Cerita Kos-Kosan: Kamar Atau Gudang?

“Mahluk halus itu suka kali ngetem di kamar yang sumpek, berantakan dan penuh. Jadi si penghuni kamar, bisa saja diganggu melalui mimpi atau hal-hal yang tak kita sadari.” Begitu kata Fany, salah satu teman kos saya. Ia melontarkan hal itu, karena kami sedang membahas soal mahluk halus. Pernyataannya sekaligus mengomentari soal mimpi yang saya alami beberapa hari lalu. 

Dalam mimpi itu, lantai kamar saya seperti di gedor-gedor oleh orang dari bawah. Mimpi itu seperti nyata. Saya sampai takut. Mungkinkah itu pertanda saya 'diganggu” oleh mahluk halus?

“Makanya mbak, coba deh, kalau ada barang-barang yang tak terpakai di kamar, mending dibuang atau dikasih ke orang lain saja. Daripada kamar mbak jadi penuh dan berantakan” Kata Vindy, ikut nyeletuk.

Anjuran itu ditujukan kepada saya. Kaget saya mendengarnya. Vindy, yang kamar kosnya bersebelahan dengan saya, menyampaikan hal ini disela-sela obrolan kami. Mungkinkah cerita tadi memicu Vindy menyuruh saya membereskan kamar? Tapi, seingat saya, ia belum pernah masuk ke kamar saya, walau kamar kami bersebelahan. Pintu kamar pun sering saya tutup rapat.

“Emang sih aku belum pernah masuk kamar Mbak Eka, aku cuma nebak-nebak aja,kok ” jawab Vindy lempeng, seolah tahu apa yang saya pikirkan.

“Tapi, saya sih merasa, isi kamar saya barang-barangnya masih berguna semua, kok,” saya menimpali.

“Coba aja diberesin lagi, mbak. Siapa tau nemu barang-barang yang tak terpakai,” Vindy tetap menyarankan saya.

Anjuran Vindy membuat hati saya tergerak. Besoknya, kebetulan hari libur kerja. Jadi, saya bisa mengeksekusi kamar yang tak luas itu. Emang sih, kamar saya rada berantakan dan penuh. Barang-barangnya memang harus ditata.

Saat membereskan kamar,...ulalala...banyak sekali barang-barang tak terpakai. Di samping lemari, ada botol sirup dan botol minuman kaleng/kemasan. Sudah setahun isinya tak dituangkan ke dalam gelas. Posisi botol itu tertutupi oleh rak sepatu dan kantong-kantong kresek yang bergelayutan.

Di sudut kamar, ada tumpukan baju-baju yang tak terpakai. Baju-baju itu, sudah saya taruh di dalam kardus. Harusnya, sudah saya berikan kepada tukang pijit langganan saya. Ada pula sandal usang yang hampir hancur. Talinya putus, kulitnya rontok, walah, kok masih ditaruh rapi di rak sepatu sih. Belum lagi kotak-kotak sepatu/high heel, ikut meramaikan kamar saya, bak toko sepatu. Mengganggu pemandangan.

Bahkan, setelah saya buka kotaknya, ada beberapa high heels yang kondisinya sudah mengelupas, karena kepanasan, dan bertahun tahun tak dipakai.  Bekas botol atau kemasan kosmetik dan parfum pun, ikut mejeng disela-sela meja. Semua barang itu tersimpan, terpendap, teronggok, dan termuseum dengan sendirinya. 

Saya pikir, siapa tahu barang-barang itu bakalan masih berguna atau didaur ulang gitu lho. Misalnya, botol parfum digunakan untuk menaruh pensil/pulpen atau benda-benda lain.  Nyatanya, bertahun-tahun, botol-botol itu tak pernah disentuh. Saya jadi nyengir sendiri, ngapain coba saya membiarkan benda-benda bekas dan  usang itu ngetem di kamar.


“Kok, kamar kamu kayak gudang, ya? Banyak banget barang-barangnya!” begitu salah satu komentar teman kantor, saat pertama kali saya ajak ke kosan. Saya hanya nyengir saja menanggapinya kala itu. Sedikitpun tak tergerak untuk berbenah.

Namun, lama kelamaan saya sadar. Selama ini, ruang tempat saya istirahat, layakkah disebut kamar? Atau lebih pantas disebut gudang? Maklum, sudah 10 tahun ini saya ngekos di Jakarta. Awalnya sih barang saya cuma seuprit, tapi ,seiring berjalannya waktu, kok ya jadi  penuh. Di dukung pula dengan ukuran kamar kos yang tak luas, jadi terlihat seperti gudang.

Kini, barang-barang yang tak layak pakai lagi itu, sudah saya enyahkan. Kini, kamar saya sudah lowong dan rapi. Bernafas pun lega. Walaupun, masih ada beberapa bagian yang menumpuk. Tapi, paling tidak, barang-barang itu terpakai.

Ah, benar juga ya arahan si Vindy. Berawal dari obrolan soal mahluk halus, eh, jadi menyasar ke soal beres-beres. Emang sih, kudu rajin membenahi kamar. Karena, dari  bulan ke bulan, barang-barang di kamar kos akan bertambah banyak, dan akan menjamur  pula  barang-barang yang sudah tak terpakai lagi. Kalau dibiarkan, tentu menganggu kenyamanan dan estetika. Mending, diberikan kepada orang yang membutuhkan, agar tidak mubazir. 

Oh ya, botol-botol minuman kemasan dan botol sirup yang sudah lama ngetem, di kamar, untungnya belum kadaluarsa. Esoknya, saya bawa ke kantor dan ditaruh di meja pantry. Ouw, tak butuh waktu lama, isinya langsung lenyap, tinggal botolnya saja, hahaha. Coba dari dulu saya berbenah, hmmm.....

4 comments :

  1. Hampir sama dengan kamar kostku ini, Teh. Aku juga suka dinasehatin gitu sama sahabatku akan barang-barang yang gak kepakai, tapi sekarang udah lebih bersih dan tertata. Baru kemarin di bersihkan, di cuci karpet2nya juga..he

    Tapi ada beberapa memang barang-barang yang menurut teman-temanku gak kepakai tapi menurutku berarti. Hanya saja lebih ditata peletakannya, jadi gak enak dilihat..he

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyah, kata temanku yang orangnya sangat rapi, agar kamar terlihat slalu rapi, balikin barang ke tempat asalnya. Sederhana, tapi kadang kita teledor, hihihi

      Delete
  2. kalau beres² begini, saya biasanya suka bersin²..

    ide bagus itu, dari pada ada barang yg dibiarkan nganggur, mending di bagikan ke orang lain

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bersinnya manja dan seksi gak mas? hahhaha....

      Aku juga kalau lagi libur kerja atau cuti, kudu disempatin beberes kamar, biar gak kayak gudang, hehehe

      Delete

Hai teman-teman...

Silahkan tinggalkan komentar yang baik dan membangun ya....Karena yang baik itu, enak dibaca dan meresap dihati. Okeh..?