Berutang, Ada Etikanya Juga Lho!


Beberapa waktu lalu rumah kos saya didatangi oleh laki-laki yang mengaku debt collector. Ia mencari seorang wanita yang menurutnya mempunyai utang jutaan rupiah padanya. Hari itu ia menagih, karena yang punya utang sudah telat dari jangka waktu yang ditentukan untuk melunasinya. Menurut pengakuannya, ia sudah berkali-kali mendatangi rumah si wanita yang biasa ia datangi, yang sebut saja namanya si A. Tapi, yang dicari tak ada, bahkan terkesan kabur. Trus, kenapa ia mendatangai kos-kosan saya?


Nah, menurut informasi, si A ini, sering main ke kos-kosan kami, kebetulan teman saya yang juga salah satu penghuni kosan, berteman dengan si A. Namun, teman saya mengaku, saat ini ia tak tahu menahu di mana keberadaan si A.  Untunglah si debt collector yang perawakannya tak terlalu menyeramkan itu, percaya dengan omongan teman saya, tak lama ia pun pamit.
Saya yang mendengar percakapan tadi, gimana gitu loh ya. Udah kayak sinetron deh, pake didatangi sang penagih hutang.

Kabur dari rumah gegara takut ditagih hutang oleh debt collector adalah hal yang konyol, tak bertanggungjawab dan tak tahu etika. Ngutangnya enak, eh..pas mau balikin, susaaaaahh setengah mati. Ujung-ujungnya memilih menghilang, yang dianggap bisa keluar sedikit dari beban tagihan. Padahal, dihari-hari selanjutnya ia akan terus dihinggapi rasa ketakutan dan dibayangi was-was yang berlebihan karena merasa dikejar oleh hutangnya sendiri (tapi ini bagi yang sadar diri sih).
 

Jika dirasa tak mampu penuhi kebutuhan hidup sehari-hari, harus rajin ngerem duit dong, bukan foya-foya, yang berujung menabung hutang dimana-mana.

Apalagi, banyak yang berutang terkadang untuk urusan yang tidak terlalu mendesak. Seperti berutang karena ingin membeli handphone, padahal itu gadget dia udah punya. Ya, cuma kepengen beli yang lebih mahal dan canggih aja, biar bisa sepadan dengan teman-temannya.

Ada lagi yang berutang karena ingin kumpul bersama teman-teman lama di mall. Reunian gitu ceritanya. Acara kumpul-kumpul itu akan dirayakan dengan makan-makan enak diresto yang mahal. Gengsi dong kalau gak punya uang, makanya berutang dulu sebelum berangkat reunian. Jadi berhutang demi gengsi, takut dibilang kere. Tak jarang demi gengsi dan demi keperluan yang tak terlalu mendesak itu, berutang sampai jutaan rupiah.

Kalau memang harus berutang, ya berutanglah secukupnya. Gak perlu sampai ber jut..jut..., kalau cuma untuk urusan foya-foya atau gengsi semata.

Bagi yang sering berutang, tahu gak, berutang ada etikanya, lho. Jika sebelumnya pernah berutang pada orang yang sama, maka jika ingin mengajukan utang lagi, yang kemaren-kemaren harus harus dibayar dulu, baru boleh ngutang lagi. Oke?

Jangan sampai berutang berkali-kali pada orang yang sama, tapi hutang yang dulu belum dibayar sama sekali, malah pura-pura lupa atau berharap orang tempat dia berutang, lupa, kalau dia  belum bayar utang. Itu bikin orang kesal, tempe eh tahu! 


Sepelupa-pelupanya orang, kalau urusan duit, biasanya si pemberi utang tak akan pernah lupa kalau dia pernah minjemin duit ke seseorang dan belum dibayar sama sekali sampai sekarang.  Saya juga termasuk orang yang pelupa. Tapi, saya tak akan pernah lupa dengan orang yang belum bayar utang sama saya, hahahha....

Kalau emang kita belum bisa bayar, mbok ya kita sebagai orang yang berutang harus mengingatkan kepada orang yang telah menghutangi kita, kalau ternyata kita belum bisa melunasi kewajiban sebagaimana yang telah dijanjikan tempo hari, karena sesuatu alasan, misalnya. 

Tak susah rasanya untuk mengucapkan kata-kata seperti: “Maaf lho mbak, aku belum bisa ya bayar pinjaman yang tempo hari, karena uangnya kepake buat biaya anakku masuk sekolah, mudah-mudahn bulan depan bisa saya lunasi”. Enak kan ya kalau ada basi-basi kayak gitu. Si pengutang pun justru akan memaklumi, malah jadi gak enakan. Tapi yang terjadi kebanyakan nih....udah dihutangin, pake pura-pura gak tau kalau dia belum bayar :((( 

Bukankah banyak kejadian orang yang bunuh diri, masuk penjara atau stres gegara utang yang banyak dan tak sanggup membayarnya. Namun, banyak orang tak menjadikan hal tersebut sebagai pelajaran.  

Jadi, jangan coba-coba tuk menjadikan hutang sebagai sebuah kebiasaan apalagi tradisi. Karena, bagi yang terbiasa berutang, terkadang tindakan ini dianggapnya hal yang biasa. Saking biasanya, makanya banyak orang menyingkirkan urat malunya tuk mengemis pinjam duit sana-sani, yang ujung-ujungnya akan memberatkan dirinya sendiri.

Tentu kita gak mau dong jadi bahan omongan tetangga, teman-teman kantor atau komunitas kalau kita sering ngutang tapi gak bayar? 



Saya jadi inget sekitar dua tahun lalu, ada teman kantor, sebut saja namanya R, punya utang bejibun kepada beberapa orang kantor dengan jumlah ratusan ribu per orangnya. Entah untuk keperluan apa yang membuatnya harus berutang pada banyak orang itu? Padahal dia belum berkeluarga alias masih gadis ting ting. Eh, tiba-tiba dia resign, tanpa menyelesaikan urusannya terlebih dahulu. Wuhahahha.. Bisa ditebak dong, semua orang pada sibuk ngomongin dia, terutama yang hutangnya belum dia bayar sama sekali. Tak cuma satu dua orang yang resah, tapi banyak, cuy. Bahkan satpam kantor pun tak luput dari “korban” kehutangannya. Duh....


Tak mau menyerah dengan kondisi hutang-hutang yang belum dibayar, salah satu teman kantor berinisiatif mendatangi satu persatu semua karyawan kantor sambil membawa buku dan pulpen untuk membuat list data.

Ya, masing-masing orang ia tanyai, pernah gak diutangi sama si R yang sudah resign itu? Kalau iya, maka dia akan mencatat nama kita beserta jumlah nominal uangnya. Termasuk saya juga kena korbannya, dan harus rela mengikhlaskan seratus ribu hasil keringat saya, yang entah kapan dia akan mengembalikannya :((


Utang..oh..utang bikin deg-degan, kesal dan galau. Bawaannya jadi bete dan resah, baik bagi si pengutang maupun bagi yang berutang. 

Jika terlalu sering Anda berutang dan tak mampu membayarnya, bahkan kata maaf pun terlalu jauh untuk Anda ucapkan (boro-boro berbasa-basi memberikan pengingat pada orang yang telah menghutangi), maka jangan heran, kalau Anda akan dicap orang sebagai pengutang yang tak pandai memainkan etika, hingga orang tak mau lagi meminjamkan Anda uang! 

Sebenarnya, menurut saya, obat yang mujarab untuk menghindari utang adalah: berhemat, dan wajib pandai mengukur diri. Itu saja. Kalau pendapatan kecil, ya,  bisa diukur dong pengeluaran perbulan kira-kira sanggupnya berapa. Jangan sampai gegara memenuhi hawa nafsu jadi menebar utang dimana- mana. Berutanglah sesuai kebutuhan. Menjadi orang yang bisa berhemat, pandai mengukur diri dan mengukur kebutuhan adalah hal yang paling sexy di dunia ini.  Jangan sampai Anda dicari debt collector atau dikejar-kejar orang karena tagihan yang menumpuk.


Read More

Cerita Kos-Kosan: Kamar Atau Gudang?

“Mahluk halus itu suka kali ngetem di kamar yang sumpek, berantakan dan penuh. Jadi si penghuni kamar, bisa saja diganggu melalui mimpi atau hal-hal yang tak kita sadari.” Begitu kata Fany, salah satu teman kos saya. Ia melontarkan hal itu, karena kami sedang membahas soal mahluk halus. Pernyataannya sekaligus mengomentari soal mimpi yang saya alami beberapa hari lalu. 

Dalam mimpi itu, lantai kamar saya seperti di gedor-gedor oleh orang dari bawah. Mimpi itu seperti nyata. Saya sampai takut. Mungkinkah itu pertanda saya 'diganggu” oleh mahluk halus?

“Makanya mbak, coba deh, kalau ada barang-barang yang tak terpakai di kamar, mending dibuang atau dikasih ke orang lain saja. Daripada kamar mbak jadi penuh dan berantakan” Kata Vindy, ikut nyeletuk.

Anjuran itu ditujukan kepada saya. Kaget saya mendengarnya. Vindy, yang kamar kosnya bersebelahan dengan saya, menyampaikan hal ini disela-sela obrolan kami. Mungkinkah cerita tadi memicu Vindy menyuruh saya membereskan kamar? Tapi, seingat saya, ia belum pernah masuk ke kamar saya, walau kamar kami bersebelahan. Pintu kamar pun sering saya tutup rapat.

“Emang sih aku belum pernah masuk kamar Mbak Eka, aku cuma nebak-nebak aja,kok ” jawab Vindy lempeng, seolah tahu apa yang saya pikirkan.

“Tapi, saya sih merasa, isi kamar saya barang-barangnya masih berguna semua, kok,” saya menimpali.

“Coba aja diberesin lagi, mbak. Siapa tau nemu barang-barang yang tak terpakai,” Vindy tetap menyarankan saya.

Anjuran Vindy membuat hati saya tergerak. Besoknya, kebetulan hari libur kerja. Jadi, saya bisa mengeksekusi kamar yang tak luas itu. Emang sih, kamar saya rada berantakan dan penuh. Barang-barangnya memang harus ditata.

Saat membereskan kamar,...ulalala...banyak sekali barang-barang tak terpakai. Di samping lemari, ada botol sirup dan botol minuman kaleng/kemasan. Sudah setahun isinya tak dituangkan ke dalam gelas. Posisi botol itu tertutupi oleh rak sepatu dan kantong-kantong kresek yang bergelayutan.

Di sudut kamar, ada tumpukan baju-baju yang tak terpakai. Baju-baju itu, sudah saya taruh di dalam kardus. Harusnya, sudah saya berikan kepada tukang pijit langganan saya. Ada pula sandal usang yang hampir hancur. Talinya putus, kulitnya rontok, walah, kok masih ditaruh rapi di rak sepatu sih. Belum lagi kotak-kotak sepatu/high heel, ikut meramaikan kamar saya, bak toko sepatu. Mengganggu pemandangan.

Bahkan, setelah saya buka kotaknya, ada beberapa high heels yang kondisinya sudah mengelupas, karena kepanasan, dan bertahun tahun tak dipakai.  Bekas botol atau kemasan kosmetik dan parfum pun, ikut mejeng disela-sela meja. Semua barang itu tersimpan, terpendap, teronggok, dan termuseum dengan sendirinya. 

Saya pikir, siapa tahu barang-barang itu bakalan masih berguna atau didaur ulang gitu lho. Misalnya, botol parfum digunakan untuk menaruh pensil/pulpen atau benda-benda lain.  Nyatanya, bertahun-tahun, botol-botol itu tak pernah disentuh. Saya jadi nyengir sendiri, ngapain coba saya membiarkan benda-benda bekas dan  usang itu ngetem di kamar.


“Kok, kamar kamu kayak gudang, ya? Banyak banget barang-barangnya!” begitu salah satu komentar teman kantor, saat pertama kali saya ajak ke kosan. Saya hanya nyengir saja menanggapinya kala itu. Sedikitpun tak tergerak untuk berbenah.

Namun, lama kelamaan saya sadar. Selama ini, ruang tempat saya istirahat, layakkah disebut kamar? Atau lebih pantas disebut gudang? Maklum, sudah 10 tahun ini saya ngekos di Jakarta. Awalnya sih barang saya cuma seuprit, tapi ,seiring berjalannya waktu, kok ya jadi  penuh. Di dukung pula dengan ukuran kamar kos yang tak luas, jadi terlihat seperti gudang.

Kini, barang-barang yang tak layak pakai lagi itu, sudah saya enyahkan. Kini, kamar saya sudah lowong dan rapi. Bernafas pun lega. Walaupun, masih ada beberapa bagian yang menumpuk. Tapi, paling tidak, barang-barang itu terpakai.

Ah, benar juga ya arahan si Vindy. Berawal dari obrolan soal mahluk halus, eh, jadi menyasar ke soal beres-beres. Emang sih, kudu rajin membenahi kamar. Karena, dari  bulan ke bulan, barang-barang di kamar kos akan bertambah banyak, dan akan menjamur  pula  barang-barang yang sudah tak terpakai lagi. Kalau dibiarkan, tentu menganggu kenyamanan dan estetika. Mending, diberikan kepada orang yang membutuhkan, agar tidak mubazir. 

Oh ya, botol-botol minuman kemasan dan botol sirup yang sudah lama ngetem, di kamar, untungnya belum kadaluarsa. Esoknya, saya bawa ke kantor dan ditaruh di meja pantry. Ouw, tak butuh waktu lama, isinya langsung lenyap, tinggal botolnya saja, hahaha. Coba dari dulu saya berbenah, hmmm.....
Read More

Cerita Kos-Kosan: Akibat Tak Kenal NAMA Penghuni




“Laksmiiiiiiiiiiiiiiiii..........”

Begitu menggelegar pekikan di minggu pagi itu. Satu kosan kaget mendengar suara yang seperti tengah geram dengan sesorang itu. Sontak, sebagian penghuni kos yang belum beranjak dari mimpi indahnya, terbangun. Suara itu berasal dari salah satu teman satu kos yang biasa kami panggil Susan. Ia memekikkan nama itu, karena ada tamu yang mencari Laksmi di kosan kami. Karena baru bangun tidur dan belum stabil, Susan hilang control, hingga keluarlah lengkingan dahsyat itu. 

 “Waduh, siapa yang berantem pagi ini?” bisik saya dalam hati, sambil memeluk bantal guling.  

Tak lama, terdengar suara langkah kaki yang tertatih. Langkah itu berasal dari lantai atas menuju ke tangga, untuk menghampiri sumber suara.

“Siapa yang mencari saya?“ 

Seorang wanita berambut putih dengan daster biru menapaki anak tangga. Ia menghampiri sumber suara. Umurnya sekitar 60 tahun. Namun ia terlihat masih gagah, meski keriput menghiasi wajahnya. Nenek ini, sudah 5 tahun lebih mondok di kosan kami, bergabung bersama dengan kami yang berumur separuh dari usianya. Keluarganya ada di kampung. Di Jakarta ini, ia mencari nafkah sebagai suster atau merawat orang yang sakit. 

“Hah, kok nenek yang turun?” kata Susan kaget.
“Iya, tadi ada yang manggil nama saya, kan?” Kata si nenek.
“Lho, jadi Laksmi itu nama nenek, toh?”
“Iya”
”Aduh, maaf nek, selama ini aku gak tau kalau nama nenek itu Laksmi.. Maaf ya, nek, ” kata Susan malu.
“Iya, gak apa-apa. Ada apa memanggil saya?,” tanya  si nenek
“Oh, itu ada tamu yang mencari Nenek. Dia masih ada di luar,” jawab Susan.

Ternyata eh ternyata......... Susan tak mengetahui kalau wanita yang paling tua di dalam kos-kosan kami mempunyai nama Laksmi. Padahal, ia sudah setahun satu atap bersama Nek Laksmi. Selama ini, Susan dan anak anak-kosan lain, termasuk saya, hanya memanggil “Nenek’ jika menyapanya.  Bagi kami, sebutan “Nenek” kepada Nek Laksmi, sudah cukup untuk  menghargai beliau. Walhasil, ketika ada seseorang yang mencari Laksmi di kosan, Susan pun bingung. Ia mengira, si empunya nama sebaya dengannya. 

“Kalau gue tau Laksmi itu nama si nenek, gue gak akan selancang itu kali. Gak mungkin gue manggil namanya sekeras itu. Duh, gue jadi gak enak sama si nenek,” ujar Susan saat berkumpul bersama kami di kosan. Anak-anak kos yang mendengar ceritanya di ruang tamu, hanya bisa tertawa sekaligus ya gimana gitu ya, hihihihi. 

Makanan ala anak kos, saat amsak sendiri di kos (biasanya beli mulu di warteg, hahaha)


Ternyata, begitu pentingnya mengetahui nama teman satu kos. Penting, agar lebih akrab. Penting, agar tidak terjadi kesalahpahaman. Penting, agar ketika ada yang mencari seseorang apalagi yang dicari adalah anak baru, kita bisa menunjukkan di mana kamarnya. Dan yang paling penting lagi, agar ketika ada pak pos yang mengantar paket, kita bisa tau siapa nama yang dimaksud oleh si pengirim. 

Gara-gara tak mengenal nama, saya pun hampir saja “menghilangkan” paket salah satu teman kos. Saat itu, kebetulan saya yang menemui pak pos.  

“Ada gak di kosan ini yang namanya Fransiska Rawita?” Tanya pak pos sambil menyodorkan paket kecil yang terbungkus kertas coklat.

“Setahu saya, tak ada yang namanya Fransiska di kosan ini, Pak,” jawab saya sambil mengamati nama yang tertera pada paket .

“Tapi alamat ini bener, kan, mbak?" Pak Pos penasaran sambil mencocokkan plang alamat yang tertera di depan pintu kosan.

“Iya, alamatnya bener pak, tapi gak ada yang punya nama ini ”, saya kembali menegaskan. 

Pak Pos hampir pergi. Tiba-tiba, Shinta, salah satu anak kos yang lain keluar dari dalam kamarnya. Ia menghampiri saya dan pak pos karena mendengar obrolan kami.

“Oh, ini paketnya si Ita, mbak. Fransiska Rawita itu, nama aslinya Ita,” ujar Shinta menjelaskan  sambil membaca nama yang tertera  di paket.

Owalah, kalau si Ita mah, saya tau. Tapi, saya gak tau kalau nama aslinya berbeda dengan nama  yang biasa kami panggil. Du..du..du, andaikan Shinta tak keluar kamarnya, mungkin saja si pak pos telah pergi, dan paketnya entah akan mendarat kemana. Ternyata, tak cukup hanya sekedar mengenal nama panggilan semata, nama asli atau nama lengkap teman kos pun patut diketahui. 

Nama, adalah identitas seseorang. Karena nama juga, kita bisa berteman dan berinteraksi.. Tapi, kalau lupa dengan nama seseorang, atau sama sekali tak tahu, padahal sudah sering bertemu, duh, bisa kaku urusan.

Meski begitu, saya pun, masih suka lupa dan tak tahu nama orang-orang yang ada disekitar. Seperti kemarin, Bu RT  di lingkungan saya kos, menyambangi kosan untuk menemui Nek Laksmi. Saat itu, saya berada di dalam kamar. Iseng, Bu RT mengintip saya dari balik celah pintu yang sedikit  terbuka. Nek Laksmi pun teriak.

“Awas mbak Eka,  diintip mbak Vivi, tuh,”  Canda Nek Laksmi. 

“Siapa  Vivi?” Celetuk saya dengan entengnya.  

“Mbak Vivi itu, Bu RT”, kata Nek Laksmi.

Oh My God, 5 tahun saya ngekos di kampung ini, saya baru tau kalau nama Bu RT adalah Vivi. Padahal, selama ini, jika saya melewati rumahnya, tak segan-segan beliau berbasa-basi  memanggil nama saya. Tapi, saya malah tak tau siapa namanya. Oh, saya jadi malu, saya merasa telah mengabaikan seseorang. 

Saya jadi ingat kata-kata teman kerja di kantor yang dulu, “Ingat ya, setiap kali kamu bekerjasama dengan orang, entah itu klien, nara sumber, atau orang-orang yang berhubungan dengan lingkungan sekitar kita,  usahakan diingat namanya.” Kata-kata ini, sudah terdengar di telinga saya 10 tahun lalu. Namun, saya baru memahami maksudnya belakangan ini. 

Hmmm, beberapa waktu lalu, dengan akrabnya saya menyapa seorang teman di suatu acara. Saya mengenal wanita ini belum lama, sih. Karena sempat berkenalan dan ngobrol di acara talkshow sebuah brand, saya jadi menggingat dia, “Hai, Wiwik, apa kabar, kita ketemu lagi akhirnya disini” saya menyapanya  dengan senyum manis,.

“Eh, kamu. pa, kabar juga. Eh iya, siapa namu kamu, saya lupa..?” katanya sembari menyedot minuman dingin.

Ups, begini rasanya kalau nama kita tak diingat, padahal saya sangat menggingat namanya.
Read More

Ragam Budaya dan Aksi di Festival Panen Raya Nusantara 2017


Pendongeng asal Aceh, PM Toh tengah menghibur anak-anak dan pengunjung, saat saya tiba di panggung Festival Panen Raya (PARARA) 2017, hari kedua, Sabtu (14/10/2017). 

Ia bercerita tentang pentingnya fungsi tumbuhan dengan menggunakan berbagai atribut dongeng yang unik. Ia memegang styrofoam berbentuk daun besar, sambil menceritakan tentang daun dan kehidupannya. 

Suara speaker yang menggelegar dan jernih, menjadi pemikat orang, tua muda, untuk menonton dan mendekati area panggung. Didukung pula cuaca yang bersahabat, tidak panas, namun juga tidak mendung, di Taman Menteng Jakarta Selatan, tempat acara itu berlangsung.

Apa yang didongengkan PM Toh, tentu saja berkaitan dengan tema yang diangkat tahun ini “Jaga Tradisi, Rawat Bumi". Festival dua tahunan ini memang bertujuan untuk memberikan informasi mendasar tentang arti penting produk-produk lokal buatan komunitas-komunitas lokal. Dari situ, tentu saja menjadi pembelajaran bagi kita agar bisa menjaga tradisi dan merawat hasil bumi.

PM Toh Mendongeng
 
Dari hasil bumi itu pula, di sekitar lokasi, berhamparan pajangan kerajinan hasil bumi khas daerah yang ada di Indonesia. Ada 70 komunitas dan masyarakat adat, yang unjuk gigi dan memamerkan karya mereka. Mereka datang langsung dari daerahnya, tapi adapula komunitas yang tinggal di Jakarta, tapi produk yang mereka jajakan memang berasal atau dikirim dari masyarakat adat. Produk-produk tersebut merupakan hasil kolaborasi panjang antarwirausaha yang terdiri dari sejumlah komunitas dan pekerja kreatif yang dibangun selama fase prafestival. Ada kain-kain cantik dan ulos dari pulau Flores dan Sumba, NTT. Harganya bervariasi, ada yang per dua meter, Rp 400.00-an.


Kain khas NTT


Ada pula kreasi anyaman bambu yang dibentuk topi, tas, wadah fungsional, dsb. Di booth Yayasan Anak Papua, bisa ditemukan beberapa kerajinan dari anyaman bambu tadi. Jika ingin melihat kerajinan batok kelapa yang dibentuk menjadi bunga matahari, motor vespa, tas, hiasan dinding, dll, persis di sebelah booth Papua.

Ragam kerajinan di PARARA 2017

Ada pula yang menjual biji kopi, dan menghidangkan ragam kopi dari nusantara, namanya Sindikat Kopi Lokal. Selama di Festival, boleh icip-icip gratis kopi di booth ini. Dan booth ini selalu ramai. Bearti orang Indonesia banyak yang pecinta kopi ya, hehehe. Di dekat booth Sindikat Kopi, ada yang sedang sibuk Cupping Session. Barista professional Andro Kaborang, tengah memandu acaranya. Tak kalah ramai orang menyaksikan aksinya dari dekat. Wah, lagi-lagi coffee efek nih, hihihih

Booth Sindikat Kopi Lokal

Tak jauh dari aksi Cupping Session, saya menghampiri penjual jamu kemasan dalam botol. Ada jamu temulak dan jahe merah serta jamu kunyit asam. Dua-duanya enak di lidah saya saya. Saya mencicipi samplenya, sebelum menentukan pilihan mana yang akan saya beli.  Harganya Rp25 ribu per botol. 

Jamu

Di ajang ini, kalau tak ada sajian kuliner, tentunya tak komplit dong ya. Jadi, selain minuman, bisa juga icip-icip makanan. Seorang ibu menawarkan saya roti. Katanya, roti itu dibuat oleh anaknya yang berumur 16 tahun. “Dari umur 4 tahun, anaknya saya sudah belajar masak, dan ini hasil kreasianya dia,” kata si ibu sambil memamerkan home industry-nya. 

Suasana Parara 2017

 
Kerajinan dari biji bijian, bak lukisan


Setelah berkeliling ke beberapa booth di Parara 2017, saya terhenti di lokasi panggung utama, tempat PM Toh mendongeng tadi. Di titik ini, sedang berlangsung gladi resik (GR) peragaan busana/ fashion show yang dibawakan para model. Ow, para peragawati tubuhnya langsing-langsing, sang peragawan ganteng dan badannya atletis. Lumayan cuci mata, hahahha. GR dilakukan agar saat membawakan busana pada malam harinya, para model bisa menguasai medan, sehingga berlangsung lancar. Ada ragam busana tenun dengan empat tema, salah satunya karya Yoga Wahyudi yang bakal dipamerkan.

Para Model saat  Gladi Resik

Sayangnya, ketika malam tiba, dan kembali ke area ini lagi (sebelumnya saya sempat pergi ke tempat lain) fashion shownya sudah selesai, jadi terlewat deh. Tapi, beruntung, saya masih sempat menyaksikan live music band-band indi. Ada Sandrayati Fay, dan Ari Reda, menyuguhkan suara dan musiknya yang menawan. Terlena saya mendengar suara mbak penyanyinya. Band indi itu emang unik, keren dan kece ya. Walau mereka tak terkenal secara komersil, tapi penggemarnya tak kalah banyak, karena karya mereka yang asik didengar.


Live Music Band Indi, Ari reda


Itu cerita hari kedua.

Di hari pertama, yang menarik perhatian saya dan beberapa pengunjung lain adalah  dandanan seorang bapak yang memakai baju adat Kalimantan Utara bersama alat musik. Namanya, Eliyas Yesaya. Saat saya lewat, ia tengah memainkan alat musik "Keng" dari bambu, ciri khas Suku Dayak Lundayah Kalimantan Utara dan rompi yang dipakainya dari jenis kayu Talun (sejenis sukun). Saya mampir sebentar, melihat aksinya memukul “Keng” ke lengan pengunjung, hingga menimbulkan bunyi khas. 

Eliyas Yesaya, (kanan)memainkan alat musik "Keng"


Nah, hari ketiga, Minggu (15/10/2017) yang merupakan hari terakhir festival ini, saya tak mengunjunginya lagi, karena capek, hehehe. Oh ya, Pada Festival Panen Raya Nusantara PARARA 2015, yang merupakan pertama kalinya ajang diselenggarakan, saya ikut menyaksikan juga lho. Bisa dibaca di sini dan di sini kisahnya.

PARARA 2017 bukan sekadar perayaan, namun juga terobosan bagi community enterprises (perusahaan berbasis masyarakat) yang berkelanjutan. Festival ini berusaha menjadi katalisator guna mendukung penjualan produk-produk lokal yang berkelanjutan dengan menggaet para pengambil keputusan serta konsumen. Dan bagi saya yang tinggal di Jakarta, senang sekali, bisa melihat kerajinan khas dari daerah nun jauh di sana.

Semoga saya bisa berjumpa lagi di PARARA selanjutnya. 



Sumber: panenrayanusantara.com

Read More