Mengapa tak dari rumah saja....?



Santai internetan dari rumah. Sbr foto;disini
Dua tahun lalu, teman kantor saya, meninggal dunia karena sakit komplikasi ginjal. Yang saya ingat darinya, sebelum berpulang kepada yang kuasa, dengan kondisi kesehatan yang sudah menipis, semangat kerjanya tak pernah padam. Ia tetap mau bekerja, dengan kondisi tubuh yang sakit, sempoyongan dan tentu tak fit seperti kala ia masih sehat. Ia, tak bisa lagi dikirim tuk liputan kesana dan kesini. Rumah sakit pun sudah tak terhitung lagi berapa kali ia datangi untuk berobat ataupun rawat inap.

Pihak kantor kami sangat bersipamti padanya. Bukan karena ia termasuk karyawan senior dan punya reputasi yang bagus, tapi karena gelora jiwanya yang terus hidup demi baktinya kepada pekerjaan dan perusahaan temapt ia mengais rezeki. Ia merasa punya tanggung jawab, karena masih menerima gaji bulanan, dengan kondisi yang sering keluar masuk rumah sakit. Artinya, bisa dikatakan ia tak aktif lagi dikantor. Mungkin, ia tak enak hati kalau harus memakan gaji buta. Walaupun management kantor sangat memakluminya.

Ketika ada masanya ia telah keluar dari rumah sakit (walaupun belum sembuh dan harus tetap kontrol) maka ia menyempatkan diri tuk datang kantor. Tuk bekerja. Semangatnya masih menggelora.

Namun, dengan kondisi tubuh yang sudah sakit parah, sungguh tak memungkinkan melihatnya harus datang kekantor setiap hari. Akhirnya, ia diberikan keringanan tuk bekerja dari rumah. Mengirimkan tugas-tugasnya melalui email dan berkomunikasi dengan atasan atau teman sekantornya melalui jejaring sosial atau fasilitas pesan pendek pada handphone. Jadi, ia tetap bisa bekerja tanpa harus merepotkan diri sendiri dan orang lain yang harus mengantar atau menjaganya dikantor, kalau-kalau penyakitnya kumat, misalnya. Istrinyapun bisa mendampinginya, tuk sekedar mengingatkan agar ia jangan lupa minum obat atau beristirahat. Interaksinya pada anaknya yang masih balitapun pastinya lebih intens. Jadi, semuanya bisa dikerjakan lebih mudah tanpa membebani siapapun. 
 

Kenapa belajar tak dilakukan dengan e-learning saja..?


Belajar langung dari internet. sbr foto;disini
Nah, melihat apa yang dilakukan oleh Almarhum teman saya ini, ketika itu saya berfikir, andaikan sistem pembelajaran di Indonesia juga bisa dilakukan dari rumah,  secara jarak jauh melalui perangkat komputer dengan koneksi internet atau jaringan, tentu sangat memudahkan para siswa, orang tua dan juga guru. Apalagi, buat yang tinggal di Jakarta. Ehmm, tau sendirikan, dengan kondisi lalu lintas ibukota yang begitu padatnya ketika dipagi, siang dan sore hari. Pulang sekolah, anak-anak sudah teler. Bukan hanya capek karena belajar disekolahnya, tapi juga capek karena berjam-jam melalui jalanan ibukota yang gak tau kapan akan sepi dari kendaraan lalu lalang itu.

Begitu juga saat mereka harus berangkat kesekolah yang jam masuknya sekitar jam 7 atau 6.30 pagi buta itu. Wah, kebayangkan jam berapa mereka harus bangun tidur demi mencapai ke sekolah tepat waktu, supaya tak dimarahi guru dan tak ketinggalan pelajaran sekolah..? Padahal, bisa saja, sang anak masih ngantuk, belum tidur yang cukup atau badannya masih terasa capai...?

Apalagi, kalau kita lihat didaerah-daerah, yang mana jarak antara sekolah dan tempat tinggal/ pemukiman penduduk cukup jauh. Aksesnya susah pula. Guru dan siswa, pasti repot. Ketika sampai disekolah, bukannya fokus mengajar, yang ada malah capek duluan. Belum lagi jika ada siswa yang tak bisa hadir di kelas karena alasan sakit, izin atau hal  lainnya, yang membuat mereka jadi tak bisa mengikuti pelajaran.  

Tapi, hal itu tak perlu terjadi atau bisa diminimalisir, kalau sistem e-learning sudah diterapkan. Ya, dengan media yang menyajikan tehnologi internet, guru tinggal mengirimkan bahan-bahan yang dia ajarkan pada muridnya yang absen tadi. Atau, kalau ada latihan soal, ya bisa dikirimkan juga satu paket dengan bahan pelajaran tadi. Jadi, siswapun  bisa mempelajari atau mengerjakan latihannya, tanpa harus melihat catatan buku dari teman-temannya. Dan gurupun, tak perlu dua kali tuk menjelaskan pelajaran yang sama. Iya, kan..?

Dan masih banyak lagi beberapa alasan, kenapa sih kita tidak belajar dari rumah saja..?

Kan bisa toh, anak-anak yang masih dalam tahap perkembangn itu diarahi oleh gurunya melalui sistem belajar e-learning melalui internet..? Lantas siswa mengikuti petunjuk apa yang diinginkan dan diperintah oleh guru. Sementara, orang tua bisa mengawasi aktifitas belajar sang anak. Jadi, banyak  keunggulan yang didapat. Sang anak tak perlu capek datang kesekolah, orang tua juga akhirnya punya banyak waktu banyak tuk bersama dengan sibuah hati. Sementara, bapak dan ibu guru bisa juga melakukan aktifitas lainnya sembari tetap memperhatikan pembelajaran yang dilakukan oleh siswanya.

Apa itu e-learning dan manfaatnya?


Ilustrasi E-Learning. Sbr foto;disini
Ehm, ngomongin soal belajar jarak jauh melalui internet, atau yang biasa disebut e-learning, ini adalah Sistem pembelajaran elektronik yang merupakan cara baru dalam proses belajar mengajar. E-learning merupakan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Dengan e-learning, murid tidak perlu duduk dengan manis di ruang kelas untuk menyimak setiap ucapan dari seorang guru secara langsung. Jadi, bisa mempersingkat jadwal target waktu pembelajaran, dan tentu saja menghemat biaya yang harus dikeluarkan oleh sebuah program pendidikan. 

Secara sederhana e-learning dapat diartikan sebagai suatu proses pembelajaran yang memanfaatkan teknologi informasi berupa komputer yang dilengkapi dengan sarana telekomunikasi (internet) dan multimedia (grafis, video, dan audio) sebagai media utama dalam penyampaian materi dan berinteraksi antara pengajar dan pembelajar, dari jarak jauh.

Dengan E-learning, anak dapat belajar dengan tidak terikat pada ruang dan waktu. Buah hati kita akan dapat belajar kapan saja, tidak terikat pada kegiatan pembelajaran di dalam kelas. E-learning merupakan kegiatan belajar siswa yang menyenangkan, sebab dengan proses pembelajaran berbasis komputer ini disajikan materi pembelajaran yang interaktif. Siswa dapat memilih sendiri materi pembelajaran yang diperlukan, sehingga pemahaman siswa terhadap materi tersebut dapat ditingkatkan. 

Misalnya e-learning menggunakan CD-ROM (multimedia), siswa dapat membuka kembali pelajaran tersebut di rumah dan belajar sendiri. Mengapa demikian? Dalam multimedia, pelajaran dapat dipelajari sendiri karena terdapat feedback dan dilengkapi animasi yang cukup menarik. Sehingga siswa akan termotivasi dalam belajarnya karena penyajiannya yang seperti permainan. Selain itu, sesuatu hal yang baru biasanya membuat seseorang lebih tertarik untuk mengetahui dan mencobanya. Apalagi dengan kemajuan teknologi, maka anak-anak  akan merasa tertantang untuk mampu menggunakannya. 

Bagi gurupun, manfaat dengan adanya e-learning, mereka bisa lebih mudah untuk melakukan pendalaman terhadap bahan-bahan pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya sesuai dengan tuntutan perkembangan keilmuan yang terkini. Mereka juga bisa mengembangkan diri atau melakukan penelitian guna meningkatkan wawasannya karena waktu luang yang dimiliki relatif lebih banyak. Serta bisa mengontrol kegiatan belajar peserta didik, meski dari jauh. 

Oh ya, sebenarnya materi e-Learning tidak harus didistribusikan secara on-line, lo. Tapi bisa juga distribusikan secara off-line dengan menggunakan media CD/DVD. Ini juga termasuk pola e-Learning. Tentu, dalam hal ini aplikasi dan materi belajar dikembangkan sesuai kebutuhan dan pelajar dapat memanfatkan hal tersebut dan belajar di manapun dia berada. 

E-Learning, bisa juga dilakukan secara informal dengan interaksi yang lebih sederhana, lo. Misalnya melalui sarana e-mail atau mailing list, e-newsletter atau website pribadi. Simple kan..? Gak harus terkesan serius kok, santai aja. Asal kita bisa mengerti dan memaknai ilmu/ arahan atau keinganan dari si pengajar yang posisinya tak berdekatan dengan siswa itu. Kalau kita diminta tuk mengirim jawaban soal atau latihan, misalnya, ya, tinggal kirim aja melalui email. Sampainyapun cepat, dan lebih bersifat rahasia. Siswapun tak kan bisa mencontek jawaban teman atau siswa yang lainnya. Jadi, mereka bisa mencari sendiri jawaban dari bahan ujian atau menelisisk pengembangn ilmu pengetahuan dengan berselancar didunia maya.

Nah, E-Learning bisa mencakup pembelajaran secara formal maupun informal. E-Learning secara formal, misalnya adalah pembelajaran dengan kurikulum, silabus, mata pelajaran dan tes yang telah diatur dan disusun berdasarkan jadwal yang telah disepakati pihak-pihak terkait (pengelola e-Learning dan pembelajar sendiri). 

Tapi, perlu dingat, E-Learning tidak diberikan semata-mata oleh mesin, lo, tetapi seperti juga pembelajaran secara konvensional di kelas, e-Learning ditunjang oleh para ahli di berbagai bidang terkait. Agar proses pembelajaran ini berjalan dengan baik sesuai tujuan dan aturan. 

So, pemanfaatan e-learning diharapkan dapat memotivasi peningkatan kualitas pembelajaran dan materi ajar, kualitas aktivitas dan kemandirian pelajar, serta komunikasi antara guru dan siswa.


E-learning akan ada diterapkan di sekolah Jakarta.


Ilustrasi: Sekolah Jakarta. Sbr foto;disini
Beberapa sekolah yang ada di Indonesia sudah ada yang menerapkan sistem ini. Di lampung misalnya, sudah ada sekolah yang melakukan e-learning. Bahkan, kabar terbaru lagi, nih, Pemerintah Provinsi DKI berencana menerapkan sistem pembelajaran elektronik (e-learning) di sekolah-sekolah yang ada di wilayah ibu kota. Wow..!

Tentu ini bertujuan agar bisa merealisasikan impian menjadikan Jakarta sebagai kota pintar atau smart city. Guna mewujudkan impian tersebut, Pemprov DKI akan mulai membangun sambungan fiber optic serta antena telekomunikasi mikro selular di sekolah yang ada di DKI.
Dengan cara tersebut, maka kegiatan belajar-mengajar di sekolah dapat berlangsung dengan sistem online. Tentu, fasilitas komputerpun harus memadai, agar semua siswa atau kelas kebagian sama rata tuk menggunakannya. 
 
Memang, tak gampang sih untuk menerapkan e-learning di Indonesia ini langsung dilakukan dirumah masing-masing pelajar. Namun, tak ada salahnya jika kita memulai langkah-langkah sederhana dulu. Misalnya, menerapkan e-learning tapi masih dalam lingkungan sekolah, sehingga masih bisa diawasi oleh guru. Sekaligus bisa dijadikan evaluasi untuk kedepannya, agar bisa mengembangkan program ini lebih baik lagi. Karena, bisa saja kalau dilepas dirumah, eh muridnya malah malas-malasan tuk belajar. Nah, peran orang tua juga sangat dibutuhkan tuk mengawasi disiplin waktu belajar anaknya, agar tak tersita dengan kegiatan lain. Bila perlu, ada komunikasi antara orang tua dan guru, demi mendukung program ini berjalan dengan baik.

Kitalah memang yang harus memulai inovasi ini, agar kedepannya bisa lebih berkembang menjadi e-learning yang benar-benar berdivinisi belajar dengan media internet secara jarak jauh itu, dari rumah, dari apartemen atau dari rumah neneknya si murid yang ada dimana gitu. 

Ya, dengan pembelajaran jarak jauh ini, dimanapun kita berada termasuk diluar negeri, bisa saja mengikuti pelajaran sekolah. Atau, kalau mau bertatap muka dengan guru melalui fasilitas skype/video pada ponsel atau laptop, kenapa tidak..? Supaya bisa terjadi percakapan langsung, agar siswa lebih jelas dan gurupun bisa menekankan apa yang menjadi keinginannya.

Ya, daripada siswa jadi tua dan stres dijalan karena kemacetan Jakarta yang tiada ampun itu, mendingan mereka belajar dari rumah masing-masing. Para gurupun tak harus ribet dengan urusan siswa yang ribut dikelas, misalnya, gara-gara berebutan pulpen, atau sibuk menghukum murid yang telat datang kesekolah karena bangun kesiangan atau terjebak macet dijalan. #pengalamanpribadi

Saling menguntungkan, bukan..?


E-Learning selamatkan hutan

Selamatkan Hutan!. Sbr foto;disini
Dengan program e-learning, kita tak perlu lagi membawa atau memegang buku yang tebal itu. Tinggal bawa laptop aja atau tablet kemana-mana, yang dengannya kita bisa melihat dan mendapatkan milyaran data dan ilmu pengetahuan. Lebih lengkap dari sebuah buku malah.

Kecenya lagi, dengan menghindari buku atau kertas, itu artinya kita sudah membantu penyelamatan hutan, lo. Ups, apa hubungannya kertas dengan hutan..? Nah, kertas itu terbuat dari kayu, kan..? Tuk mencari kayu itu, biasanya orang akan menebang berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus pohon, hanya demi menghasilkan lembar demi lembar kertas putih untuk keperluan kantor, sekolah atau industri lainnya. Iya kan..? Nah, kalau kita hemat kertas atau meminimalisir penggunaan kertas, berarti kita sudah bersikap ramah lingkungan dan menyelamatkan bumi. Karena, tanpa hutan yang merupakan paru-paru dunia itu, apalah artinya bumi. Ia akan kropos dan layu...Hikss..

Aih, teringat jaman sekolah dulu, ditahun 90-an, yang masing-masing setiap pelajaran berbeda-beda buku tulis dan buku cetak/fisik pelajarannya. Bayangkan jika dalam setahun kita menggunakan 15 buku cetak dan 20 buku tulis. Berapa ribu lembar kertas yang terpakai dan lantas (biasanya) akan mubazir begitu saja...? Karena sistem kurilulum pelajaran yang sering berubah setiap tahunnya, sehingga buku cetak edisi sebelumnya tak berlaku lagi. Kalau sudah begitu, artinya, berapa banyak pohon yang ikut “kita tebang”, hanya demi lembaran buku/ kertas yang akan menjadi “modal” pelajaran kita. Belum lagi mesti menahan beban dipundak ketika membawa tas yang berisi buku-buku fisik yang banyak itu.

Nah, kalau sekarang sudah ada yang lebih praktis, tak memerlukan kertas sebagai metode pembelajaran, tapi cukup dengan media internet saja, ya kenapa tidak kita dukung...? 

So, Mau belajar sambil selonjoroan dalam kos-kosan juga sah-sah aja. Mau ngikutin ujianpun, sambil duduk dipinggir kolam renang, ya, oke-oke saja. Mau mencari bahan pelajaran sambil ngemil singkong gorengpun, asyik-asyik saja. Ada internet, toh, penghubungnya. Posisi Bapak dan ibu gurupun, bisa saja mereka ada dimana-mana, yang penting tetap konsisten dengan tugasnya. Sehingga, yang namanya penggunaan kertas, benar-benar kita "istirahatkan" dulu atau selamanya.

XL menunjang program e-learning

Namun, disamping keuntungan-keuntungan yang didapat dari e-learning ini, ada juga lo pengganjalnya..? Apa tuh....? 
 
Biasa, internet yang lemot atau wifi yang kadang tak bisa diajak kompromi. Nah, lo, kalau sudah begini, bisa berabeh tuh, ntar ketinggalan waktu dan bikin panik. Tapi, dengan memakai provider XL, hal tersebut bisa diminimalisir. XL salah satu solusi untuk mencegah kelemotan itu. Karena jaringan XL terkenal sangat cepat dalam mengakses internet, dengan kecepatan hingga 7,2 Mbps.

Bahkan didaerah-daerah yang terpecilpun, yang justru provider lain belum masuk kewilayah itu, eh.. XL malah sudah bercokol dengan gagahnya demi memberi kemudahan akses informasi dan komunikasi bagi penduduk yang ada disana. Sepuluh tahun lalu, saya pernah bertandang ke daerah Kabupaten Belinyu, sebuah daerah kecil yang ada di pulau Babel, untuk urusan kantor.  Tak ada provider lain disana kecuali XL. Tentu, kehadirannya sangat membantu sekali bagi warga yang ingin berkomunikasi pada sanak saudaranya yang ada di tempat jauh. Sayapun, akhirnya bisa berkomunikasi dengan rekan kantor dan keluarga, karena XL sudah masuk disana. 
 
Tak hanya itu, sejak tahun 2009 lalu, melalui program XL Axiata, memberikan bantuan pemberian komputer kepada sekolah-sekolah yang membutuhkan, terutama sekolah yang ada didaerah, agar mendapatkan peluang akses teknologi yang sama. Hingga saat ini XL Axiata telah menyalurkan perangkat komputer ke 186 sekolah di seluruh Indonesia. Lengkap dengan pemberian modem internet dan fasilitas gratis akses internet selama 1 thn.

Nah, untuk para bapak dan ibu guru yang gaptek atau belum jago menggunakan komputer, XL pun memberikan pelatihan komputer dan internet bagi guru, agar semakin mengenal dan mampu memaksimalisasikan kegunaan internet sehat yang bekerjasama dengan ICT Watch. Ya, semua ini dilakukan agar program e-learning berjalan lancar dan sesuai dengan keinginan.

So, memanfaatkan e-learning akan berjalan lancar jika ditunjang dengan provider yang juga mendukung dan mengerti kebutuhan antara guru dan siswa untuk mengembangkan sistem pengajaran jarak jauh via internet ini. Untuk itulah XL sangat mendukung program ini agar banyak lagi siswa yang berprestasi tuk memajukan negeri, disamping sarana dan prasarana yang harus dilengkapi.
 
Wah, saya jadi pengen sekolah lagi, deh, kalau kayak gini. Kan, bisa belajar dari rumah sambil ngemil singkong goreng buatan mamak. Yummyy....


Sbr tulisan :
http://www.indonesiaberprestasi.com/kusi
http://id.wikipedia.org/wiki/Pembelajaran_elektronik
http://klipingut.wordpress.com/2007/06/14/peran-%E2%80%9De-learning%E2%80%9D/



4 comments :

  1. Widih, andaikan e -learning ini ada sejak dulu, enak banget ya bisa belajar sambil ngemil. Bener kata lo mbak.. Tapi, emang susah sih kalau mau diwujudkan dalam waktu dekat, fasilitas kompinya mesti banyk tuh di masing -masing sekolah. Apalagi banyak guru yang gaptek, heheheh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoih, fran, makanya gw pengen sekolah lgi mah kalau kayak gitu, hehehe.. Soal fasilitas kompi dan guru masih ada yang gaptek, pasti setiap sekolah akan mengusahakannya, sekalian mendorong guru agar melek internet, hehehe...

      Delete
  2. Ehm, kalo elearning langsung dirumah, kayaknya masih sulit mbak diterapkan, paling di sekolah atau dikampus-kampus aja dulu penerapannya. Artinya mash harus diawasi oleh guru. Karena, tau sendiri kan bocah zaman skrg hobinya main games dibanding belajar. Memang ada positifnya jg sih dg sistem ini. walau negatfinya juga masih banyak, hehehe.... tapi kalo inget kemacetan di Jakarta..iya ya, mending belajar dirumah aja tuh drpd kesel sm macet, hehehe.. Ini yang ngadain xl ya..?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak Novi, makanya perlu ada pengawasan jg pastinya dr ortu terkait hal ini, kalau e-learningnya dr rumah. Walaupun tuk smentara ini e-learningnya br melalui lingkungan sekolah-sekolah dulu. Tapiiii, buat kita yg tinggal di Jakarta, kayaknya pengen cepetan deh kalau e-learningnya dirumah saja, drpd jijik melihat kemacetan yang bikin semuanya jadi stres.. Siswa juga udah pasti capek duluan tuh, hehehe...

      Delete

Hai teman-teman...

Silahkan tinggalkan komentar yang baik dan membangun ya....Karena yang baik itu, enak dibaca dan meresap dihati. Okeh..?