Jamu oh jamu...Dicintai Orang, Dilestarikan Indonesia.

Diana Pungky. Sbr gbr:disini
Dari dulu sampai sekarang, saya suka sekali memandangi wajah artis sinetron Diana Pungky. Dia adalah artis wanita tercantik di Indonesia ini, versi saya tentunya, hehehe. Tengoklah wajahnya yang bak boneka dengan kulit putih halus dan wajah yang fresh awet muda. Padahal usianya sudah kepala 4, lo. Tentu semua itu ada perawatan yang dia lakukan. Mulai dari peeling, lulur, creambath, totok wajah dan sebagainya. Tapi, ada satu rahasia alami dan tradisional yang dia pakai juga. Ya, selain melakukan perawatan dari luar ia juga selalu melakukan perawatan dari dalam. 

Aha, rupanya mbak yang satu ini suka minum jamu-jamuan yang dibuat khusus oleh neneknya, sebagai perawatan dari dalam.  Dan jamu favoritnya adalah beras kencur, ia mengkonsumsinya setiap hari. Kebiasaannya ini, didapat dari neneknya yang selalu menyuruhnya untuk minum jamu ketika masih belia dulu. Sampai sekarang, kebiasaan itu masih ia lanjutkan. 
 
Ouw, ternyata, dengan glamour dan mewahnya hidup seorang Diana Pungky, tapi ia tetap mengandalkan jamu, sebagai salah satu cara tuk menjaga kualitas kulit dan kesehatan tubuhnya. Dari alam, kembali kealam, sepertinya itulah prinsip hidup sehat yang ia pegang. 
 
So, jamu itu bukan milik orang desa atau kalangan menengah kebawah  saja lo. Jamu itu milik semua kalangan. Gak orang desa, gak orang kota semua minum jamu. Mau dia direktur, pejabat atau pegawai kantor biasa seperti saya, semua suka jamu. Yang sudah tua dan masih AbG-pun, saya lihat doyan-doyan aja tuh sama minuman dari khasiat tumbuh-tumbuhan ini.  Eits, Pak Jokowi dan Pak Jusuf Kallapun, suka jamu, lo.

Pak Jokowi & Pak Jusuf kalla pun  minum jamu  Sbr gbr;disini

Gak heran sih kalau banyak yang suka jamu. Selain minuman ini tradisional dan terbuat dari bahan-bahan alami/herbal, juga ada khasiat luar biasa didalamnya. Eh, gilanya lagi, ini ramuan murah dan terjangkau harganya. Ehm, yang murah dan banyak khasiat, pasti dicari dan disukai orang. Iya kan...?


Dari dulu sampai sekarang, beras kencur dan kunir asam, tetap dihati.

Untuk masalah jejamuan atau obat-obatan herbal ini, keluarga kami tak asing lagi. Bahkan, sampai sekarang masih mengandalkan khasiat yang berada dalam tumbuhan untuk mengatasi berbagai penyakit.

Dibuat dari bahan-bahan alami, berupa bagian dari tumbuhan seperti rimpang (akar-akaran), daun-daunan, kulit batang dan buah, lantas diracik dengan bahan tambahan seperti air dan gula jawa, itulah jamu.  Biasanya sih, jamu itu terasa pahit sehingga perlu ditambah madu sebagai pemanis agar rasanya lebih dapat ditoleransi peminumnya. Bahkan ada pula jamu yang ditambah dengan anggur, lagi-lagi, ya, untuk mengurangi rasa pahitnya itu.

Ragam bahan jamu. Sbr gbr ;disini

Dari kecil, saya sudah akrab dengan jamu. Ibu, ayah, uwak dan saudara-saudara saya, semua doyan sama minuman yang menyehatkan ini. Kami biasa membelinya dari si mbok jamu yang sering lewat depan rumah, yang setiap pagi selalu teriak dengan lantangnya: "jammuuuuuu...." dengan busana khasnya. Berkain larik panjang, kebaya model jadul dan rambut yang dicepol. 

Jamu gendong. Sbr gbr :disini
Jika si mbok jamu datang kerumah saya, beras kencur dan kunir asam, tak pernah saya lewatkan. Saya suka sama dua jenis jamu ini. (Aih, sama dong saya kayak Diana pungky, yang suka sama beras kencur. Pantesan saya mirip sama doi #eh..:P)

Beras kencur itu rasanya manis dan gemuk. Terbuat dari bahan utama beras dan kencur, ditambah dengan gula jawa. Meminumnya, dapat menghilangkan pegal-pegal pada tubuh dan penyegar saat habis bekerja. Yang selera makannya lagi turun, jamu ini bisa meningkatkan nafsu makan, lo. Nah, buat yang lagi teruhuk-uhuk alias batuk,  beras kencur ini juga bisa meringankannya.
Jamu beras kencur. Sbr gbr: disini
Sedangkan kunir atau kunyit asam, rasanya asam dan sedikit pahit, tapi  cocok dilidah saya. Untuk yang sedang mengalami panas dalam, jamu ini monggo dicoba, karena bisa menyegarkan tubuh dan menghindarkan dari panas dalam, sariawan, melancarkan haid, serta membuat perut menjadi dingin. 
Jamu Kunir /kunyit asam  Sbr gbr :disini

Selain itu, ada juga yang namanya Jamu Cabe Puyang. Untuk anda yang mengalami pegal linu, kesemutan dan demam, bisa dicoba nih jamu.  

Tapi, saya juga suka yang rasanya pahiiiittt pake banget, atau sering disebut jamu pahitan. Nah, jamu yang pahit ini saya minum kalau lagi gak enak badan, biar bisa ngusir itu penyakit dalam tubuh, hehehe. Biar pahit, tapi khasiatnya banyak, lo. Salahsatunya untuk gatal-gatal, kencing manis, kurang nafsu makan, menghilangkan bau badan, menurunkan kolesterol, perut kembung/sebah, jerawat, pegal, pusing dan lain-lain. Kalau saya sih, mesti dicampur dengan beras kencur dan kunir asam saat meminumnya, supaya kening saya gak terlalu berkerut, saking menahan rasa pahitnya, hehehe...
Sambiloto, adalah bahan baku dasar dari jamu pahitan. Tapi, racikan pahitan juga bervariasi, lo. Ada yang hanya terdiri dari sambiloto saja, tetapi ada pula yang menambahkan bahan-bahan lain yang rasanya juga pahit, seperti brotowali, widoro laut, doro putih, dan babakan pule.

Nah, setelah minum yang pahit-pahit, oleh si mbaknya, biasanya langsung disodori sama jamu wedang jahe yang dicampur gula jawa dan sereh. Ah, lidah yang mengecap rasa pahit langsung berubah jadi rasa manis dan sedikit pedas, tapi nikmat. Wedang jahe inilah biasanya minuman penutup sesudah kita berjamu ria. Sampai sekarangpun saya masih suka minum jamu, masih tetap setia membeli dari si mbak jamu gendong yang hampir setiap hari melintas didepan kos-kosan saya. Anak-anak kos ditempat saya, juga pada suka minum jamu. Dengan harga Rp.3000, saya sudah bisa menenggak segelas jamu rasa apapun yang saya inginkan. Tapi, kalau mau tambahan telor ayam kampung, ya nambah lagi dong bayarannya, hehehe...

Wedang jahe. Sbr gbr ;disini

Dalam satu bakul gendongan yang selalu dibawa mengikuti kemanapun langkah kaki si mbaknya berjalan, ada sekitar delapan jenis jamu yang biasa dijual yaitu beras kencur, cabe puyang, kudu laos, kunci suruh, uyup-uyup/gepyokan, kunir asam, pahitan, dan sinom. Ssstt..., asal tau aja ya, dari beragam jenis jamu gendong,  dari dulu sampe sekarang, beras kencur dan kunir asamlah yang tetap nempel di hati.


Mengenal TOGa sejak dulu...

Daun sambiloto. Sbr gbr ;disini
Ngomongin soal jamu, pasti berkaitan dengan TOGA dong ya, alias tanaman obat keluarga. 

Dulu, sewaktu Almarhum ayah saya masih ada, hampir setiap hari, kami disuruh merebus daun sambiloto, tuk menyembuhkan penyakit kencing manis yang ia rasakan sejak sepuluh tahun lebih. 

Dengan meminum air dari rebusan sambiloto, memang tidak langsung menyembuhkan penyakitnya, karena obat alami dari tumbuh-tumbuhan bukan seperti pil atau kapsul farmasi yang langsung terasa efeknya. Tapi paling tidak, minuman ini  bisa meringankan, sekaligus mengimbangi residu obat-obatan dari bahan kimia yang diresepkan oleh dokter, yang dikonsumsi ayah saya setiap hari. Daun sambiloto yang imut dan kecil itu, kami tanam di halaman rumah. Tanaman ini bisa tumbuh dimanapun. Tak susah merawatnya, dan gampang banget tumbuh subur. 
 
Manfaat dan khasiat sambiloto ini banyak, lo. Selain tuk menyembuhkan diabetes, bisa juga mencegah pembentukan radang, menurunkan tekanan darah, dan tifus, radang tenggorokan, malaria, panas demam, sakit gigi, dan sebagainya.

Daun nangka. Sbr gbr disini.
Selain sambiloto, kakak perempuan saya juga seiring merebus daun nangka. Kebetulan disekitar rumahnya ada pohon nangka. So, untuk menghilangkan rasa gak enak badan, nyeri-nyeri dan melegakan tubuh usai pulang kerja, ia selalu merebus sekitar 30 puluhan daun nangka, hingga airnya kental dan berwarna kuning seperti teh. Ketika sedang ada di rumah kakak, dan badan rada gak enak, sayapun mencicipi air rebusan itu. Rebusan daun nangka ini, rasanya tidak pahit, tapi juga tidak manis. Mirip-mirip seperti teh tawar, tapi rada sepet.  Meminumnya, badan saya lumayan ringan.

Tak hanya itu saja manfaat daun nangka, selain menyegarkaan tubuh, daun yang punya buah lezat ini juga bisa menyembuhkan kanker, melancarkan ASI, mengobati luka, mengatasi hipertensi dan mencegah infeksi, serta melancarkan pencernaan. 

Oh ya, waktu kecil dulu, sekitar umur 4 atau 5 tahun, saya susah buang air kecil,  keluarnya cuma sedikit.  Ibu saya panik. Namun, ia mendapat informasi, kalau daun kumis kucing bisa membantu melancarkan air seni yang sedikit itu. Untunglah, kami memang menanam tanaman kumis kucing di halaman rumah, jadi, gak perlu repot mencari kemana-mana. Padahal, waktu menanamnya dulu, niatnya sih cuma tuk hiasan pekarangan rumah saja. Tapi, begitu tau khasiatnya bisa meredakan sakit yang saya alami, daunnyapun langsung dipetik dan direbus. 

Daun kumis Kucing
Saya meminumnya. Seingat saya, rasanya gak pahit ya. Tapi, namanya juga anak kecil, biasa makan permen dan ngemut yang manis-manis..eh..malah disodorin rebusan tanaman. Kebayang gak sih, saya menyeringai duluan ketika melihat minuman itu disodorkan. Berhubung saya takut dimarahi karena menolak minum itu air, ya saya minumlah rebusan air kumis kucing itu. 

Sampai sekarang, kalau saya melihat penampakan tanaman yang bunganya mirip dengan kumis kucing ini, saya langsung teringat dengan masa lalu, hehehe. Dan, sampai saat inipun saya masih mengandalkan tetumbuhan obat Indonesia untuk meredakan sakit. Seperti jeruk nipis dicampur kecap manis atau madu, tuk sembuhkan batuk. Alhamdullilah meringankan. Ya, sejak dulu, saya sudah mengenal TOGA, disaat belum maraknya tanaman ini dipublikasikan dan digalakkan. Ah, makasih Ibu...

Jeruk nipis dan madu, masih jadi andalan..

Jamu, kini....

Dulu, jamu atau minuman dari tumbuh-tumbuhan, hanya diproduksi oleh industri rumahan saja, dengan alat dan cara tradisional juga tentunya, seperti jamu gendong atau rebusan tanaman berkhasiat  yang saya katakan tadi.

Seiring dengan perkembangan jaman dan kemajuan tehnologi, saat ini jamu tak hanya diproduksi oleh industri rumahan saja, tapi juga diproduksi di pabrik-pabrik jamu oleh perusahaan besar, dengan mesin dan tehnologi canggih. 

Kini, jamu bisa kita jumpai dalam bentuk bubuk yang dibungkus kemasan sachet, dan dijual di berbagai toko obat dan supermarket. Terkadang, penjual jamu gendong masa kini yang tak bergendong ria lagi, alias sudah memakai sepeda atau gerobak, dengan busana biasa, bukan kebaya lagi, juga menyediakan jamu kemasan ini. 
 
Nah, dengan bentuk sachet, kita bisa menyimpannya dan kapan mau dibuatpun ya sesuai kebutuhan, serta praktis dibawa kemana-mana. Tapi, kalau mau dibikinin sama si mboknya juga agak apa-apa. Siapa tau jamu sachetnya  pengen diaduk-aduk sama tangan gesitnya si mbak, hehehe.. So, tinggal diseduh dengan air panas saja, bubuk jamu tadi menjadi jamu cair kembali, dan siap di tenggak. Eh, gak cuma sachet lo, kini jamu juga diracik dan dijual dalam bentuk tablet, kaplet dan kapsul. Ulala, luar biasa ya perkembangan jamu. Dengan bentuk seperti ini, tentu sangat memudahkan jamu tuk di ekspor, dijadikan oleh-oleh, atau dikirim kemana gitu, ya. Lebih praktis!  Semakin lestari.


Potensi Pasar Jamu

Dulu, waktu saya masih kecil, sering sekali melihat gerobak-gerobak yang menjual jamu kemasan yang biasa nongkrong di pasar atau tempat keramaian. Kebanyakan bapak-bapak, atau abang-abang sih, yang singgah menikmati segelas jamu pilihannya. Lantas, semakin berkembangnya jamu, menjamur pula toko-toko yang khusus menjual jejamuan. Produknyapun digandrungi oleh banyak orang dan laris. Bahkan, kini gerai-gerai jamu pun sudah nongkrong di mall elit dalam bentuk cafe atau outlet yang rupawan. Pengunjungnya tak hanya orang tua, tapi juga anak muda dari berbagai kalangan. Jamu sudah ngemall, euy. 

Salahsatu contoh tampilan gerai jamu. Sbr gbr :disini

Ya,  ada banyak alasan kenapa orang suka jamu, selain banyak juga yang  sudah tau manfaatnya. Multi khasiat lo jamu itu. Dapat digunakan untuk pengobatan lebih dari satu penyakit. Misalnya, jamu yang mengandung bawang putih, tidak hanya bersifat antivirus namun juga menurunkan kadar kolesterol dan menguatkan jantung. Begitupun dengan daun sambiloto, daun nangka atau daun kumis kucing  yang saya ceritakan tadi, dengan satu jenis daun, tapi bisa mengobati ragam penyakit. Bahkan, jamu juga seringkali memberikan efek meluruhkan racun dalam tubuh (detoksifikasi). Selain itu, produk alami ini gampang ditemukan, dan harganya relatif terjangkau. 
 
Nah, jamu, sebagai warisan budaya bangsa, bisa lo menjadi aset nasional yang berpotensi besar menjadi komoditi dunia di tengah maraknya gairah tren kembali alam. Ya, potensi pasar industi jamu di Indonesia sangat menjanjikan. Hal ini dikarenakan penggunaan jamu tradisional di Indonesia terus meningkat. Masyarakat sekarang ini semakin mengarah ke produk alami sebagai obat. Sayapun begitu. Bagi saya, produk alami seperti jamu memiliki kualitas yang tidak jauh berbeda dengan produk farmasi lainnya, dan harganya juga lebih terjangkau. Apa yang tersaji dialam itu, sudah dirancang Tuhan untuk diberikan manfaatnya pada manusia. 
Stand jamu. sbr gbr : disini
Namun, untuk bisa bertahan di industri jamu, pelaku industri harus mampu beradaptasi dengan kebutuhan konsumen. Karena itu, dibutuhkan inovasi dan gebrakan pelestarian jamu untuk menyesuaikan pasar. Tidak hanya pasar lokal, tetapi juga harus mampu mengikuti pasar internasional, sehingga produk jamu dari Indonesia bisa diminati di mancanegara. Dan, sudah ada lo beberapa jamu merk terkenal yang di ekspor ke mancanegera. Tapi, kalau lebih banyak merk lagi yang berhasil memembus pasar Internasioal, wah itu baru keren!

Ya, industri jamu di Indonesia ini, jika mampu di ekspor, akan sangat menjanjikan. Karena 95 persen bahan pembuatannya, ya dari lokal, dari tanaman yang tumbuh subur di Indonesia. Beruntunglah kita tinggal di negara ini, selain kekayaan alam yang melimpah, tumbuh-tumbuhanpun memberikan keuntungan dan manfaat bagi penduduknya. Dan jika kita mampu mengelola tanaman tadi menjadi sebuah minuman yang menyehatkan dan dijual dengan kemasan menarik, tentu potensi pasar jamu mudah untuk dikembangkan, karena kita sudah punya bahan yang berlimpah. 

Selain itu, perkembangan obat bahan alam, amat berkaitan dengan etnis dan proses sejarah yang membentuknya. Misalnya, tanaman obat yang digunakan untuk satu indikasi penyakit tertentu, terkadang digunakan untuk penyakit berbeda di daerah lain. Ini menunjukkan kekayaan budaya yang tersebar di pelosok nusantara.


Yang perlu diperhatikan saat mengkonsumsi jamu.

Jamu adalah continuum of care, begitulah para pakar dunia obat-obatan tradisional menyebutnya. Istilah tersebut mengisyaratkan bahwa jamu adalah minuman kesehatan yang baik untuk manusia dari segala usia. Tapi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan apabila ingin mendapatkan manfaat sebesar-besarnya dari mengkonsumsi jamu. 
 
1. Higienis kah jamu yang anda minum...?
Untuk urusan jamu-jamuan yang beredar dipasaran, kita tetap perlu berhati-hati, karena beberapa jenis jamu tradisional diproduksi tidak secara higienis dan bahkan dicampur zat-zat kimia sehingga berbahaya bagi tubuh. Mulai dari saringan atau alat-alat yang tidak bersih saat mereka meracik jamu, atau  bahan-bahan yang tidak diolah secara benar. Dalam hal ini yang berbahaya bukan jamunya, namun kontaminasi jamur dan zat tambahannya.

2. Sering menggunakan botol plastik. 
Sekarang, banyak jamu gendong yang mewadahi dagangannya dengan menggunakan botol plastik. Padahal, menggunakan botol plastik bekas air mineral yang berulang-ulang, itu bahaya! Plastik mengandung bahan-bahan yang tidak baik untuk kesehatan, seperti Bisphenol-A dan PVC (polyvinyl chloride). Jika tubuh kita terkena zat PVC, maka akan berbahaya untuk ginjal, hati dan berat badan.


Apalagi, botol-botol plastik bekas air mineral, kebanyakan memiliki kode Polietilen Tereftalat (PET). Nah, kode ini adalah untuk plastik yang kedap air serta gas, biasanya berwarna jernih. Plastik ini bisa melunak pada suhu 80 derajat Celcius dan sebaiknya hanya dipakai sekali saja, tidak boleh dipakai sebagai wadah tuk air hangat/panas.  

Sedangkan, jamu gendong, kan berbentuk cair tuh, ada kemungkinan ketika mereka menuangkan cariannya kedalam botol plastik, dalam kondisi yang masih hangat. Nah, kalau sudah begitu, maka zat-zat berbahaya yang ada dalam plastik akan menguap dan tercampur dalam cairan jamu. Ngeri, kan..? So, pilihlah jamu gendong yang penjualnya menggunakan botol beling, seperti gambar dibawah ini.

Jamu wadah botol beling sbr gbr : disini

3.Pemanis buatan
Yang wajib kita ketahui juga adalah, jika menemukan atau merasakan jamu yang menggunakan pemanis buatan. Nah, artinya itu menyalahi aturan dan menyimpang dari tujuan pembuatan jamu, yaitu untuk menyehatkan dan menjaga kesehatan badan. Kalau pemanis buatan, sudah lain lagi ceritanya, bukan bikin badan sehat, malah tubuh kita terkontaminasi zat-zat yang berada dalam bahan pemanis buatan tadi. Jadi, kita perlu hait-hati. Jamu dengan rasa manis, harusnya dibuat dengan menggunakan gula jawa, gula pasir, atau gula batu. Penggunaan gula asli ini merupakan keharusan bagi penjual jamu dengan alasan kesehatan.

4 . Bercampur bahan kimia.
Pengobatan tradisional yang meracik jenis tanaman menjadi penawar penyakit sudah diturunkan dari generasi ke generasi. Sayangnya, di tangan segelintir orang jamu tradisional ini dicampur dengan bahan kimia obat keras hingga menimbulkan jatuhnya korban jiwa. 
 
Sudah sering terjadi kasus jamu oplosan dengan bahan kimia menyebabkan nyawa melayang. Bukan faktor jamu herbalnya, namun bahan kimia obat kerasnya. Ya, penambahan obat kimia dalam jamu sudah sering ditemui, umumnya di daerah pantai utara Jawa (pantura) untuk konsumsi para supir. Selain obat kimia, beberapa jenis jamu juga dioplos dengan minuman keras yang mengandung alkohol dan etanol. Kenapa jamu dicampur bahan kimia oleh orang-orang yang bertanggung jawab ini..? Alasannya sih, kalau hanya minum jamu saja, biasanya tidak akan langsung memberi efek segar. Makanya, jamu seperti pegal linu atau rematik, sering dicampur obat kimia agar bisa langsung membuat badan terasa enak.  

Untuk itu, anda patut menaruh curiga pada jamu yang memberikan efek khasiat dalam waktu yang singkat. Ini dikarenakan bahan kimia pada obat lebih cepat bereaksi  daripada jamu, yang memang tidak memberikan efek instan, namun jika rutin dikonsumsi hasilnya bisa membuat badan bugar dan stamina meningkat, jika pemilihan bahan baku dan pengolahannya tepat. Tapi, jika nekad memberikan bahan kimia,  tentu hal ini menyebabkan jamu tidak alami lagi dan melenceng dari keasliannya.
  
5. Interaksi jamu dan obat farmasi
Jamu, memang sih, bisa dibeli siapa saja dan di mana saja, karena itu, kalau mau beli jamu ya gak perlu pake resep dokter atau pergi ke apotik. Meski begitu, sebaiknya kita tetap berkonsultasi dengan dokter bila sedang mengkonsumsi obat herbal bersamaan dengan obat farmasi, karena dikhawatirkan terjadi interaksi obat.

6. Perhatikan kondisi usia dan  kondisi kesehatan.
Sejak bayi dalam kandungan, hingga sudah manula, semua ada ramuan jamunya untuk menjaga kesehatan. Tapi kalau bayi, sebaiknya setelah masa ASI eksklusif selesai, atau usia 6 bulan ke atas, baru boleh diberi jamu. 
 
Ibu hamilpun boleh mengkonsumsi jamu. Namun ibu yang sedang hamil tadi,  harus paham betul, ramuan jamu apa yang ia konsumsi, dan apa tujuannya bagi diri dan kandungannya. Jangan sampai terulang lagi peristiwa tragis di Yogyakarta. Ada seorang ibu hamil rajin meminum jamu cabe puyang, bahkan hingga trimester akhir masa kehamilannya. Akibatnya ia menjadi susah kontraksi saat melahirkan. Ternyata, jamu cabe puyang tadi berkhasiat untuk menghambat kontraksi, yang sebaiknya diminum hanya saat awal masa kehamilan. Nah....

7. Perhatikan Komposisi formulanya
Untuk meracik dan mengkonsumsi jamu, juga ada komposisi formula yang harus diperhatikan. Yang pertama, bahan penyusun ramuan tidak toksis atau bersifat racun. Kedua, bahan yang digunakan tidak salah, tidak berlebihan dan harus ada takarannya. Sama dong, kalau kita minum obat farmasi, kalau kelebihan dosis atau keseringan, pasti akan menimbulkan efek samping, begitu juga dengan jamu. Yang berlebihan itu tidak baik bukan...?

8. Tak ada Izin edar dan tak melalui BPOM 
Hati-hati, lo, banyak  jamu kemasan yang tidak memilik izin edar,  tidak melalui BPOM (Badan Pengawasan Obat-obatan dan Makanan), dan tak mencantumkan informasi kadaluarsa.  Ini tentu berbahaya. Karena bisa saja jamu racikan mereka tidak memenuhi standar racikan/kesehatan yang telah ditetapkan. Ujung-ujungnya, orang yang minum jamu tadi bukannya sehat, malah jadi sakit atau keracunan. So, ada baiknya kita membeli jamu kemasan, pil, tablet, dari perusahaan terpercaya yang mencantumkan  izin edar, lolos BPOM dan ada masa kadaluarsa pada kemasannya.

Perlunya Penelitian dan Pengembangan Jamu

Meski jamu itu tradisional, alami dan dari bahan herbal, tapi sayangnya, banyak juga jamu yang belum melalui proses uji kelayakan. Sayangnya, masyarakat Indonesia itu, kalau sudah fanatik dengan jamu, maka ketika sakit, tanpa pikir panjang lagi, langsung mengkonsumsi tanaman yang ada disekitar mereka, yang “katanya” bisa menyembuhkan penyakit. Padahal, tanaman tersebut sebagian besar belum dapat dibuktikan sebagai fungsi obat secara uji klinis, sehingga belum dapat diketahui apakah memiliki kontaradiksi pada saat penggunaannya, memiliki efek racun dan takaran dosis optimum sehingga dapat berfungsi sebagai obat yang manjur atau tidak. 
 
Karena itulah, Biofarmaka IPB, meneliti jamu yang merupakan ciri khas dan warisan berharga dari turun temurun nenek moyang bangsa Indonesia ini. Hal ini menjadi perhatian penting bagi para ilmuan untuk lebih menggali keanekaragaman hayati yang dapat mengeksplor informasi tentang tanaman jamu sebagai obat herbal yang berfungsi utama untuk kesehatan. 

Kantor Pusat Studi Biofarmaka IPB.

 
Pusat Studi Biofarmaka PSB sebagai salah satu Lembaga Penelitian dan Pengembangan yang memiliki visi menjadi Pusat Unggulan Riset dan Inovasi Teknologi Bidang Biofarmaka di Tingkat Nasional dan Internasional. Lembaga ini  mengambil peranan penting untuk terus berupaya meningkatkan citra dan peran produk obat herbal jamu Indonesia melalui penelitian-penelitian yang terintegrasi dari hulu ke hilir. 
 
Untuk mencapai visi yang telah ditetapkan tersebut,  Biofarmaka IPB memiliki salah satu misi yaitu mengembangkan ilmu, teknologi dan seni yang berorientasi ke depan yang berbasis penelitian sehingga mampu menghasilkan luaran IPTEK, potensi, dan prodak biofarmaka yang memenuhi syarat pendidikan, publikasi, paten dan berorientasi HaKI yang mendukung kemandirian bangsa.

Nah, kalau Biofarmaka IPB  sudah berperan mengembangkan ilmu, teknologi dan seni agar jamu bisa lestari, kita sebagai masyarakatpun wajib mendukung dan membantu gerakan tersebut, dengan cara :
 
1. Mengenalkan jamu sejak dini pada anak-anak

Beberapa waktu lalu, teman saya yang bekerja sebagai Public Relation disalah satu perusahanaan elektronik bercerita, kalau ia bersama perusahaannya mengajak anak-anak SD yang ada di Bogor tuk mengenal tumbuh-tumbuhan yang ada di Kebun Raya Bogor, dalam rangka menggalakkan pendidikan lingkungan, sebagai misi dari program CSR perusahaan. 

Nah, dalam kesempatan tersebut, mereka juga diberi wawasan tentang tanaman-tanaman obat dan khasiatnya. Eh, mereka juga diajarkan meracik jamu lo disana. Yang mengajarkan langsung bagaimana cara pembuatan jamu didepan anak-anak SD tadi, adalah si mbak jamu gendong yang biasa berjualan jamu. Salahsatu yang diperagakan adalah pembuatan jamu beras kencur dan kunir asam, yang bahan-bahannya juga diambil dari Kebun Raya Bogor. Ya, mengenalkan jamu pada anak-anak sedini mungkin, akan membantu kepopuleran jamu dan tanaman obat.

Anak-anak mendengarkan penjelasan tentang pembuatan jamu. Sbr gbr :disini

2. Ada pelajaran khusus yang membahas mengenai kekayaan biodiversity di Indonesia. 

Jika disetiap sekolah ada ada pelajaran khusus yang membahas mengenai kekayaan biodiversity di Indonesia, termasuk didalamnya memberikan paparan atau pengetahuan tentang tanam-tanaman obat yang bisa berguna tuk kesehatan tubuh, tentu ini akan menambah khasana dan perbendaharaan tanaman bagi adik-adik kita. Tahu gak, kalau kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia menempati urutan kedua dunia setelah Brazil, lo. Namun dari ribuan tumbuhan yang ada di Indonesia, baru sejumlah kecil yang telah memberi sumbangan berarti bagi kesejahteraan bangsa. Indonesia memiliki sekitar 9.000 spesies tumbuhan obat, namun hanya 350 spesies yang teridentifikasi dan baru sekitar 3 - 4% yang telah dimanfaatkan secara komersial. 

sbr gbr :disini

Lalu mengapa potensi luar biasa itu belum dapat dimanfaatkan seluruhnya secara optimal? Nah, untuk itulah penggalian potensi dan sosialisasi keanekaragaman hayati melalui pelajaran disekolah-sekolah, sangat mendukung agar potensi yang kita milik lebih menjamur dan optimal.

3. Menggalakkan tanaman obat keluarga atau TOGA. 

Jika disekitar kita terlihat ada lahan kosong, mending dimanfaatkan tuk menanami TOGA, daripada lahannya dibiarkan tidur. Di masing-masing rumah, di halaman perkantoran, maupun di lahan pabrik perusahaan, sebaiknya kita tumbuhkan tanaman obat yang beragam, seperti mangga,  jambu biji, sereh, belimbing dan sebagainya. 

Andai lahan pekarangan rumah anda kecil, bisa disiati dengan menanam menggunakan media pot atau wadah plastik yang tidak terpakai. Tapi, harus disesuaikan dengan rentang lingkup hidup tanaman. Tanaman yang bisa kita tanam di pot misalnya seledri, sambiloto, cabe, kumis kucing, lidah mertua  dan sebagainya. Banyak cara yang bisa dilakukan kalau kita memang niat tuk melestarikan TOGA.

Nah, TOGA bisa ditanam di pot. Sbr gbr ;disini

4. Laporkan Tanaman Baru

Jika menemukan tanaman baru, unik dan langka,  yang dirasa berkhasiat untuk mengobati penyakit, namun tanaman tersebut belum populer, kita bisa melaporkan atau memberitahukannya kepada lembaga yang berwenang seperti Biofarma IPB, untuk diteliti lebih lanjut. Agar koleksi tanaman obat kita lebih bervariasi.

5. Kreatif memproduksi kemasan jamu 

Agar masyarakat tidak bosan dengan bentuk jamu yang selama ini berbentuk cair, bubuk atau pil, produsen jamu harus lebih kreatif lagi mengemas jamunya supaya tidak membosankan dan menarik, terutama bagi anak-anak. Misal, membuat permen rasa kunir asam, roti rasa wedang jahe, minuman kotak rasa beras kencur atau martabak manis dengan olesan jamu...? Kenapa tidak...?

7. Hadirkan jamu di event pesta kuliner 

Di Indonesia banyak pihak yang sering mengadakan acara tuk menunjukkan ragam kuliner di Indonesia. Di Jakarta sendiri, sudah 8 tahun ini rutin menggelar JFFF atau Jakarta Fashion and Food Festival. Gak ada salahnya setiap kali ada festival kuliner, mengajak pedagang jamu tuk turut berpartisipasi di ajang tersebut. Selama ini, kok saya tidak pernah melihat ada jamu di ajang yang keren itu. Pun diajang Pekan Raya Jakarta PRJ yang bertaraf Internasioanal. Memang sih, ada stand jamu dari salahsatu perusahaan besar yang ikut mejeng di PRJ,  tapi hanya satu atau dua merk. Padahal, ada banyak sekali perusahaan atau industri rumahan yang memproduksi jamu. So, sesekali unjuk gigi diajang yang bunafit itu, merupakan salah satau cara yang keren tuk melestarikan dan mempromosikan jamu. 

Saya membayangkan, jika di dalam area PRJ itu ada sekelompk si mbok jamu gendong, di area atau stand khusus, lengkap dengan busana kebaya khasnya, wah, tentu ini akan menarik perhatian pengunjung, terutama wisatawan mancanegara. Selain memperkenalkan jamu pada turis, kita juga sudah menonjolkan kebudayaan daerah di mata mereka.

Salah satu stand jamu di PRJ. Sbr gbr : disini

8.Memberi Workshop tuk pedagang jamu
 
Dari sekian banyak pedagang jamu, bisa saja, ada yang tidak atau atau sengaja memberikan pemanis buatan pada jamunya, supaya lebih mudah dan praktis. Atau, yang lebih parah lagi mencampur bahan kimia, agar jamu terlihat lebih “bekerja”. Hal itu bisa terjadi, karena minim dan awamnya ilmu pengetahuan mereka tentang jamu. Baik dari sisi racikannya, dosis, dan dampak dari apa yang mereka lakukan. Untuk itu, lembaga terkait atau pemerintah perlu memberikan semacam sosialisasi atau kegiatan workshop tuk para penjual jamu, agar mereka lebih paham dan mengerti bagaimana cara meracik jamu yang benar, termasuk takaran dan kebersihannya.

Sekaligus, memberikan lagi pengetahuan tentang tanaman-tanaman lainnya yang bisa juga dikelola sebagai jamu, selain tanaman yang sering mereka racik selama ini. Dengan begitu, tentu ragam jenis dan rasa jamu yang sering dijual si mbak jamu gendong atau jamu-jamu yang sudah berbentuk kemasan, lebih bervariasi lagi. 

Nah, untuk jamu kemasan, pedagang jamu wajib tahu soal regulasi, izin edar dan harus melalui BPOM (Badan Pengawasan Obat-obatan dan Makanan) agar produk yang mereka jajakan legal dan benar-benar telah teruji kualitasnya untuk kesehatan. 

9. Kontes jamu & magang

Beberapa waktu lalu ada kontes Ratu Jamu Gendong, yang diadakan oleh salah satu perusahaan jamu. Ini merupakan kontes kecantikan dan talenta yang ditujukan kepada para jamu gendong berskala nasional. Tujuannya untuk apresiasi dan pelestarian penjual jamu seluruh Indonesia, guna mendukung industri jamu agar semakin berkembang. Dalam kontes tersebut, salah satu penilaian adalah memperagakan cara meracik jamu didepan orang banyak. 
 
Pemenang ratu jamu Gendong . Ayu rek.. . Sbr gbr disini
Nah, ini juga salah cara yang unik tuk melestarikan jamu. Hadiahnya adalah sejumlah  nominal uang. Menurut saya, selain sejumlah uang untuk modal pengembangan jualan jamu, lebih asyik lagi kalau pemenang dan semua finalisnya diberi kesempatan magang di perusahaan yang mengadakan kontes tersebut. Atau boleh juga magang di lembaga penelitian seperti  Biofarmaka IPB, agar mereka lebih tau bagaimana kinerja tangan-tangan ahli yang meneliti khasiat ratusan tanaman di Indonesia itu. Itu akan menambah wawasan para pedagang jamu tentang tanaman obat. Selain itu, mereka juga diajarkan cara menjaga kebersihan dan takaran jamu yang benar. 

 10. Rajin update tentang tanaman obat di media sosial. 

Kalau kita menemukan  tanaman unik yang berkhasiat pada saat browsing, yang kurang familiar atau yang sudah familiar di masyarakat, informasi tadi bisa di update ke jejaring sosial. Apalagi bagi yang punya ratusan follower di twitter atau pertemanan dalam jumlah banyak di facebook, itu cara yang ampuh tuk menyebarkan informasi.  Jangan lupa untuk follow atau mention akun twitter yang memang bergerak dibidang perkebunan, keanekaragaman hayati atau penelitian tanaman untuk dikembangkan lebih lanjut, seperti akun @BiofarmakaIPB, supaya tweet kita bisa di respon atau di retweet hingga menyebar. 

Untuk teman-teman yang bekerja sebagai media social speasialist di perusahaannya masing-masing, tak ada salahnya juga memberikan tweet atau tulisan di akun jejaring sosialnya untuk mempromosikan tanam-tanaman yang berkhasiat, agar wawasan masyarakat berkembang. Biasanya, kalau akun twitter perusahaan atau brand, followernya bisa puluhan ribu. Apalagi bagi perusahaan yang bergerak dibidang minuman, makanan, kesehatan atau lingkungan.  Ini tentu efektif tuk mengenalkan tanaman obat kepada orang banyak. Misalnya memberikan informasi soal tanaman yang kurang familiar di masyarakat, tapi punya manfaat bagus.  

Sisik naga, contohnya, saya baru mendengar nama tanaman ini. Rupanya berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Biopharmaka IPB, tanaman ini berkhasiat sebagai anti jamur atau anti bakteri, dan tidak mempunyai efek sitotoksik pada sel kanker. Nah, masyarakat wajib tau akan hal ini. Tugas kitalah yang membantu tuk menyebarkannya. 
 
Tanaman Sisik naga.

Ada lagi tanaman Ki Cantung. Pernah dengar nama ini..? Nah, tanaman ini bisa digunakan tuk menyembuhkan jerawat lo, karena bisa membunuh bakteri. Dan batangnyapun bisa berfungsi untuk mengusir serangga, dengan cara batangnya dibakar terlebih dahulu....Tuh, keren kan? Banyak sekali nama-nama tanaman yang gak kita kenal, tapi dengan rajin mencari tau atau browsing soal tanaman obat,  kita bisa mendapatkan informasinya.

Ki Cantung

Dengan mengadakan lomba blog tentang segala hal yang berhubungan dengan jamu, ini juga bermanfaat untuk melestarikan jamu. Karena semakin banyak yang menulisnya, maka akan menambah sumbangan informasi yang semakin mendongkrak kepopuleran minuman khas Indonesia ini. Selain itu, opini  jamu dari sudut pandang masing-masing orang bisa di evaluasi dan dipahami, untuk menambah tujuan dan fungsi dari apa yang dilakukan oleh lembaga penelitian itu sendiri. Dan bagi masyarakat atau pembacanya, tentu akan menambah wawasan tentang ragam jamu dan tanam-tanaman yang berkhasiat, yang tersembunyi dibalik bumi gemah ripah loh jenawi ini. 

Ya, nenek moyang bangsa Indonesia telah mewariskan pengobatan bahan alam yang amat kaya dan beragam. Dan, Tuhan telah memilih Indonesia tuk menurunkan khasiat ciptaannya di bumi pertiwi ini. Kita yang tinggal di negara inilah yang patut melestarikannya, agar tak dilupakan atau lekang oleh waktu.

Melestarikan dan memanfaatkan jamu, berkaitan erat pula dengan upaya pelestarian lingkungan hidup. Karena tanaman yang menjadi bahan baku jamu tradisional Indonesia adalah tanaman obat  jenis rimpang, daun-daunan dan kulit batang/batang yang berperan dalam upaya mengurangi efek pemanasan global yang melanda dunia akhir-akhir ini. Nah, jika, pemanfaatan tanaman jamu berjalan dengan baik dan lancar, tentu akan ikut menopang perekonomian petani.
 
So, begitu banyak hikmah yang dipetik jika kita bergerak tuk melestarikan jamu. Tak heran rasanya kalau UNESCO mendukung penetapan jamu sebagai warisan budaya dunia. Tak salah juga, kalau dari dulu sampai sekarang saya masih mencintai dan mengkonsumsi jamu. Dan tak bisa dipungkiri, jamu memang memiliki khasiat luar biasa, kerenanya, dari dulu sampai sekarang, jamu itu tetap dihati. 

Jamu oh jamu...Dicintai Orang, Dilestarikan Indonesia.

 
 Sumber : 
-http://jamu.journal.ipb.ac.id/
-http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collection/611-herbal-plants-collection-sisik-naga
-http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collectionhttp://biofarmaka.ipb.ac.id/publication/journal
-http://hot.detik.com/read/2013/11/08/090037/2407055/763/ibu-hamil-dan-bayi-aman-meminum-jamu-asal

-http://www.apoteker.info/Topik%20Khusus/negara_jamu.htm
-http://health.kompas.com/read/2010/08/24/12425161/Jamu.Herbal.Tak.Sebabkan.Kematian
-http://www.berkhasiat.com/2013/06/khasiat-daun-sambiloto.html

-http://www.makinsehat.com/2014/03/manfaat-daun-nangka.html
-http://tri-corner.blogspot.com/2013/02/kandungan-khasiat-daun-nangka.html

19 comments :

  1. Wah baru tau ada kontest ratu jamu wkwkwkw, gak heran kalau orang tua yang hidup sebelum era sekarang pada sehat-sehat karena sejak kecil sudah terbiasa dengan obat-obatab herba dan jamu yang ga pake bahan kimia buatan.

    Saya sendiri terakhir minum jamu setahun yang lalu, itupun dibikinin oleh Ibu saya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sau juga baru tau kalau ada kontes ratu jamu gendong mas, ya gara-gara browsing tentang jamu ini, hehehe... Woh, pinter bikin jamu toh ibunya..? Saya jadi pengen nyicip juga, hehehe..

      Delete
  2. wahhhh.. ini artikel lengkap banget!
    Tapi malu ah rada gak suka jamu.. karena alasan klise, pahit. cuma suka kunyit asam dan beras kencur. padahal bagus sekali buat kesehatan.

    makasih artikelnya bermanfaat banget nih mbak!
    salam kenal ya (^ ^,)

    http://www.sukamakancokelat.blogspot.com/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Ayu, kalau memang gak biasa minum jam, tentu akan terasa pahit. Sebenernya bukan pahit kali ya, tapi karena cairannya yang kental, jadi terasa pahit. Kecuali kalau memang jamu pahitan, walah itu memang pahitttt pake banget, hihihi. Tapi, berhubung saya sejak kecil memang sudah direcokin sama jamu, jadi sdh terbiasa, hehehe.. makasih ya sdh mampir, salam kenal kembali...

      Delete
  3. saya baru berencana membuat toga ...salam kenal mba :) www.rinasusanti.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk yak yuk, mari menanam TOGA.. nanti kasilh liat penampakan dna hasilnya, ya... hehehe. Makasih Rina, salam kenal kembali..

      Delete
  4. Duh.. wajahnya Diana Pungky memang kinclong dan halus banget ya.. dari sejak saya kecil udah suka liat dia, pasti banyak yg pingin punya kulit indah kayak dia.
    Itu to rahasianya... coba ah ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoi...wajah Diana Pungki itu memang kece badai ya, rupanya ada peran jamu dibalik kecantikannya. Yang tradisional, tak dilupakan olehnya..:) Makasih Zakia..

      Delete
  5. waaa pasti ini menang lagi nih mbak eka hehe, secara runtut apik mudah diresapid an dipahami...dan mbak sukses saya nobatkan mirip diana pungky wkwkwk kapan" boleh donk motoin mbak eka yg mirip diana pungy ihieerr hehe... Hidup Jamu... hidup pak Presiden smga kuat minum jamu josshh dah hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuahaha, kamu org yang ke seratus kali deh yang menobatkan diriku mirip Diana Pungky...hihihihi.....Gara-gara jamu, bisa bikin orang jadi sehat, kinclong, bugar dan kuat ya....:)

      Delete
  6. wiuhhh, mbaca tulisannya mbak eka ini gak ada habisnya lengkap nggak setengah setengah, menjiwai banget lengkap dan penuh makna, ngomongin jamu tentunya saya masih ingat banget di pikiran saya waktu hidup di desatepatnya desa simbantan nggorang gareng magetan jawatimur,setiap pagi pasti minumnya beras kencur hangat, dari SD sampai kira kira SMU karena bibik saya dulu jualan. sekarang dah lama gak minum mbak jadi pengen tapi ditempat sekarang susah dapatnya hampir ga ada penjual. BTW, saya baru tahu kalau daun naangka juga bisa di rebus dan di minum mbak. nice post...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, bibiknya mas Yuli jualan jamu toh waktu msh di Jatim, wah asyik dong.. Emang skrg tinggal dimana mas..? Iya, daun nangka ternyata selain menghasilkan buah yang lezat, daunnya jg berjuta manfaat dan gratisan,anugrah dari alam, hehehe

      Delete
  7. Berarti saya harus mengikuti jejak Diana Pungky yang, meski sudah berkepala 4, masih kelihatan awet muda.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoi mas... kalau jejaknya baik, murah dan alami, kenapa tidak kita ikuti... Saya saja sudah mengikuti jejak Diana Pungky,hehehe. tapi emang belum mirip bener sm dia, hahaaha

      Delete
    2. Ah, masa sih saya mirip sama Diana Pungky, ah saya tau pasti yang mirip jempolnya ya, hahahha

      Delete
  8. Mantap artikelnya...komplit banget informasinya... Memang tak bisa dipungkiri bhw jamu adalah kuliner asli nusantara warisan nenek moyang kita... Kita juga patut bersyukur dan berbangga hati bhw produk jamu ssh ada yang dipasarkan sampai ke LN... Ini menandakan bhw orang asingpun mengakui khasiat jamu utk menjaga stamina agar tetap sehat dan bugar... Ngomong2 masalah jamu aku adalah penyuka jamu sejak kecil... Awalnya ikut2an mama minum jamu gendong langganannya... Ketika remaja dibelikan jamu kemasan utk gadis remaja... Kata mama biar aku tumbuh menjadi gadis remaja yg sehat... Hingga saat ini aku msh minum jamu koq... Hampir tiap pagi aku minum jamu beras kencur dan kunir asam yg dijual si embok jamu di dkt kantorku... Btw, met ngontes semoga sukses GAnya...dan artikelnya termsk jadi pilihan juri utk menang...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mbak Rita..wah sama kita ya, penyuka jamu sejak kecil. Saya juga awalnya gara-gara mama saya sering beli jamu gendong, jadi saya ikutan minum juga. Sampai skrg jamu itu tetap khas di hati kita ya..Tos dulu mbak, kita banyak kesamaan ya, hehehe Makasih ya sdh mampir...Makasih juga doanya, hehehe

      Delete
  9. kunjungan ke dua.....
    manfaat banget website/Blog nya.....
    keep posting yang positif gan/sist..
    ijin lihat-lihat blog/website nya ya.....

    jangan lupa kunjungi website nya ya :)

    Perumahan di Bekasi
    Daftar rumah Murah Tambun-Bekasi tahun

    ReplyDelete

Hai teman-teman...

Silahkan tinggalkan komentar yang baik dan membangun ya....Karena yang baik itu, enak dibaca dan meresap dihati. Okeh..?