidangan lalapan, selalu ada di sini. 


Nah, ini trio ibu yang mengurusi kami, Ibu Wiwik, dkk.
Sekitar 3 jam berada di saung, kami jalan-jalan menuju pabrik kopi “Negri Kopi”, milik Pak Santoso, teman kantor kami. Kopi yang dihasilkan tentu saja ya kopi Sarongge yang kebunnya diolah oleh warga setempat, diproduksi juga di sana. 

Ngobrol dulu dikit sebelum jalan-jalan
Nah, saat menuju ke tempat ini, jalannya menukik, jadi gak ngeberatin badan saya yang bongsor dan seksi ini. Makanya rada sombong pas jalan nurun. Lah, pas pulang, ealalalah, ya kudu nanjak. Eikeh ngos ngosan, capek bingit. Keringat mengucur deras. Biar kata bisa dibilang olahraga, kok daku gak menikmati ya, saking tajamnya tanjakan, hohoho. Tapi ya sudahlah, kapan lagi biasa jalan-jalan kayak gini kalau bukan lagi di daerah Sarongge. Bisa menikmati kebun teh, foto-foto di kebun teh, melihat kebun kol dan daun bawang dari jarak dekat, dll.  
Kebun teh menuju pabrik kopi
Nah, ini gerbangnya pabrik kopi, masuk lagi ke dalam lho..

Oh ya, Pak Santoso inilah yang mengenalkan kami pada Sarongge, sekitar 10 tahun lalu. Beliau ini pegiat lingkungan dan beberapa kali mengajak kami menikmati alam. Pertama kali datang ke sini, kami menginap di area camping ground, di kaki Gunung Gede Pangrango, sekaligus kami adopsi/ tanam pohon di sana. Jangan tanya jalan menanjaknya kayak apa, dobel-dobel capeks. Tapi ya gitulah, ketika sampai di atas, asik. Akrab dengan alam. Kanan kiri hutan/ pepohonan. Tapi, kali ini saya tak ke camping ground, sampai di saungnya saja. Sudah cukup senang kembali bertemu dengan alamnya yang ngangenin. 

Ngobrol di teras pabrik

Pulang dari pabrik, foto-foto manja di tengah kabut
Malam harinya di saung, beberapa teman ada yang ngobrol di teras saung, ditemani angin malam. Kalau daku mah, gak kuat euy, dingin bingit soalnya, jadi ngendon doang dalam kamar/ saung, sambil ngobrol dengan sesama teman yang berada dalam saung juga, hahahha. 

Meski tempat ini begitu dingin, namun udara dan keasrian alamnya menjadi penyeimbang hawa itu. Saat terbangun di pagi hari, misalnya, membuka jendela kamar, mata langsung disuguhkan dengan  hamparan kebun dan lukisan Gunung Gede Pangrango. Kalau di Jakarta, melek mata, udah dijejali dengan asap knalpot dan brisiknya suara kendaraan lalu lalang. 


Nah, ini pemandangan dari jendela kamar

Cuma dua hari satu malam sih kami menginap di sini. Sabtu pagi berangkat, Minggu pagi sudah cabut aja ke Jakarta lagi, karena ada beberapa teman yang masuk kerja jam satu siang. Jadi kudu ngejer pulang pagi. 


Yach, walau jalan-jalannya cuma sebentar, tapi moment menikmati alam dan kebersamaan sama temen-temen kantor, plus “lari” sejenak dari riwehnya ibukota, itu yang paling penting. Menggembirakan jiwa. Yaelah bahasanya. Yang penting happy, gitu deh ya kira-kira, hihihihi.

Nah, sebelum pulang, harus dong ya menikmati sunrise dan foto-foto syantiks. Sampai jumpa lagi Sarongge. 


Foto foto dulu dong ah di saung,  sebelum pulang
Ini fotonya sebelum matahari terbit,
Bye-bye Sarongge
Read More

Sendok

Di kantor saya lagi heboh perkara sendok. Iya, sendok! Jumlahnya lusinan, hampir  menyamai jumlah karyawan kantor. Tapi, sudah satu bulan ini, si sendok telihat semakin sedikit. Satu persatu hilang entah ke mana. Hingga tersisa dua atau tiga. Hilangnya benda ini bikin karyawan kelimpungan, karena fungsinya yang sangat berguna. Untuk makan, menyeduh kopi, membelah cake, dan lain-lain. Kondisi ini membuat teman-teman kantor terpaksa harus bergantian memakai sendok. Siapa cepat, ia dapat, terutama saat jam makan siang. Karena hal ini, sebagian teman ada yang membawa dari rumah dan menyimpannya sendiri, daripada mesti antri pakai sendok.




Berbulan-bulan, misteri lenyapnya sendok belum terjawab. Ada yang menduga hilang tak sengaja, terbuang saat membuang bekas nasi bungkus, atau terbawa tukang bakso saat ia mengambil mangkuk kosong yang sebelumnya dipesan karyawan. Atau… dicolong jin? Hahahha.

Raibnya lusinan sendok ini, terdengar hingga ke pihak bagian umum yang mengurusi soal ini. Mereka pun akhirnya memutuskan agar setiap karyawan membawa sendok masing-masing. Pengumuman itu disampaikan melalui email, per hari di mana sendok tinggal 3 tungkai doang.

“Sisa sendok yang ada di kantor saat ini hanya dikhususkan untuk tamu.” begitu penggalan surat elektronik itu. Semua karyawan “gaduh” setelah membacanya. Tak semua sepakat dengan ide ini. Karena, kehadiran sendok sangat penting dalam urusan sehari-hari termasuk di kantor. Sangat merepotkan jika harus membawa sendiri sendok dari rumah. Dan gak jaminan juga kalau tak bakal hilang. Betul gak sodara-sodari?

Tak tahan dengan hal ini, salah satu karyawan bagian keuangan, Novi, akhirnya membeli sendok satu lusin untuk kantor dengan kocek pribadinya. Di wadah sendok, ia tempelkan kertas dan dituliskan “Sendok Karyawan”. Entah ini sebagai bentuk protes atau kekesalan karena disuruh bawa sendiri sendok masing-masing.
 
Hilangnya sendok dan email dari bagian umum terkati hal ini, jadi obrolan satu kantor. Saat jam makan siang di pantry, beberapa karyawan pun ngerumpiin sendok dengan ceritanya masing-masing.

“Kalau di kantor suami saya, sendok memang harus bawa masing-masing, berikut wadah makanannya. Memang gak disediain sendok di kantornya,” cerita mbak Niti, salah satu tim sales.

Sekretaris Direksi, Lili, bercerita saat acara kumpul keluarga, setiap kali mencuci piring, jumlah sendok selalu dihitung oleh ibunya. “Jika ada yang hilang, Ibu saya akan teriak, ini kok jumlah sendoknya kurang. Setelah dicari, eh, gak tahunya sendoknya ada di bawah kursi atau nyelip di bawah tikar,” kata Lili tertawa.

Sementara, karyawan lain, Wydia, nyeletuk “Betul, jangankan di kantor yang ramai orangnya, di rumah tangga saja sendok sering hilang. Jadi maklum saja kalau sendok di kantor lama-kelamaan tinggal sedikit,” ujarnya sambil menyantap makan siang.


Gak ada sendok= repot

Perbincangan sendok, tak terhenti di area kantor saja. Di grup WA yang beranggotakan karyawan kantor pun, masih lanjut ngobrolin sendok saat jam kerja usai. Ada yang dibawa ke humor, ada yang kesal kebijakan bagian umum, ada yang nyinyir dan sebagainya.

Hmmm, soal sendok yang lenyap entah kemana ini, saya pun mengalaminya sendiri. 10 tahun menjadi anak kos, sudah 3 lusin saya membeli sendok, yang tersisa kini hanya 5 saja. Entah kemana lusinan lainnya. Pernah, terlihat salah satu teman kos, Wina, mengambil sendok kotor saya yang ada di wastafel. Ia cuci, lantas digunakan. Ya maklum, mungkin ia juga tak ada sendok. Namun, setelah itu ia tak mengembalikannya lagi kepada saya. Lalu wassalam.

Ada pula teman kos lain yang lain, Susi, saat ia mencuci piring, sendok-sendok anak kos yang kotor ia cuci semua. Lalu, semuanya ia taruh di kamarnya. Jadi anak kos lain pada hilang sendok,  mereka gak tahu, kalau sendok-sendoknya ditaruh di kamar Susi. Walau tak bermaksud mencuri, seharusnya, Susi mengambil sendok yang hanya miliknya saja. Toh, ia bisa menghitung berapa sendok yang ia punya.

Ulah Susi ketahuan saat ada teman kos, Ijah, yang main ke kamarnya dan melihat banyak sendok nangkring. “Pantesan sendok gue selama ini hilang. Rupanya ada di kamar Susi semua. Kan gue tahu kalau itu sendok gue atau bukan” ujar Ijah bercerita kepada saya sambil menggerutu.

Ah, pantesan ada ungkapan guyonan yang sering muncul “Eh, kamu minggat dari rumah, gak bawa sendok, kan? Ntar ibumu repot nyari sendoknya lho,” hehehe. Ternyata, guyonan ini benar adanya, sendok hilang, bikin pusing orang.

Read More

Jus Alpukat dan Pesawat


"Mau minum apa mbak, Jus orange atau jus berry...?" Seorang perempuan muda tinggi semampai menawari saya minuman dengan ramah ketika sedang dalam perjalanan udara.

"Saya mau jus alpukat, mbak!" jawab saya pede dan mantap.
"Oh, gak ada mbak jus alpukat. Atau, mbak mau susu?” Jawab wanita berseragam biru itu sambil menatap saya heran, mungkin menahan tawa juga, ya..hahaha. 

Tapi, meski permintaan saya konyol, ia masih berdiri disamping kursi saya, masih memegang tatakan cangkir dan minuman kotak ukuran besar. Wanita berusia sekitar 24 tahun itupun, masih bersabar menunggu pilihan minuman apa yang akan saya pinta,  setelah jus alpukat dinyatakan tidak tersedia.. :D

Setelah mikir sebentar dan rada malu dikit, sambil memegang roti isi daging yang sudah saya terima sebelumnya dari si mbak pramugari, saya menentukan pilihan.

"Ya, sudah, kalau begitu, jus orange aja mbak”, ( akhirnyaaaaa…  :D)

Minuman berwarna kuning itupun, segera dituangkan ke dalam gelas dan diberikan kepada saya.

Kakak perempuan saya, yang duduk disebelah saya langsung mencuil lengan saya, setelah sang pramugari meninggalkan jejeran kursi kami. “Kamu ada-ada saja sih, mana ada di pesawat jus alpukat, gimana mereka mau ngeblendernya?”

Hahahha, saya langsung nyengir. Iya, ya, mana ada di pesawat nyediain jus alpukat, emangnya food court, yang segala macam makanan dan minuman tersedia, hihihi…

Sebelumnya, waktu mencari tempat duduk, saya minta diarahkan oleh mbak Pramugarinya, kira-kira nomor kursi saya ada dimana, ya? Kalau gak salah, waktu itu, saya bersama kakak mendapat jejeran kursi nomor 12-an deh. 

Begitu tau posisi saya persis di samping jendela, ah, rasanya seneng bingittss. Yes! Saya bisa leluasa melihat pemandangan alam dari samping jendela. Tapi, ketika pesawatnya hendak take off dari landasan pacu, kan kecepatannya kencang bingit bro, serasa jantung saya ikutan berlari juga, adrenalinpun berpacu kencang. Deg-degan manja deh.

Pas pesawatnya udah separuh naik, ngeliat kebawah takut......takut jatuh. Namun, rasa itu pudar (kayak lagu Rosa) ketika si burung terbang yang akan membawa saya ke Jakarta kala itu, sudah berada di ketinggian normal. 

Saya bisa melihat pemandangan indah dari atas. Kata orang, kalau melihat mobil di jalanan dari atas pesawat, kayak melihat semut, lo. Eh, bener saja. itu mobil kayak semut yang lagi lari-lari berebut mangsa. Rumah-rumah kayak kotak-kotak, dan jalanan atau sungai, kayak uler.. Duh senangnya. Maklum, baru pertama kali naik pesawat, masih norakss, hahahaha..


Itulah cerita kekonyolan saya ketika baru pertama kali naik pesawat yang mengantarkan saya menuju Jakarta, sekitar 12 tahun lalu. Yup, moment pertama kalinya terbang bersama burung besi, selalu terus saya ingat. Bagaimana ketika laju pesawat begitu kencangnya saat hendak lepas landas meninggalkan daratan, bagaimana rasanya melihat pemandangan darat dari atas langit, hingga akhirnya pesawat menghentakkan rodanya ke landasan dengan manja, penanda bahwa kami telah sampai ke kota tujuan, termasuk kisah konyol “jus alpukat” yang rasanya bikin saya jadi langsung nyari blender, trus belanja alpukat sekarung. 


Siap-siap mau terbang manjah :D

Btw, bisa terbang ke suatu tempat bersama burung besi itu, adalah salah satu impian saya sejak zaman SMU dan kuliah.  Kala itu, kalau melihat pesawat melintas di atas atap rumah, berharap dalam hati, “Kapan ya saya bisa naik pesawat?”  Alhamdullilah, kesampean mas bro.

Kalau Anda, apa hal norak, lucu, kaget atau takjub, saat pertama kali naik pesawat? Hayo apa hayo...?
Read More

Nasi, Lauk, Jangan Mubazir, dong!

Saya paling sebal melihat orang yang sering tidak menghabiskan nasi. Kadang disisain sesendok di pinggir piringnya, malah ada yang cuma menyantap setengah piring saja. Trus, yang setengah itu, ya dibuang, dengan alasan sudah kenyang atau apalah. Mbok ya, kalau merasa perut sudah agak penuhan, ngambil nasinya sedikit-dikit aja toh, biar gak kebuang.

Ada lagi yang beralasan, lauk dalam piringnya udah habis, jadi gak ada rasa atau gak enak kalau makan nasinya doang. Alhasil, nasinya ditinggalin begitu saja. Kasihan atuh ngelihat nasinya.


Pun, dengan orang yang suka masak lauk atau nasi berlebihan, sehingga tak semuanya termakan dan jadi basi. Kalau setiap masak selalu dalam porsi yang banyak, sementara yang makan hanya 2 atau 3 orang saja, gimana gak terbuang? Teringat kata-kata Almarhum Uwak saya: ‘Masaklah sesuai dengan jumlah anggota keluarga, supaya gak mubazir”

Banyak sekali orang yang ngirit masak beras, hanya supaya kebutuhan makan mereka sehari-hari tercukupi. Kata teman kuliah saya dulu ”Coba kalau butiran-butiran nasi yang terbuang tadi, dikumpulkan bersamaan dengan orang-orang satu provinsi, yang juga membuang butiran nasinya, sudah berapa banyak nasi yang terkumpul? Dan itu sudah bisa untuk makan beratus-ratus orang?” 


Bukan hanya soal nasi saja yang bikin saya kesal. Melihat orang menumpahkan saos atau sambal yang berlebihan, lantas tak dihabiskan, duh!


Pun, misalnya, saat mengambil lalapan ketika makan di restoran sunda. Ciri khas resto sunda itu, biasanya lalapan ditaruh di tempat khusus dan konsumen diperbolehkan mengambil sebebasnya. Nah, karena bebas, bukan berarti mesti serakah dan gak kira-kira dunk. Sering saya melihat banyak lalap yang tak termakan dan terbuang ketika sang tamu resto sudah meninggalkan tempatnya. 

Restoran Sunda tempat langganan saya itupun, menempel tulisan di dinding, persis di atas tempat wadah besar lalapan dan sambal, bunyinya: “Tolong mengambil lalap dan sambal secukupnya.” 

Nah, karena saya kekeuh dalam hal ini, maka saya selalu bersikap tegas dan cerewet kepada teman terutama keponakan. Keponakan saya nih,  sering tak menghabiskan makanannya. Saya pun akhirnya ngedumel. Waktu kecil dulu, mereka kadang takut dengan omelan saya, setelah diomelin, barulah dihabiskan makanannya, hahaha....

Karena galak, saya pun disebut tante cerewet oleh keponakan. Ya, gak apa-apa, kan cerewetnya dalam hal yang positif. Iya, toh?

Kalau Anda, suka cerewet dalam hal apa? 



Read More

SEPATU


Saat anak-anak kos sedang berkumpul di sofa ruang tamu, Meli tiba-tiba bercerita tentang sepatu. Meski baru saja pulang kerja, ia semangat sekali menceritakan tentang sepatunya. Bukan sepatu high heels atau mirip wedges. Bukan pula sepatu baru dengan model kekinian.


Ini bukan sepatu yang saya ceritakan di artikel ini ya :D


Sepatu yang ia ceritakan berukuran kecil, yang sepertinya untuk ukuran kaki anak kecil. Sepatu itu ia simpan di dalam kamar kos-nya. Ia lantas menunjukannya kepada kami. Eh, ternyata itu adalah sepatu Meli. Sepatu ketika ia masih kecil. Ia membawa sepatu itu dari kampung untuk diberikan kepada adiknya yang sedang bersekolah di Jakarta.

Sambil menenteng sepatu kecil berwarna putih pias itu, (karena sudah berumur), dengan bangga Meli bercerita kalau sepatunya itu masih bertahan dari ia TK sampai sekarang. Masih awet sampai sekarang. Sepatu itu, secara turun temurun dipakai oleh adik-adiknya. Jadi, tak perlu beli sepatu baru lagi untuk sekolah TK, karena masih ada sepatu yang masih layak digunakan.

Ia menceritakan tentang “sepatu awet” itu sambil tertawa senang. Tampaknya ia bangga, kalau barang ’sejarahnya’ masih bisa bertahan dan tersimpan dengan baik. Adik-adiknya pun tak malu memakai ’sepatu bekasan’ sang kakak.

Saya terpaku mendengar celotehnya. Lalu, tiba-tiba teringat dengan tumpukan sepatu / sandal high hells yang ada dalam kamas kos saya. Benda-benda itu masih berada dalam kotaknya, jarang saya pakai. Lalu.....




Read More