Serunya "Kekinian dengan Berkomunitas,” Bareng Iwan Setyawan dan Liputan6.com

 
Mata saya langsung takjub melihat pemandangan yang begitu indah, ketika menginjak eskalator menuju lantai underground Senayan City Mall, Jakarta. Langit senja yang dilihat dari kaki bumi dan kilauan lampu yang genit, membuat areal restoran elit itu semakin cantik.

Saya datang ke tempat ini, Jum'at, 5 Februari 2016 untuk bergabung di acara Liputan6.com yang masih saudaraan juga dengan citizen6.liputan6.com di  cafe/restoran BREWERKZ. Ajang itu adalah kopi darat  antara pembaca liputan6.com dan para awak redaksi yang menggawangi situs populer ini.

Tak heran liputan6.com memilih restoran ini, karena kantor mereka juga bermarkas di kawasan ini.
Nah, karena saya datang pukul 18.40 WIB, sementara acara yang tertera di undangan pukul 19.00 WIB, maka saya bisa mengabadikan pemandangan indah tadi. Itu, tepat di depan lokasi Brewerkz Restaurant, lho. 


Pemandangan cantik sore hari

Di tempat ini, saya dan tamu undangan akan mendapatkan sharing atau ilmu soal “Kekinian dengan Berkomunitas” seperti tema yang diusung.

Kebetulan saat ini saya bergabung dalam beberapa komunitas blogger, seperti emak-emak blogger (KEB), Blogger Reporter Indonesia (BRID), dan Warung Blogger serta dua komunitas kegiatan di dua majalah nasional. Komunitas memang jadi ajang tempat berkumpulnya orang-orang yang mempunya hoby atau pikiran yang sejalan. Meski gak harus gitu juga sih syaratnya. Luas deh  apa yang ada dalam komunitas itu.

Karena itulah saya tertarik mengikuti acara akhir pekan ini. Apalagi setelah melihat salah satu nara sumbernya adalah sang penulis buku best seller “9 Summers 10 Autumns”,Iwan Setyawan. Buku ini mengisahkan tentang perjuangannya sebagai anak sopir angkot yang bisa bekerja ke Newyork, salah satunya berkat pendidikan dan rasa percaya diri. Kini, ia pun merambah dunia presenter dengan memandu acara “Dear Haters” di Liputan6.com.

* * * *********

Penuh ya meja kita :))

Setelah santap malam dengan lauk yang lezat, MC supel dan manis membuka acara yang dihadiri sekitar 50 undangan ini. Yang datang tak hanya anak muda, tapi yang dewasa pun berbaur, demi mendapatkan wawasan obrolan santai malam itu. Pun, gak cuma warga Jakarta saja yang hadir, ada pula undangan yang bela-belain datang dari Depok, Cianjur, Sukabumi, Tangerang dan lain-lain.  Keren ya, berakhir pekan dengan acara yang positif, ketimbang kongkow gak jelas, hehehe

MC membuka acara

Acara ini memang untuk merangkul semua kalangan. Ya, sesuai dengan apa yang dikatakan Wakil Pemimpin Redaksi Liputan6.com, Iwan Triono atau yang akrab disapa Mas Gawang. Menurutnya, masyarakat atau undangan yang hadir malam itu adalah bagian dari liputan6.com. Acara ini juga digelar agar ada ikatan antara masyarakat/ agar lebih gaul, interaktif dan bisa memberikan input untuk liputan6.com. Tak mengherankan memang ajakan seperti itu, karena, kata Gawang, Liputan6.com adalah portal nomor dua di Indonesia dengan jutaan pembaca.

Suasana acara

Untuk itu, pria keren ini mengajak masyarakat mengirimkan naskah atau tulisan tentang kegiatan komunitas atau personal yang positif seperti  wisata, kuliner, informasi unik, atau gerakan-gerakan positif lainnya. Liputan6.com dan citizen6.liputan6.com menunggu karya dan report Anda. Silahkan kirimkan naskah Anda via email ke citizen@liputan6.com, atau bagi yang ingin mengirimkan video, bisa ke vidio.com. Ajakan ini, disampaikan Gawang dari acara dimulai hingga berakhir. Ia terus mengingatkan agar kita turut berpartisipasi mengirimkan informasi ke masyarakat yang akan disebarluaskan melalui website yang digawanginya.

Wakil Pemimpin Redaksi Liputan6.com, Gawang.

Ajakan ini juga dimaksudkan agar kita aktif menulis.“Karena sharing is caring,” kata Gawang. Bagi yang punya blog misalnya, boleh mengirimkan tulisannya dan akan dishare di liputan6.com dan di citizen6.liputan6com. Salah satu  syaratnya adalah artikel terbaru, menginspirasi, tanpa SARA, serta bukan jualan produk, hehehe. Saya sudah tiga kali lho mengirimkan tulisan blog ke citizen6.liputan6.com, dan dimuat di web kece ini. Salah satu artikel yang saya kirim tentang budaya dan wisata, seperti ini, ini juga dan ini deh. Trafik pembaca pun langsung naik. Jadi, sama-sama saling menguntungkan. 

Sekitar 25 menit menyampaikan tujuan acara ini, posisi Gawang digantikan oleh pria imut yang punya gaya asik, Iwan Setyawan.
 
Duo cowok keren sharing, yuhuuu

Sebelum berbagi pengalaman berkomunitas, Iwan mengajukan pertanyaan pada tamu yang hadir.

“Apakah orang-orang yang datang ke tempat sini adalah jomblo-jomblo kesepian? Emang gak ada kerjaan? Atau cuma pengen numpang makan gratis?” Candaannya langsung disambut tawa undangan yang hadir. Duh, mas Iwan, kocak deh. Itu dia mengapa sudah 5 kali saya bertemu dengannya dan 4 kali mendengarkan sharingnya, tak pernah bosan untuk ketemu dia lagi, mendengar celotehan inspirasinya lagi, serta berfoto dengannya lagi, hahaha.

Ya, sosok Iwan adalah sosok yang penuh inspirasi. Ketika kecil hidup serba sulit, namun ia dikarunia otak yang mumpuni. Itu yang membuatnya bisa berfikir menentukan langkah bagaimana cara agar bisa memperluas pergaulan, menjadi lebih pintar dan berkembang.  Saat  sekolah, misalnya, ia penasaran dengan grup atau komunitas BMX (nama merk sepeda yang cukup populer di tahun 80-an). Yang punya sepeda merk ini, tentulah anak-anak orang kaya, sedangkan orang tua Iwan yang sopir angkot, tak mampu membelikannya sepeda. Meski begitu, ia mencari tau komunitas ini dengan mendekatinya.

“Saya ingin tau apa yang mereka lakukan sehari hari-hari, rupanya mereka membaca majalah Bobo, bermain piano dan lain-lain. Mendekati orang-orang yang kaya bukan bermaksud untuk memilih teman, tapi sebagai salah satu cara mengejar impian,” ujar Iwan.

Prinsip Iwan, jika kita orang miskin, jangan bergaul dengan orang miskin juga, tapi bergaulah dengan orang kaya, karena itu akan mengembangkan diri. Karena ingin mengembangkan diri itulah, ketika SMA, ia masuk komunitas theater. 

 
“Saya ini orangnya minderan. Tapi, bergabung di komunitas ini, mengubah hidup saya dan membuat saya percaya diri hingga mengantar saya ke Newyork,” ujarnya semangat.

Iwan juga menyadari bahwa kekurangan yang dimilikinya, justru adalah keunikan tersediri. Hal ini berlaku juga untuk orang lain. 

Iwan Setyawan

Di Newyork, Iwan bekerja sebagai  Nielsen Consumer Research, Ia memegang jabatan direktur di sana. Keren gak tuh, orang Indonesia bisa jadi direktur di negara super power.  Dan ia bisa menggapai hal ini, salah satunya berkat rasa percaya diri yang didapat dari beberapa komunitas yang ia geluti. Di dalam komunitas, ia bisa menemukan ide dan memotivasi diri, karena bergaul dengan orang-orang yang kreatif dan interaktif.

Setelah tinggal di Newyork, jiwa untuk bergaul dan mendalami hobinya, membuatnya  bergabung dengan komunitas Yoga. Kebetulan, Iwan pun  menyukai yoga, jadi klop. Bagi Iwan, dengan berkomunitas, tentu rasa kesepian akan hilang, karena ada banyak teman-teman disekeliling kita.

"Dunia adalah milik orang-orang yang kesepian, jadi perlu disupport melalui komunitas dan bergaul. Bakal kaya hidup Anda dengan berkomunitas," kata Iwan.

Iwan juga menyarankan, dalam berkomunitas, jangan hanya untuk bersenang-senang saja, karena itu akan buang waktu. Di dalamnya, kita harus membuka pikiran dan  menggali ide.

Ya, komunitas adalah satu wadah untuk mengembangkan bakat dan pikiran, selain menambah teman dan wawasan tentu.

Bergabung dengan komunitas menulis atau komunitas blogger misalnya, kalau kita belajar dengan senior, tentunya bisa mempertajam tulisan. Iwan menyarankan, kalau bisa tulisan yang dibuat jangan yang biasa-biasa saja, tapi harus digali dan digelitiki badan tulisannya, agar pembaca tertarik dan penasaran.

Meski sudah menerbitkan 2 buku best seller yang menguras air mata dan penuh inspirasi, (9 summer 10 autumns dan Ibu) plus beberapa buku lainnya, ternyata pria ini rupanya dulu benci dengan yang namanya menulis.

Baginya, novel itu adalah karangan manusia, ya ngapain dibaca. Sampai suatu ketika, saat di Newyork ada temannya yang bernama Robi memberikannya sebuah buku “istimewa”. Setelah membacanya, Iwan malah lengket dengan buku tersebut. Disitulah bakat menulisnya menggelinjang. Ia pun mulai menulis. 

Bahkan, karena ketekunannya dan termotivasi dengan kisah hidup masa kecilnya yang dianggapnya tak indah, kini ia menjadi penulis terkenal dan wajahnya pun ikut-ikutan dikenal. Ia mengaku, motivasinya menulis buku yang bertagline "Dari Kota Apel ke The big Apple", sebenarnya ingin menampar wajah keponakannya, agar mereka tau bahwa hidup keluarganya dulu, tidak menyenangkan seperti saat ini. Nah, karena Karyanya ngehits, maka kisah ini pun diangkat ke layar kaca, dengan judul yang sama : "9 Summer 10 Autumns". Sudah nonton?

Iwan menceritakan hal ini, karena ada salah satu peserta kopi darat yang bertanya, bagaimana awalnya Iwan terjun ke dunia penulisan. Maka ia jawablah dengan panjang lebar, hehehe. Nah, bagi peserta yang bertanya, diberikan hadiah voucher, lho. Maka, ramailah yang bertanya, hahahha....Saya sendiri sudah mengacungkan tangan, tapi gak kebagian. Yo weslah, hehe

Serius menyimak Iwan

Ya, banyak sekali yang ingin dikulik dari seorang Iwan Setyawan, namun karena waktu yang membatasi, tak semua bisa terjawab, terutama pengalamannya dalam berkomunitas. Hanya sedikit yang ia beberkan di kesempatan itu. 

Tapi, yang bisa saya ambil pelajarannya adalah ada seorang pemuda dari Batu, Malang, anak sopir angkot yang dulunya minder dan hidup serba terbatas, kini menjadi orang keren karena bisa bekerja di NewYork, jadi direktur pula. Pulang ke Indonesia, berkat bukunya yang inspiratif itu, ia pun menjadi terkenal.

Iwan bisa menggapai itu karena hati dan jiwanyalah yang  berteriak, bukan mulutnya. Ini juga yang ia sarankan kepada kami malam itu. Ya, jiwanya berteriak untuk mencari hidup yang lebih baik dengan segala keterbatasan yang dibumbui kreatifitas dan ilmu yang ia miliki. Dan semua itu, salah satunya ia dapatkan berkat berkomunitas. 

“Hidup ini terlalu singkat untuk minder“ ucap Iwan.

Ya, jaman yang serba kekinian ini memudahkan kita untuk mencari tahu bacaan atau refrensi tentang bagaimana membuka wawasan dan pikiran. Namun, jangan merasa keren dulu kalau hanya sekedar berpakai trendy, membawa mobil mewah, dan menenteng HP mahal kemana-mana, habis itu nongkrong sampai malam hanya ketawa -ketiwi, tanpa mendapatkan apa pun.

Kata Iwan, yang keren itu adalah anak muda yang jalan-jalan di mall, masuk kafe, lantas membaca buku Pramoedya Ananta Toer.

Kata saya, yang keren itu, adalah emak-emak yang bela-belain menerobos macet Jakarta sore hari dan lelah karena pulang kerja, demi hadir di acara “Kekinian dengan Berkomunitas”. Ilmu dapat, teman bertambah, wawasan jadi padat, perut pun kenyang.

Terima kasih liputan6.com atas acaranya. Bagaimana, jadi sebulan sekali mengadakan kopi darat yang menginspirasi parah ini?  :)))

Kalau sudah begini, tandanya acara tlah berakhir :))

28 comments :

  1. Wah...pemandangannya pada foto yang no 1 bener2 cantik Mba.. Btw, seru ya Mba bisa nongkrong asyik bareng komunitas ..bisa dapet info2 menarik pula..mantap..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoi mbak, seru nongkrong asik bareng liputan6.com.
      Iya, pemandangan di foto 1, bikin cuci mata deh, hehhhe

      Delete
  2. Replies
    1. iyah, sudah pernah ya ketemu sama doi, Rul..?

      Delete
  3. semacam kompasiana di kompas gitu ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, mirip gitu deh, kopi darat antara pembaca lipt6 dan awak redaksi, plus sharing soal komunitas.

      Delete
  4. asik banget ya acaranya, lokasinya juga indah dan makanannya bikin ngiler :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, acaranya asik, seru dan santai kayak di pantai, hehehe

      Delete
  5. Mbak Eka minderan gimana aku coba hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi, ah masak mbak Lidya minderan? hehehe

      Delete
  6. wah, asik nmya ya mba, pengen dunk ikutan :) hiks hiks

    ReplyDelete
  7. Replies
    1. yoi mbak....seru, dan nambah wawasan, heheh

      Delete
  8. Replies
    1. caranya? Rajin-rajin pantengin time line twitter @citizen6_ saya juga taunya dari situ, hehehe...

      Delete
  9. wah seruu .. acara begini menambah teman, tambah wawasan, tambah ilmu .. apalagi dapat makan gratis :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoi, komplit ya dapetnya, plus menikmati pemandangan keren mall senayan city, hehehehe

      Delete
  10. Wow sangat menginspirasi, coba bisa dateng
    Memang bener si mba, minder salah satu penyebab susah sukses :)
    Kaya saya salah satunya dari dulu gini2 aja haha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku juga pernah minder lo mas, jaman SMP dulu, untunglah sekarang perasaan itu hilang seiring dgn perkembangan diri dan pergaulan :))

      Delete
  11. acaranya seru ya mba...liat Sency jadi inget tempat nongkrong di Jakarta :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoi mbak, kalau ada mas Iwan, acaranya selalu seru, karena dia santai tapi serius..

      Btw, aku juga baru tau kalau di Sency, saat malam ada tempat yg begitu indah untuk dilihat dan dinikmati. Kapan balik ke Jakarta mbak? hehhe

      Delete
  12. Etdah, keren banget tempatnya.... apalgi langitnya.
    Oh jadi gitu toh langit malamnya Jakarta. heemm :))

    btw, ada yang typo tuh mbak nama tempatnya. Hehehe :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. So, kapan Wahyu main ke Jakarta..? hehehe
      Makasih ya koreksi typonya, sudah kuperbaiki..;))

      Delete
  13. Ya ampun itu makanannya. Berkomunitas memang membuka banyak pintu, terutama pintu kepribadian kita menjadi lebih percaya diri & fleksibel.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mak, acara serunya, dan pintu kepribadian juga perlahan mulai terbuka, hihiih

      Delete
  14. "....bakal kaya hidup kita dgn berkomunitas." setuju banget nih, karna banyak teman sejatinya banyak rejeki :)

    btw tempatnya kece ya....romantis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. yoih...banyak manfaat ya berkomunitas,tempatnya emeng kece, mertropolitan banget ya, hehehe

      Delete

Hai teman-teman...

Silahkan tinggalkan komentar yang baik dan membangun ya....Karena yang baik itu, enak dibaca dan meresap dihati. Okeh..?