Saya tak akan pernah lupa dengan lima hal ini.


Rainbow.Warna-warni indah  Sbr foto:disini


Saya tak akan pernah lupa dengan lima hal ini.


Hidup ini pernuh warna. Ada warna yang indah dan menyejukkan mata. Tapi, ada juga yang buram, tak enak dipandang. Warna yang indah dan tak akan terlupakan itu, adalah hal yang ingin saya bagikan disini. Mudah-mudahan, warna-warni indah lainnya akan segara menghampiri. Amin... 

Namun, sembari menunggu rainbow yang indah itu menghampiriku, saya akan berbagi dulu warna-warni lain yang sudah saya nikmati dalam hidup ini..... 

Cekidot!


1. Menghadapi ujian “sakral” nan menentukan

Ah, kalau mengingat masa-masa beberapa tahun silam, dimana saya gak bisa tidur karena harus menghadapi yang namanya sidang skripsi sebagai syarat untuk meraih gelar sarjana strata satu. Ups..buku tulis, buku cetak, dan makalah berantakan dikamar. Semuanya dipelototin. Eh, gak cuma diplototin aja ding, dibaca juga dong pastinya, hehehe. Bayangkan, saudarah-saudarah.... ketika kita harus mengulang atau mengaduk-ngaduk lagi pelajaran yang sudah lama kita makan dari semester satu sampai jelang akhir ujian, pasti banyak yang sudah terlupakan. 

Stres Ujian Kompre, karena skripsi? Sbr foto;disini
Yang bikin tensi darah naik lagi, ya kita gak tau, pelajaran atau hal mana yang akan jadi pertanyaan ketika sudah berhadapan dengan tiga orang dosen senior kampus. Haduh, was-was, deg-degan dan galau tingkat kabupaten, cuy (meski dulu belum rame istilah galau, hehehe) . Ehm, menjelang detik-detik hari H, semua fokus saya pada bahan skripsi dan buku kuliah. Mulut komat-kamit menghafalkan pelajaran yang dikira-kira akan jadi bahan pertanyaan. Siang malam tak pernah lepas berdoa, berharap yang terbaik dan lancar jaya. Cerita-cerita “menyeramkan” yang didengar dari orang-orang yang pernah ujian komprehensifpun, membayangi setiap saat. Pikiran negatifpun muncul: “Waduh, aku bakal lulus gak ya?” Malu euy, kalau harus ngulang lagi ujiannya. Turun deh pasaran, hahahha..

Sebenarnya, apa yang dijadikan bahan pertanyaan lebih condong kepada tulisan skripsi yang kita tulis, namun tetap saja saya harus punya cadangan ilmu-ilmu yang lain. Supaya gak bodoh-bodoh amat didepan tiga penguji itu. 

Ya, setelah deg-degan sepanjangan dirunag tunggu, melalui nama demi nama yang dipanggil satu persatu tuk masuk kedalam ruangan special itu, akhirnya...jeng-jeng..... tibalah waktu yang dinanti. Giliran saya yang harus duduk manis didepan dua pria paruh baya dan satu wanita berjilbab. Cercaranpun langsung meluncur. Sebisa mungkin saya jawab sebaik-baiknya, meski saya juga gak tau jawabannya saya benar atau salah, hahahhaha... Yang penting kita harus menjawab, jangan diam saja, karena akan terlihat bodoh dimata penguji. Usahakan dijawab. Itu prinsip saya. Bersilat lidah dikit atau ngeles-ngeles halus, sah sah saja, sih, wkwkwkwk.... #janganditiru.  Syukurlah tak sampai 30 menit, saya dipersilahkan keluar dari ruangan yang bersekat itu.  Dan diantara sekat-sekat lainnya ada juga tim penguji yang sudah bersiap dengan “korban” lainnya juga, hihihiihi...

Namun, setelah usai melaluinya dan mendapatkan nilai yang baik, ah...., berasa habis melahirkan baby...... legaaaaaaa rasanya. Serasa kepala saya disiram pakai air dingin yang efeknya langsung menyegarkan seluruh badan. Ah,..... 

Namun, proses tuk menghadapi sidang sakral itu, plus kecemasannya, hingga berlagak sok tau dan pintar di depan penguji, adalah moment-moment yang tak terlupakan dalam hidup saya,  sampai sekarang.


2. On air pertama kali diradio dan On Cam di lensa kamera

Ketika on air pertama kali diradio, alamaaaaak, gemetaran sekaliii......
Padahal, ini adalah hal yang paling saya tunggu. Bercuap-cuap diudara! Suara indah saya didengar banyak orang. Bisa interaksi dengan orang-orang diseberang sana, dan sebagainya. Yess! Namun, ketika hal itu benar-benar terjadi, saya justru kagok, ngeblenxs tingkat kelurahan dan kaku menghadapi tik tok lawan duet. Padahal, ketika itu, karena saya penyiar baru, jadi ditandemkan dulu sama penyiar senior. Tapi, meski siarannya berdua, ketegangan, menemani saya sepanjang siaran perdana dihari itu. Alamak, deg-degannya gak nahan cuy. Padahal, gak ada yang ngeliat, lo. Cuma ada 3 orang dalam studio. Cuma, secara psikologis, saya membayangkan kalau suara saya didengar oleh ratusan bahkan ribuan orang. Jadi, itu yang membuat saya tegang sepanjangan. Dan ketegangan itu masih bisa saya rasakan hingga saat ini, dan tak terlupa......

Siap-siap ya,  mau on air nih, hehe
Ehm,.......menjadi penyiar radio, adalah cita-cita saya sejak SMU. Saya sering ngoceh sendiri didepan cermin, layaknya sedang bersiaran diudara. Senang rasanya mendengar suara "cerewet" penyiar-penyiar yang mengudara di beberapa stasiun radio berkomat-kamit di udara. Ih, seru ya. 

Keinginan saya terkabul. Pasca menamatkan pendidikan S1, saya bekerja di stasiun radio swasta. Sebenarnya, ngelamarnya sih jadi bagian administrasinya gitu, tapi akhirnya dipakai juga tuk jadi penyiar karena diradio ditempat saya bekerja kurang tenaga penyiar. Begitulah awal kisahnya, hehehe....

Nah, kegrogian ketika on air pertama kali di udara, terjadi juga pada saat mesti ngomong/ laporan dilensa kamera tuk pertama kali. Yang kelak on cam saya itu, akan ditayangkan di televisi. Alamak, ini juga bikin saya tegang dan salah tingkah. Ngomongnya jadi blepotan didepan kamera. Padahal, skripnya sudah dihafalin. Tapi,..... karena saya kagok, akhirnya harus dilakukan pengambilan gambar berkali-kali oleh kameramennya, supaya lebih oke. Hiihihi... emang ya, kalau baru pertama kali itu, semuanya pasti selalu kagok dan tak sempurna. Hal inipun masih terekam dalam ingatan saya.


3. Pertama kali bertemu dengan  Surya Saputra.


Saya dan Surya saputra..Aih mak...
Gak nyangka banget bisa ketemu sama laki-laki gagah ini. Bertemu dan janjian dirumahnya lagi.. 
Duh, ketika ia keluar dari kamar pribadinya, saat saya dan dua orang teman, telah duduk di sofa yang ada didalam rumah mungilnya. 

Ow...saya kaget, melihatnya. 

Sesosok tubuh yang besar dan tinggi, langsung menyapa kami dengan ucapan “Assalamualaikum. " Lah, harusnya kami ya yang bilang duluan ke dia begitu, hihihi. Tapi, itulah salah bentuk bentuk keramahan dan penghormatannya kepada tamu. Kepada kami. 

Seusai mengucapkan salam dari balik pintu kamarnya, ia langsung berjalan menghampiri kami. Semakin dekat terlihat, ah, wajahnya segar dan bersih, namun matanya terlihat seperti baru bangun tidur. Bisa jadi, ia baru saja membersihkan tubuhnya di kamar mandi, berbenah dikit, lantas menemui kami. Ah, terima kasih mas Surya, kami disambut dengan bersih dan baik. Hehehe....

Asal tau saja, sepanjang perjalanan saya menuju rumahnya, jantung saya tak pernah berhenti berdetak kencang. Teman yang duduk disebelah saya dalam mobil kantor yang membawa kami menuju kerumah sang artis, tak tau tentang perasaan saya itu. Dia juga gak tau kalau saya ngefans sama Surya Saputra. Maka, ketika dia mengajak saya untuk menemaninya ke rumah aktor yang sudah membintangi beberapa film ini, untuk keperluan wawancara, tentu tak mungkin saya tolak. Ya, singkat cerita, bertemulah saya dan idola saya hari itu. Oh, God, laki-laki yang selama ini cuma bisa saya lihat di layar TV dengan badanya yang gagah, idaman setiap wanita itu, kini hadir dihadapan saya. Rasanya saya mau jumpalitan. Tapi, tak mungkinlah yauw...hihihi...

Ramah, lo orangnya, gak jaim. Ngobrol sama saya dan dua teman yang mengajak saya, gayanya biasa saja, kok.. Tak ada gap atau ngerasa ekslusif, seperti banyak dilakukan oleh artis lainnya. Menyenangkan sekali hari itu. Dan, ketika waktunya saya harus pulang dari rumah doi, dua orang teman sayapun, masih tak tau tentang adrenalin yang memicu darah saya ketika berada di dalam rumah artis sinetron itu. Mereka tak tau, betapa sumringahnya hati saya ketika mata indah saya dan dia saling bertemu, betapa riangnya jiwa ini ketika duduk berdekatan dengan sang idola. Dan mereka tidak tau kalau saya...............

Ah.......Saya memang tak memberitahukan hal ini kepada mereka. Biarlah kenangan ini saya simpan dalam hati saja. Dan hari ini, tuk pertama kalinya saya publish mengenai letupan-letupan kecil hati saya ketika itu, di dalam laman hijau ini.

Ehm.... setahun setelah itu,  akhirnya saya ada kesempatan tuk ngobrol bersamanya via telepon, juga untuk urusan janjian wawancara (nah, kali ini giliran saya yang wawancara doi, horeeehh..), pembicaraanpun mengalir, layaknya seperti teman. Lagi, tak ada sisi sok ngartis yang ia tonjolkan, haduh.....gue tambah suka sama nih cowok. Pun, semakin tambah tak bisa melupakan moment permoment ketika bertemu dan berbincang dengan suaminya Dewi Sandra ....eeh..udah gak lagi ya...maksudnya... Chintia Lamusu ini, hehehe....


4. Nonton konser tuk pertama kali...

Belum pernah nonton yang namanya konser artis didalam gedung tertutup dan berbayar, eh, sekalinya nonton, langsung melihat penampilan boy band luar negeri, Backstreet Boys, sekitar 7 tahun lalu. Gratisan pula. Maklum, sebagai reporter, saya dapat jatah ID khusus agar bisa masuk gratis tuk menikmati konser itu, sekalian liputan.

Backstreetboys. Sbr foto;disini
Nonton konser boyband adalah untuk pertama kalinya saya cicipi. Suasananya rameeeh, teriak-teriak dan loncat-loncat kayak ABG. Suara saya sampe habis, gara-gara rebutan teriak dengan sesama penonton lainnya.

Ehm, sebenarnya, saya teriak-teriak ketika nonton konser itu, bukan karena histeris melihat wajah-wajah bulenya empat cowok (dulu berlima) yang populer ditahun 90-an ini. Tapi,  teriakan tiu adalah pelampiasan atas beban hidup. Ya, mau jejeritan dipantai, kejauhan, jadi ya mumpung ada kesempatan tuk menjerit tanpa harus dilihat orang karena dianggap aneh, ya pada saat nonton konser itulah. Teman-teman samping kanan kiri saya, mengira saya teriak karena histeris melihat penampilan si om Boy band, padahal...... saya begitu karena pengen melampiaskan kekesalan yang saya pendam selama ini, hahahaha........

Dan pasca itu, sampai saat ini saya tak pernah nonton konser lagi. Bukan gak mau, tapi karena gak kebagian jadwal meliput acara konser lagi dari kantor, (harus giliran sama teman-teman yang lain) dan juga gak ada duit beli tiketnya yang super mehong itu. Kalau gratisan mah, saya oke-oke saja,. Hahahhaa....

5. Merasakan sensasi naik burung terbang pertama kali

Menanti pesawat datang
Serasa jantung saya mau ikutan terbang juga, ketika kecepatan mesin pesawat yang akan take off dari landasan pacu, begitu kencangnya. Adrenalinpun  berpacu kencang. Serasa mau jatuh. 

Pas, pesawatnya udah separuh naik, ngeliat kebawah takut......takut jatuh. Namun, rasa itu pudar, ketika si burung terbang yang akan membawa saya ke Jakarta kala itu, sudah berada diketinggian normal, jadi saya bisa melihat pemandangan indah dari atas. Mengamati mobil-mobil yang berseliweran dijalan layaknya semut beriring. Dan bisa melihat hamparan sawah terbentang. Sungguh indah. Eh, bisa melihat sungai yang berliuk-liuk pula, mirip badan ular yang sedang berjalan diam-diam mencari mangsa, hehehhe.... Ah, sungguh pengalaman pertama yang tak terlupakan.

Bisa duduk dibangku pesawat, dan terbang kesuatu tempat bersama burung besi itu, adalah salah satu impian saya yang kesampaian. Setelah, selama ini sejak jaman SMU dan kuliah, saya hanya berharap dalam hati, ketika melihat angkutan udara itu melintas diatas atap rumah saya. “Kapan ya saya bisa naik pesawat?”, begitulah kira-kira kata hati saya berkata kala itu. Alhamdullilah, kini tak terhitung lagi berapa kali saya bolak balik naik pesawat, baik untuk urusan kantor atau untuk keperluan lain. Thanks God. Semoga, keinginan saya yang lainpun, akan tercapai.

Ya, andaikan lima impian lain lagi tercapai, mungkin itu adalah rainbow hidup yang juga tak pernah saya lupakan. Dan, InsyaAlloh, jika saya berhasil menggapainya, saya akan membagikan sensasi rasa itu di laman hijau ini. Amiiinn... 

No comments :

Post a Comment

Hai teman-teman...

Silahkan tinggalkan komentar yang baik dan membangun ya....Karena yang baik itu, enak dibaca dan meresap dihati. Okeh..?