Tobi dan Jerman


Meski berasal dari Jerman, Tobias Konopka, lancar berbahasa Indonesia,
artikulasinya pun jelas. Enam bulan sudah saya berteman dengannya. Kami biasa memanggilnya Tobi, dan panggilan sayangnya: "babi", tapi dibaca “bebi” ya.. :)  

Tobi
Di hari pertama bergabung di kantor kami dengan status magang, ia langsung akrab. Gak kaku, gak jaim, apalagi diam. Wah, itu bukan Tobi banget. Kebanyakan kalau orang baru, kan suka diam tuh di hari pertama saat bertemu dengan orang-orang baru, tapi kalau Tobi, justru langsung rame, kayak sudah kenal 10 tahun ajah.

Selanjutnya, hari demi hari kami lalui bersamanya.  Makan bareng, kerja bareng, diskusi dan sebagainya. Ia banyak membantu pekerjaan kami. Namanya juga lagi magang, ya memang harus ngebantuin, dong, hihihi. Bahkan, jika ada tamu-tamu dari luar negeri yang bertandang ke kantor, Tobi pun ikut nimbrung. Kami juga sengaja menyodorkan dia untuk melayani para tamu dari manca negara, secara bahasa Inggrisnya doi bagus, hehehe..

Cieh, seriusnya Tobi...Ngerjain apa sih...?

Cowok brondong ini adalah mahasiwa Rheinische Friedrich-Wilhelms-Universität Bonn, salah satu universitas terdepan di Jerman, yang didirikan tahun 1818. Ada berbagai program sarjana dan jurusan yang ditawarkan di Universitas ini. Tapi, Tobi memilih jurusan Studi Kawasan Asia Tenggara dan Studi Bahasa Indonesia, dengan Konsentrasi Lingkungan. Karena pilihan konsennya inilah, maka ia memilih magang di perusahaan tempat saya bekerja. Kami  memang konsen terhadap permasalahan lingkungan di segala bidang. Dari masalah sampah, hutan, perkebunan, air, lalu lintas, bahan bakar, daur ulang, kertas, listrik semuanya kami lahap .

Friedrich-Wilhelms-Universität Bonn.  Sbr gbr : disini

Nah, kenapa ia tertarik mengambil jurusan Asia Tenggara, dan memilih Indonesia?

Ouw, ini rupanya berhubungan dengan masa lalunya yang sebelumnya pernah bertandang ke tanah air tercinta ini, saat ia baru saja menamatkan pendidikan SMU-nya di Jerman. Sebelum masuk perguruan tinggi, pria tampan ini bergabung di organisasi sosial di sebuah Gereja Kristen yang ada di Jerman. Nah, melalui organisasi inilah,  2012 lalu ia ditugaskan ke Pematang Siantar, Sumatera Utara untuk membantu anak-anak di Pusat Rehabilitasi Harapan Jaya yang ada disana.

Pusat Rehabilitasi yang didirikan pada 17 November 1981 ini mempunyai Misi untuk memandirikan penyandang cacat sehingga mempunyai harga diri dan tidak menjadi beban bagi orang tua, keluarga dan masyarakat.
 
Di sini, Tobi ditugaskan di poliklinik yang tersedia di Pusat Rehalibitasi tersebut, dan ditempatkan pada bagian medichal atau obat-obatan untuk para anak-anak berkebutuhan khusus tadi. Oh ya, tempat ini cukup luas hlo. Jadi, Tobi dan teman-teman NGO-nya, sehari-harinya tinggal di asrama ini juga.

Pusat Rehabilitasi Harapan Jaya (gambar dari www.harapan-jaya.org)

Pertama datang ketempat ini, Tobi kaget dan bingung ketika anak-anak di sana mengajaknya berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Secara ya bro, dia baru datang dari Jerman, mana ngertilah bahasa Indonesia, apalagi bahasa Batak hehehe.. Namun, itu tak mematahkan semangatnya untuk membantu anak anak yang berkebutuhan khusus itu.

Seiring berjalannya waktu, lama kelamaan, pria yang akan nginjak usia 23 tahun di Oktober 2014 ini, bisa menggunakan bahasa Indonesia. Yey! Dan, ia benar-benar menjalaninya sembari learning by doing, gak pake kursus-kursusan. Bahasa gaul pun dia juga sudah paham.

Tobi, bersama anak dari Pusat Rehabilitasi Harapan Jaya, 
Pemantang Siantar, 2012 lalu

Setahun bertugas ditempat ini, Tobi pun kembali ke Jerman. Ia, melanjutkan kehidupan barunya dengan masuk ke perguruan tinggi ternama di kota Bonn, seperti yang saya katakan tadi. Itulah ceritanya, kenapa ia memilih mendalami ilmu tentang Studi Kawasan Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Rupanya, ia terkesan dengan negara kita, terutama budaya yang kita miliki.

Di Jakarta, ia tinggal di apartemen yang lokasinya tak jauh dari kantor kami. Setiap hari, ia jalan kaki menuju kantor. Sehat dan hemat, hehehe. Bertabur jajanan dan makanan khas Indonesia yang tersaji di seputar areal kantor, cocok-cocok aja tuh untuk perut Eropa-nya. Nasi uduk dengan lauk khas bihun dan orek tempenya, bakwan, ayam bakar dan tonseng, termasuk makanan yang paling sering ia beli. 

Tapi, ups..saat dia baru beberapa hari di Jakarta, sempat diare lho. Jadi, ia tak masuk kantor beberapa hari. Mungkin ada bakteri dari jajanan di pinggir jalan yang ia beli, sudah mengontaminasi pencernaannya. Maklum, biasanya kalau orang tak terbiasa mengkonsumsi makanan di suatu tempat, dengan berbumbu debu, asap hitam, dan polusi, maka, perut pun akan protes. Begitulah yang dialami Tobi. Namun, itu tak berlangsung lama, setelah itu, perutnya mulai menerima dan adaptasi dengan kehadiran makanan baru yang dikonsumsinya.

Kehadiran pria bule ini di kantor, mewarnai hari-hari kami. Tiap jam 4 sore, ia selalu menawarkan teman-teman apakah akan membeli jus buah yang ada di depan kantor atau tidak? Dialah yang beranjak membelikannya. Meski uangnya masing-masing sih, hehehe... 

Kadang, ketika lagi ngobrol, trus, bahasa Indonesianya "keseleo", dia jadi bahan "bullying" anak-anak.  Tapi, pria ramah ini cuma tersenyum saja menanggapinya. Maaf, Ya Tob, anak-anak emang bandel, sih, hehehe

Yang saya suka lagi, Tobi ini selalu penasaran dengan hal-hal baru. Misalnya, di hajatan Pemilu Legislatif bulan April lalu, ia semangat sekali menemani kami mencoblos. Ia ingin melihat suasananya, seperti apa sih Pemilu di Indonesia itu? Pun, dengan gejolak politik saat dan sesudah berlangsungnya Pilpres, ia juga ikut menilai dan berkomentar.

Tobi, ikut memperhatikan pajangan foto dan nama caleg

Tobi,  saat temani kami ke TPS saat Pemilu legislatif April 2014 

Ia, juga ingin mencoba sesuatu atau tempat yang ingin dikunjungi dari hasil browsing, dengan memakai jasa guide. Ya, kamilah guidenya :))

Ketika ada Pekan Raya Jakarta PRJ, Juni 2014 lalu, misalnya, kami mengajak dia untuk ikut melihat kemeriahan pameran terbesar di Asia Tenggara itu. Tobi menikmati suasananya. Ia ikut games yang diadakan oleh salah satu stand motor, juga berfoto bersama SPG -SPG motor yang cantik dan sexy, dengan bokong yang bahenol, bikin Tobi berdecak kagum. “Cantik”, katanya. Cuit...cuit...

Cieh Tobi foto sama SPG cantikss..
Ketika di PRJ 2014
Pempek Palembang Megaria, yang berada di kompleks bioskop Metropole pun, ia sempatkan tuk mengunjunginya. Bahkan, ketika ada Festival Sarongge (Festival budaya dan lingkungan) di Desa Sarongge, Cianjur, Jawa Barat, ia juga ikut menikmatinya, sembari bermalam di camping ground, 27 September  2014.

Tobi, di festival sarongge  Sbr gbr ;disini

Banyak sekali saya mendapatkan pengalaman selama di Indonesia ”, begitu kata Tobi, setelah pulang dari Sarongge.

Dengan kehadiran Tobi, kami manfaatkan utnuk mengulak-ngulik informasi mengenai negaranya. Salah satunya masalah sampah, sistem pendidikan, hingga gaungnya Iwan Fals di Jerman. Ssstt...., agak panjang lo ceritanya, tapi rugi lho kalau gak dilanjutin, karna informasinya tentang Jerman itu keren pake banget.

Akibat Tak memilah sampah di Jerman

Warga Jerman itu sangat disiplin sekali untuk soal pembuangan dan pemilahan sampah. Kalau kita,  buang sampah ke tong sampah gak pake dipilah- pilih, mana sampah plastik, sampah kertas, atau mana yang sampah bekas kulit buah atau sayur mayur. Pokoknya dicampur, terus dimasukin dalam kantong kresek, dan dilemparin deh ke tong sampah. Iya, kan..?

Tapi, kalo di Jerman, gak begitu!
Dari masing-masing rumah, warganya sudah melakukan pemilahan sampah an-organik dan organik. Jadi, sampah plastik dan sampah bekas sayur atau buah, sudah dipisahkan. Memilah sampah sebelum dibuang, wajib lho  hukumnya di Jerman.

Sbr gbr : disini
Jika ada warga yang ketahuan tak melakukannya, akan dikenakan denda oleh pemerintahnya. Lumayan tinggi dendanya, sekitar 25 Euro atau kalau dirupiahkan sekitar Rp.400.000. Petugas mobil truknya, akan mencatat nama dan nomor rumah yang tidak melakukan pemilahan sampah dan melaporkannya ke instansi yang mengurusi soal sampah. 

Trus, apakah pembayarannya di tempat? Oh tidak, pembayarannya tidak dilakukan secara cash tapi melalui ATM ke nomor rekening instansi terkait. Itu dimaksudkan untuk menghindari korupsi. Jadi jangan harap bisa ‘damai ditempat’ ala aparat Indonesia, apalagi berpikir untuk menggelapkan dana tersebut.

Kapan biasanya truk datang mengambil sampah ke rumah-rumah warga? Nah, warga akan mendapatkan pemberitahuan soal jadwal kedatangan truk sampah di perumahan warga, melalui internet atau email/surat. Surat itu kira-kira tertulis begini: “Hari senin tanggal sekian, truk sampah yang akan datang ke tempat Anda adalah truk sampah yang akan mengangkut sampah kering. Sedangkan truk sampah yang mengangkut sampah organik adalah hari Rabu”.  Keren bingitts.

Di Jerman, kita tak akan menemui tukang angkut sampah yang memakai gerobak dorong, di sana, semuanya langsung diangkut menggunakan truk, di masing-masing rumah. Kata Tobi, jalan-jalan di area perumahan Jerman, lebar-lebar, jadi truk sampah bisa masuk. Jumlah truk sampah di sana, banyak sekali. Selain itu, jumlah penduduk di Jerman tak begitu membludak seperti di negara kita, hanya 80 juta. Jadi, sampah pun, masih bisa terkontrol, disamping memang faktor warganya juga yang disiplin.

Ya, menurut Tobi, orang Jerman itu sangat sadar dengan kebersihan, mereka tak akan buang sampah sembarangan di jalanan apalagi di sungai. Mereka sangat paham, kalau itu tidak boleh dilakukan.

Kami merasa malu kalau harus buang sampah sembarangan. Karena, dari kecil kami sudah diajarkan dan dibiasakan oleh orang tua dan guru di sekolah untuk membuang sampah pada tempatnya”, kata Tobi.

Aha, Jerman patut diacungi jempol ya untuk urusan pengelolaan sampah.

Tak hanya itu, dalam soal berlalu lintas pun, warga Jerman sangat disiplin. Kalau ada lampu merah, mereka akan berhenti. Alasan terburu-buru mau ke suatu tempat atau ada acara penting, (lalu) boleh saja melanggarnya, tak berlaku di sana.  Pokoknya disiplin deh. 

Salah satu suasana di kawasan Jerman 
 Gambar minjem dari vanadam(dot)wordpress(dot)com

Biaya pendidikan SD hingga S2 gratis..tis..tis...

Kalau kita gak punya duit tuk menyekolahkan anak karena biaya pendidikan yang selangit, gimana kalau kita pindah ke Jerman aja yuk, sekaligus menjadi warga negara disana?  Karena, di Jerman biaya pendidikan dari SD hingga S2, ditanggung oleh Pemerintah, alias gratissss...tis...tis...tis..

Jadi, gak akan ada cerita putus sekolah atau pusing memikirkan biaya pendidikan. Nah, kalau kita mau beli buku, di setiap toko buku yang ada di Jerman, akan memberikan discount bagi pelajar/mahasiswa, asal bisa menunjukkan kartu pelajarnya. Kok baik banget toko bukunya ya ngasih discount? Itu, karena semua toko buku di sana, sudah disubsidi oleh pemerintahnya. Bahkan, makanan yang dijual di kantin-kantin sekolahpun, harganya murah, juga karena subsidi pemerintah. Wah...membantu sekali ya.

"Makanya, pemerintah Indonesia itu jangan subsidi BBM, tapi coba subsidi dalam hal makanan atau kebutuhan bahan makanan saja", saran Tobi. Ehm, betul juga ya Tob.
 

Tak ada seragam sekolah

Oh ya, kalau kita sekolah atau kuliah di Jerman, orang gak akan melihat baju apa yang lho pakai. Terlihat murahan, lusuh atau tidak? Meski di Jerman tak ada seragam sekolah dari SD hingga SMU, tapi jika ada yang terlihat memakai baju yang tidak bagus, masyarakatnya tak akan mengejek.

Nah, di Indonesia, salah satu tujuan penggunaan seragam sekolah itu, untuk menutupi kesenjangan antara si kaya dan si miskin, toh? Kalau gak pakai seragam, biasanya anak orang kaya bajunya akan terlihat lebih keren dan mahal, sementara anak orang kalangan menengah ke bawah, terlihat memakai baju seadanya. Tobi menegaskan, di Jerman, warganya tak peduli pada apa yang lho pakai, asal pantas aja.

Orang tak mampu, ditanggung negara

Di negara yang sering menjadi juara Piala Dunia ini,  pemerintahnya menjamin warga yang tidak mampu untuk mendapatkan tempat tinggal, pakaian dan makanan yang layak. Bagi warga yang tak mampu, bisa melakukan pengaduan  ke balai kota. Setelah orang tersebut melapor, maka akan mendapatkan surat tanda tak mampu dari petugasnya. Selanjutnya, ia akan diarahkan atau diberi petunjuk,  rumah di daerah mana yang akan ia tempati, berikut dengan pakaian dan makanannya. Asyik banget ya. Jadi, orang tak mampu gak perlu luntang-lantung gak jelas mengharap iba orang. Meski begitu, bukan bearti tidak ada pengemis di sana. Cuma, tempatnya ditentukan, tak semua kawasan diperbolehkan, karena ada aturannya.

Tobi, pernah bertanya pada salah seorang pengemis yang ia temui. “Kenapa kamu mengemis, bukankah negara kita menjamin warganya yang tidak mampu untuk mendapatkan rumah dan pakaian? Kamu tinggal datang saja ke balai kota.” Lantas, pengemis itu menjawab : “Saya malu melakukannya “.

Gak boleh punya nama yang mengandung kata sifat
Masih kata Tobi, di Jerman, pemerintahnya tidak memperbolehkan warganya mempunyai nama, atau memberikan nama pada anak yang baru lahir, yang mempunyai unsur atau persis dengan kata sifat. 

Misalnya, kalau di Indonesia, banyak dong yang punya nama semisal: Cinta, Mutiara, Senandung, Bunga, Mawar, Sabar dan sebagainya. Bahkan, ketika tinggal di Pematang Siantar, Tobi menemukan ada orang yang namanya "Sanggup". Nah, nama-nama seperti itu, (tentu dalam bahasa Jerman ya) gak boleh dipakai, karena akan membingungkan. Jadi, saat pembuatan akta kelahiran, jika dilihat nama adek bayinya mengandung unsur kata sifat, maka orang tuanya akan disarankan untuk mengubah namanya terlebih dulu, kalau tidak, mereka tak akan mendapatkan akta kelahirannya. 


Tak ada pedagang kaki lima

Di Jerman, tak ada yang namanya pedagang asongan, atau yang jualan pake gerobak di trotoar, apalagi yang pasang tenda hingga menyerobot bahu jalan. Jika kita ingin mencari resto atau tempat makan, semuanya dijajakan di dalam sebuah tempat. Ya, bisa berbentuk restoran atau rumah. Kata Tobi, banyak yang jualan dengan menggunakan rumah yang disewa. Artinya, setelah selesai berjualan di hari itu, maka penjualnya akan pulang kembali ke rumahnya. Biasanya, rumah yang disewa untuk tempat makan itu berada di tempat  keramaian atau tempat strategis, yang bisa dijangkau banyak orang.


Yang Tobi suka dari Indonesia

Tobi suka dengan budaya Indonesia yang begitu beragam. Ia kagum dengan tarian Aceh yang unik dan tangan-tangan penari yang cekatan ketika membawakan tari Saman. Tarian ini juga dikenal dengan Dance of Thousand Hand.

Kalau soal makanan, ehm..selama di Jakarta, si Tobi, doyan dengan nasi goreng kambing, nasi uduk yang murah meriah, dan martabak manis coklat. Tapi, martabaknya  gak pake kacang ya, karena doi alergi sama kacang, hehehe.....

Transportasi umum yang wara-wari dengan ongkos yang murah, juga menjadi nilai plus Tobi untuk Indonesia. Seperti TransJakarta, hanya merogoh kocek Rp.3.500, kita sudah bisa menikmatinya, bahkan bisa berkeliling Jakarta. “Bagi saya TransJakarta itu nyaman, tapi murah”, kata Tobi riang. 

Kalau di Jerman, jumlah transportasi umum sedikit dan ongkosnya mahal. Untuk perjalanan dalam kota saja, ongkosnya bisa kena sekitar 2 Euro atau sekitar Rp.30.000. Tapi, kendaraan umum di sana nyaman dan lebih oke pastinya.

Ehm, kalau artis, kira-kira siapa ya yang disuka oleh Tobi?

Ouw, rupanya Maliq & D'essentials adalah grup yang digemari laki-laki supel ini. Saking ngefansnya, ketika grup ini show di salah satu mall di Jakarta, di bela-belain deh nonton, dia selalu mencari tau tentang grup favoritnya ini. 

Sementara, kalau artis ceweknya, si bule ini suka sama penyanyi Raisa. “Raisah itu cantik, ya.” kata Tobi Syumringah. Ihiiiyy.... Gak cuma Raisa, banyak lho wanita-wanita Indonesia yang disebut Tobi cantik, terutama cewek-cewek yang berwajah oriental, type yang disukainya.

Ehm, kalo ngerumpiin soal artis, gak lengkap rasanya kalau gak ngomongin artis legenda Indonesia, Iwan Fals.  Kata Tobi, artis kawakan itu populer di negaranya. Orang Jerman, menyebut Iwan Fals adalah Bob Marley-nya Indonesia, karena lagu-lagunya yang kritis terhadap pemerintah. Yang lebih keren lagi...neh...si Tobi beruntung bisa bertemu dan foto bareng dengan Sang Legend, di suatu acara. Yey !
Yey, bareng om Iwan fals....

Trus, saya tanya, kalau Agnez Mo, artis asal Indonesia yang sudah go Internasional itu lho, terkenal gak sih di Jerman? Ehm, kata Tobi, penyanyi yang jago dance itu, belum terdengar gaungnya di negaranya.

Saya & Tobi, di hari terakhirnya magang
Hari ini, enam bulan sudah ia berada di Jakarta, menimba ilmu di kantor tempat saya bekerja. Mencari pengalaman dan pertemanan yang akan berguna sebagai relasinya kelak, jika ia akan berburu pekerjaan di Indonesia ini. Ya, ternyata salah satu tujuan Tobi memilih magang dan kuliah di jurusan Studi Kawasan Asia Tenggara, adalah untuk bekerja di negara ini.
 
Alasannya?

Menurut Tobi, banyak perusahaan Jerman yang membuka kantor perwakilan di Indonesia. So, dengan berbekal pengalaman Tobi di sini, tentu akan membantu dan memudahkan dia menggapai keinginannya. Yang ahay-nya lagi, saya pikir, ia magang di tempat kami, karena menjalankan tugas dari mata kuliahnya, sejenis PKL (Praktek Kerja lapangan) gitu, ya. E, gak taunya, ia sengaja memang cuti dulu dari kuliahnya selama satu semester.

Jadi, magangnya ini gak ada hubungan dengan tugas kuliahnya. Tapi, semua ini ia lakukan, demi bisa mencuri kesempatan pengalaman kerja di perusahaan Indonesia, untuk memuluskan niatnya tadi. Owalah.... gigihnya si Tobi ini. Tapi, yang dia lakukan, sebenarnya ya berhubungan juga sih dengan jurusan kuliahnya, meski, diluar dari mata kuliahnya.

Setelah pulang ke Jerman, ia akan melanjutkan lagi kuliahnya yang akan memasuki semester 4, yang sempat tertunda satu semester. Itu artinya, kurang lebih 1,5 tahun lagi program S1-nya selesai. Dan kalau tepat waktu wisudanya, sekitar 2 tahun lagi, Tobi, akan kembali ke Indonesia, untuk  mencari kerja. Tapi, ia tak memilih Jakarta, ia  lebih suka dengan Jogya dan Medan, sebagai kota pilihan untuk menetap dan mengais rezeki. 

Daaan, jelang kepergiannya...

Dua pesta perpisahan pun digelar. "Pesta" malam dan pesta siang. Makasih traktiran mi ayam, gorengan, donat, trus...apalagi ya..?

Farewell party part I
Farewell party part II
Itu dia, cerita tentang Tobi dan negaranya, Jerman. Dan hari ini, saat saya sedang menulis cerita ini, ia tengah menuju Bandara Soekarno Hatta, untuk bertolak ke Bonn, Jerman, menuju tanah airnya, melanjutkan segala asa dan cita-citanya. 

Sukses ya, Tob....

Salam buat Keluargamu

Salam juga tuk teman-teman dan dosenmu yang ada di Rheinische Friedrich-Wilhelms-Universität Bonn

Dan, salam untuk warga Jerman yang sangat peduli terhadap kebersihan lingkungan itu.


See U , Tobi....

Tulisan orak-orek buat Tobi, kenang-kenangan, hihihi


Kalau tadi kisah teman dari Jerman, bagaimana cerita teman kantor saya yang berasal dari Australia? Apa katanya tentang ojek online dan budaya kantor kita yang boleh bernyanyi dan bergurau saat bekerja? Yang ternyata, hal itu tak boleh dilakukan di Australia. Sila baca kisahnya di Nicole, Gadis Australia yang 'Takjub' dengan Ojek Online, Selfie dan Bahasa Gaul




Sumber refrensi :

-http://id.wikipedia.org/wiki/Universitas_Bonn 
-http://www.harapan-jaya.org/index.php/2013-09-23-13-47-32/visi-dan-misi

41 comments :

  1. ceritanya seru sekali, sharing dengan orang luar memang harus, biar wawasan nambah terus, tapi tapi tapi walau bagaimanapun, indonesia tetap paling oke menurut saya. Logikanya gini, dimana-mana, yang penghuninya banyak sekali itu sangat susah diatur, jadi wajar kalo sampah dan lalu lintas kita semrawut gitu, masih banyak yang miskin, karena kita luaaaaassss sekaliiiii, beda dengan Jerman misalnya, mereka mah penduduknya dikit banget, jadi luwes gitu urusannya... gampang memantaunya. dan lain-lain... btw, kalo saya liat bule kok pada tua-tua tampangnya yaaa,, padahal umurnya masih muda banget..hehhe makasi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mbak Aida....Betul mbak, kalau jumlah penduduk yang banyk akan ngaruh terhadap sistem pengontrolan/pemantauan dari pemerintahnya. Tapi, menurut saya, Jerman menjadi negara yang bersih dan disiplin, bukan hanya karena peduduknya tak sebanyak Indonesia, tapi, memang jiwa disiplin dan tata prilaku yang baik dalam hal penanganan sampah, lalu lintas dan hal lainnya, sudah tertata sejak kecil. Jadi, ketika mereka dewasa, ya sudah kebawa, Contohnya juga, Singapura, negara tetangga kita. Disana, kalau lagi antri, ya sangat tertib sekali. Gak ada dorong-dorongan, sikut-sikutan apalagi gak sabaran kayak orang kita.

      Kalau menurut saya sih, ini terkait faktor budaya, kebiasaan, dan ketegasan dari Pemerintah setempat. Semoga nantinya, Indonesia tak hamya terkenal dgn keragaman etnik dan bahasanya saja, tapi juga terkenal dengan budaya disiplin, supaya negara kita ini tertata dengan baik.

      Terimakasih Mbak Aida sudah memberikan opininya, hehehe...

      Delete
  2. waaaaaa seruuu banget punya temen bulee mbak eka pasti betah tu dikubikel tiap hari hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoi..betah bingittss. Bahkan, sebulan belakangan ini, sebelum dia pulkam, meja kami sebelahan lo. Jadi, jarak antara say dan dirinya sangat dekat sekali, hanya 10 centi, hahahha

      Delete
  3. ada emak2 keb yang tinggal di JErman,pernah cerita juga kalao hidup di Jerman itu enak,pendidikan gratis memang dan negaranya disiplin.Wah,salut nih sama tobi,jurusannya keren ya...
    salam kenal mak,baru main di blognya^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ya mak, enak banget tinggal disana, jadi pengen euy main ke Jerman, pengen lihat kehidupan dan keberihan kotanya, plus kejernihan sungainya. Tobi memang keren, pilih Jurusan Studi Asia Tenggara, dan spesifiknya Indonesia. Makasih ya Tobi, sudah memilih negara kami, hehhe

      Salam kenal juga Mak Zwan..

      Delete
  4. wah...Tobi dan Jermannya keren ya. anakku mau ta'sekolahin disana aja deh.*mupeng.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk Mbak Novie, kita Ke Jerman yuk, buat nyekolahin anak-anak disana. Gratis sekolahnya euy..., hehehe

      Delete
  5. hehe namanya imut..tobi, dan sepertinya cocok dengan namanya ketika ternyata bang tobi orangnya ndak jaim...ndak cocok kalau jaim nih :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hohoho..Iya mas.. meski namanya imut, tapi orangnya gak imut, malah besaaarrr dan montok, hehehe.. Si Tobi juga asik dan ramah, jauh dari ja'im...Makasih mas Zaairul sudah mampir...

      Delete
    2. sama2 mbak...jujur saya suka blog yg menshare catatan2 hrianny sperti ini...hehe :)

      Delete
    3. Yup, catatan harian atau cerita sehari-hari kita, kalau menarik dan berguna, emang wajib tuk dibagikan, supaya menambah wawasan.... hehehe

      Delete
  6. Baca ceritamu, kok saya jadi ngerasa kenal banget sama Tobi. Dan itu lhoo...kok dia mau ninggalin kampungnya yang sebersih ituu?? Jd maluu + salut berat sama Tobi, dan makin cinta sama negeri sendiri. Nice post! terimakasih yaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, senangnya kalau Mbak Mutia merasa kenal sama Tobi, gegara membaca tulisan ini. Sebenarnya masih banyak cerita ttg pria Jerman ini, tapi gak mungkin kalau ditulis semua disini, ntar kayak novel dong, hehehe ...

      Iya, si Tobi rencananya mau kerja di Indonesia nih,.gak sayang Tob ninggalin Jermannya..?hehehe

      Delete
  7. Kayaknya orangnya humble gitu ya mak....pasti asik berteman dengan tobi...:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asyik banget Mak si Tobi...makanya nih tulisan sengaja dibikin buat dia, biar kenangannya gak pupus, hehehe....

      Delete
  8. Namanya juga ule pasti tubuhnya tinggi dan besar yaa mba, btw kapan tobi ke indonesia lagi mba? sekalian mampir ke kota tasikmalaya gitu :D hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe, gak tau kapan doi ke sini lagi... Wah, asik ya kalau ntra dia ke sini, diajak jalan-jalan ke Tasikmalaya ketemu Wida, hehehe

      Delete
  9. Nanti kalau tobi ke medan kabari saya mbak, biar saya jadi guide nya hahah,

    Ittu kok kenang2an untuk tobi ada cabulnya ya? Gegara suka liat cewe ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. wew, kamu tinggal di Medan ya..? Boleh nih jadi guidenya Tobi, hehehe

      Ah, tut..biasalah..tulisan orek-orek yg penuh kecabulan buat Tobi, hehehe ..sekedar iseng saja..hehehe

      Delete
  10. Seru banget ceritanya, saya sampe anteng baca dari awal sampe akhir. Jadi inget, dulu waktu SD ada temen juga dari Jerman, udah bisa bahasa Indonesia juga. Emang unik bertemen sama yang beda bangsa dan negara, jadi banyak pengetahuan baru :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak..seru temenan sama bule, jadi bisa nambah wawasan dan sharing...:) Makasih sdh anteng bacanya, hehehe

      Delete
  11. hahaha seru baca ceritanya Mbak....kyknya klo profiling temen lain lg pasti kocak jg

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karen dia bule, makanya menarik untuk di profilkan, hehehe..Di kantorku ada 2 orang lagi bule, cewek, pengen jg rasanya bikin cerita kayak gini tentang negara mereka :)

      Delete
  12. ngakak mbak liat foto terakhir

    "menurutmu, tobi itu: babi?, cab*l?"
    wkkwkwkw

    eh sekilas mukanya mirip pesepak bola FC Internazionale, Lukas Podolski
    bedanya, Tobi lebih 'ndut :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tobi itu baby kami, cum,,yah..gitu deh, anak -anak iseng nulis baby-nya dengan babi, hehehe

      Ouw, mirip Lukas Podolski ya, Rul.... ??

      Delete
  13. tempat kuliah si tobi keren banget ya mba, aduh beruntung sekali dia dapet foto bareng bang iwan fals..
    kayanya dia beneran orang jerman (jeroan manonjaya) gxgxgxgx

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya dong, masak Jermannya boong-boong-an, hehehe....
      Aku juga ngiler lihat tempat kuliahnya Tobi..adem banget itu tempat....;)

      Delete
    2. keren banget deh tempat kuliahnya,diindonesia belum ada yang seperti itu yah :D

      Delete
  14. Suamiku dulu juga sekolahnya di Bonn...dan dia jg bilang kalo sekolah di sana itu beda ama Indonesia dr sistem pelajaran... kalo di indo kita cendrung sangat textbook sekali. sementara di jerman, murid2 diajarin utk aktif cari tau dan bertanya :)..

    Tapi jerman yg pernah aku dtgin memang keren...kotanya perpaduan antara modern dan klasik... rumah2 dan gereja bergaya lampau malah jd magnet yg bikin tangan ga berhenti motret :D.. Blm lagi bekas tembok berlin yg penuh sejarah.. g pgn pulang kalo udh di sana :D.. Apa daya cuti udh abis -_-...

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, asyiknya Mbak Fanny sdh pernah ke Jerman... bangunannya keren2 ya....
      Banyak cerita dong dari suaminya ttg Jerman... jadi pengen kesana juga dakuh...hehehe

      Delete
  15. Keren yah mba suasana kampus'a bikin betah aja

    ReplyDelete
  16. Pengalaman yang bagus dan mahal ini ya mba!

    ReplyDelete
    Replies
    1. yoi ...dapet teman plus wawasan asik jadinya..:)

      Delete
  17. cieeeee mba eka foto bareng sama bule :D ikutan dong mba di foto sama bule hhehehehe

    ReplyDelete
  18. Temenku ada yagng kuliah di jermqn. Dapet beasiswa s1 dan s2 sekarang lagi ikutan ngambil s3 dan berencana ngga pulang. Disana enak dan pendidikannya bagus. Kerjaan juga dihargai banget. Wihhhhh.... ke jerman ah.... hehehe. Ceritanya seru. Salam kenal

    ReplyDelete
    Replies
    1. wow, jadi betah ya temennya di Jerman...Pengen juga jadi euy ke negara ini...

      Salam kenal kembali, Dodon...:)

      Delete
  19. bersih banget ya di jerman, coba kalau di Indonesia kaya gitu duh ademnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, pengen deh Jakarta adem begonoh..pasti semua org berbondong ke ibu kota...hiiihi

      Delete

Hai teman-teman...

Silahkan tinggalkan komentar yang baik dan membangun ya....Karena yang baik itu, enak dibaca dan meresap dihati. Okeh..?