Saya Keder Jika Melakukan Hal Ini

Udara Dingin

Saya pikir kaki dan tangan saya terkena rematik, ketika rasanya sulit dan sakit sekali untuk ditekuk atau diajak berjalan. Apalagi, kalau bangun tidur, wah, susah.... sakiiiiit dan keram nya, terutama kalau harus berdiri. Saya serasa udah nenek-nenek berumur 60 tahunan. Sementara, pada bagian tangan, khususnya jemari saya, tiba-tiba tak ada tenaga sama sekali ketika harus memegang suatu benda. Misalnya, ketika mau mencolok kabel listrik ke tempatnya, telapak tangan saya gak bisa mendorong colokan itu secara kuat, agar berada diposisi yang pas. Tak ada tenaga., ulalalala.... Hal tersebut terjadi, ketika saya ditugaskan ke pulau Babel, 5 tahun yang lalu. Daerah tersebut memang dikepung oleh pantai. Jadi, wajar kalau tingkat kedingannnya lebih menohok. Bertolak belakang dengan konsisi tubuh saya yang sejak kecil biasa berada dikawasan yang cuacanya panas membara cetar membahana.
 Sbr foto:  vemale(dot)com

Setelah saya cari tau, dan membaca reaksi tubuh, baru sadar, ternyata saya alergi udara dingin. Duh! Tulang dan sendi saya langsung “ngambek”, ketika berhadapan dengan hal tersebut. Buktinya, ketika saya kembali lagi ke Jakarta, setelah habis masa tugas dipulau yang terkenal dengan tambang timahnya itu, eh, kaki dan tangan saya sudah normal kembali. Tak ada ngilu-ngilu lagi. Karena, tau sendirikan, cuaca di metropolitan ini gak main-main panasnya. Jadi, tulang dan sendi saya aman.  

Dan kini, setelah memasuki musim penghujan, yang mendekati puncaknya pula, (dari akhir 2013 hingga awal 2014) udaranya jadi dingin dong ya akibat curah hujan yang rutin, maka, hal yang sama ketika saya di pulau Babel itu, hampir terulang kembali. Gejalanya sudah terlihat dan terasa. Jemari dan telapak tangan saya mulai ngilu-ngilu, pun dengan kaki dan paha yang mulai merengek. Haduuh...Jangan macem-macem kalau saya nekad mo mandi malem.  

Btw, sebenarnya saya juga kurang ngerti, apakah gejala yang saya alami ini termasuk rematik atau tidak. Karena, setelah saya telusuri, ciri-ciri orang yang terkena rematik adalah adanya gangguan sendi yang bersifat menetap, nyeri ketika melakukan aktivitas sehari-hari seperti berjalan, duduk, berdiri, dan masih banyak lagi. Nah, sementara, nyeri pada sendi saya tidaklah menetap. hanya muncul ketika cuaca dingin saja. Tapi, tetap was-was, takutnya termasuk gejala rematik..?Duh... 

Apapun itu, .....Oh, dear, ternyata saya sensi terhadap yang dingin-dingin. Dari mulai alergi es, hingga udara dingin. Ehm, sepertinya saya harus mencari kehangatan, nih. Salah satunya dengan duduk atau tidur disebelah kompor, supaya badan saya hangat terus, haahaha......... Padahal, kamar saya bersebelahan dengan dapur, lo. Trus, apa hubungannya? hihiihihi.... 


Alkohol

Kulit wajah dan tubuh saya, langsung merah merona, lantas berubah merah membara seperti bekas kerokan, ketika terkena percikan, semprotan atau usapan air yang mengandung alkohol. Seperti penyegar wajah, roll on, parfum, splash cologne dan sejenisnya. Mau parfum murahan atau yang harganya nendang, gak ngaruh, bro! Semuanya akan meninggalkan “bercak” merah, kulitpun terasa perih.

Kenapa demikian? Karena alkohol mengandung zat ethanol yang bisa membuatkulit menjadi kering, karena sifatnya yang mudah menguap. Pada jenis kulit kering, kalau menggunakan kosmetik beralkohol, maka kulit akan bertambah kering. Selain itu, bisa juga menimbulkan reaksi alergi dan iritasi. 

Iritasi bisa terjadi pada semua orang, terutama bila kadar ethanol dalam kosmetik tinggi sekali. Sedangkan alergi terjadi hanya pada orang yang berkulit sensitif sehingga reaksi bisa berlebihan. Penggunaannya pada kulit berminyakpun mesti diperhatikan sekali karena bisa juga menimbulkan iritasi. Nah, itu dia alasannya. Kulit saya mengalami keduanya-duanya. Ya alergi, ya juga iritasi. Klop!

Haduh, gak heran, kalau saya konsultasi ke dokter kulit untuk mengobati jerawat, biasanya dikasih obat salep atau krim, tuh. Dan, wajah sayapun akan langsung terasa perih. Selain memang karena efek dari obat tersebut, ditambuh pula dengan kondisi wajah saya yang sensi, jadi, dampaknya berdobel-dobel, ya perih, ya merah, yang gak tahaaaann rasanya. Duh, mau cantik kok harus melewati siksaan dulu, ya.....


Kerang-kerangan

Kerang Hijau. Sbr foto;disini
Ini adalah konyelan yang enak. Rasanya beda. Siapa yang gak suka? Selain digulai untuk lauk makan, bisa dijadikan cemilan dan sate-satean, lo. Jenis kerang dara apalagi, itu adalah favorit saya untuk jenis kerang-kerangan. Namun, setiap saya memakan kerang, khususnya kerang ijo, walaupun cuma sedikit, perut saya, langsung ngajak berdisco.  Gak sampai satu jam itu kerang berada didalam perut, gejala gak enak perut dan badan langsung muncul, dan berujung pada muntah yang banyak. Semua isi perut yang saya makan bersamaan dengan si kerang, keluar dah.

Ketika itu, saya pikir, mungkin saja kerang ijo yang saya beli di warteg sebelah kos-kosan, kurang bersih kali ya atau kondisinya sudah lama dan gak bagus lagi, jadi perut saya langsung bereaksi. Tapi, ternyata, ketika dilain waktu saya mencoba memakan kerang ijo lagi, reaksi yang samapun muncul. Padahal, kala itu hanya 2-3 bongkah saja yang saya lumat. Namun, sudah berhasil membuat perut saya mengeluarkan segala isinya. Haduhhh.. baru ngeh kalau saya alergi atau gak kuat sama ni kerang. Anehnya, kalau kerang dara yang saya konsumsi, bahkan dalam porsi banyak sekalipun, Alhamdullilah, saya tidak muntah. Sesuatu banget deh, hehehe...

Gulai tutut. Sbr foto;disini
Nah, baru-baru ini, terjadi lagi hal serupa. Bukan kerang ijo yang saya konsumsi, tapi tutut. Tau tutut? Ini bukan kerang sih, tapi sejenis keong kecil. Bentuknya seperti bekicot gitulah ya, tapi ukurannya imut. Cara memakannya asyik banget lo, dihisap-hisap atau dicongkel sama tusuk gigi. Saya membeli tutut yang digulai santan ini, ketika ada pasar malam di dekat rumah saya. Kalau gak begitu, jarang sekali menemukan makanan ini.

Nah, setelah 1-2 jam si tutut ini masuk kedalam mulut saya, gejala mual dan tak enak perut menggerayangi saya. Setelah ditahan-tahan, akhirnya sekitar jam 2 dini hari, bom yang bernama muntahpun terjadi. (Saya makan si tutut jam 9-10 malam) Memang sih saya kebanyakan belinya, dua porsi cuy, saking enaknya, hehehhe..

Setelah saya cari tau, kenapa bisa muntah kalau memakan hidangan enak ini (kerang dan tutut) Ow, rupanya ada racun atau kandungan zat yang membahayakan didalam tubuh mereka.

Menurut para ahli, kerang merupakan hewan yang memperoleh makanannya mirip seperti penyedot debu. Ia, akan menyantap/menyedot apa saja yang ada didekatnya tanpa adanya filter untuk memilah apakah makanan yang disedotnya itu mengandung zat berbahaya atau tidak.

Kerang dara. Sbr foto: disini
Parahnya lagi, kebanyakan sumber kerang yang ada di sekitar Jakarta berasal dari Teluk Jakarta. Nah, teluk ini merupakan sumber penampungan sampah, limbah industri dan berbagai kotoran manusia, bercampur menjadi satu. Weidiiihhh.! 

Beberapa hasil penelitian menunjukan logam berat yang mencemari Teluk Jakarta di antaranya merkuri dan arsen. Kandungan logam berat di perairan utara Jakarta antara 1, 8 sampai 2 persen. Padahal ambang batasnya hanya 0,5 persen.

Dan kerang, menyedot apapun yang ada disekelilingnya sebagai bahan makanan utamanya. Maka secara otomatis limbah industri termasuk logam berat, kotoran manusia, dan lainnya sangat berpotensi tersedot masuk ke dalam tubuh kerang. Namun, zat-zat kimia berat tersebut tidak membahayakan tubuh kerang. Sebaliknya, manusia yang menyantap kerang tersebut, membahayakan kesehatan. So, Semakin banyak mengonsumsi kerang, maka potensi tubuh Anda terkontaminasi oleh beragam zat berbahaya yang terkandung dalam tubuh kerang semakin besar.  

Tak hanya itu, sebelum dijual, kerang hijau hasil tangkapan dikumpulkan dan dikupas dari cangkangnya. Agar terlihat menarik, kerang hijau yang sudah tercemarlogam berat ini masih diberi zat pewarna, dan  juga diberi tawas untuk membersihkan maupun sebagai pengawet. Nah, Tawas merupakan zat kimia yang bersifat sintetis dan jika dikonsumsi dapat menyebabkan pengeroposan tulang dan memicu kanker.

Jika seseorang terkena racun ini maka gejala yang akan dirasakan mengalami mual, muntah, nyeri pada sendi, vertigo, dan juga menggigil seperti orang yang terserang gejala flu. 


Owalah,...... Inilah yang saya rasakan. 

Pantesan saya muntah, rupanya saya memakan racun......Hiksss........
 
Begitu juga dengan tutut. Walau bukan sejenis kerang, tapi hidupnya juga dilumpur, rawa, dan sungai kotor yang makanannya tentu tak jauh dari limbah, sampah dan kotoran manusia. Apalagi, jika hidupnya di sungai yang ada di Jakarta. Ulallala..... Pantesan juga, ketika saya menyedot si tutut ini, kok kayak masih ada lumpur-lumpurnya, ya. Mungkin saja si penjualnya tak bersih mengolahnya, sehingga masih banyak kotoran yang menempel, dan akhirnya membuat saya muntah.

Baiklah-baiklah......lain kali, saya hanya memakannya sekali-kali saja, meski kandungan protein keduanya cukup banyak.


Kopi dan Teh

Kopi dan teh. Sbr foto;disini
Jangan main-main kalau saya mau mengkonsusmi dua jenis minuman ini disaat perut kosong. Muntah, bro! 
Eh...., muntah lagi ya.... Kayaknya akrab banget resiko satu ini dengan kondisi tubuh saya. 
Ya, perut saya seperti diaduk-aduk dan nyeri sekali, jika bertemu dengan dua minuman ini disaat perut kosong.

Kebetulan saya magh. Jadi,  gak boleh sembarangan memasukkan makanan/ minuman ke dalam perut. Masakan pedas gak boleh, asam apalagi. Pun, dengan kopi dan teh yang mengandung kafein, yang bisa menggrogoti magh. Meski begitu, saya tetap mengkonsumsi dua minuman ini. Karena saya cinta mati. Tapi, dengan syarat,  perut saya harus berisi dulu, baru saya boleh menikmatinya. Kalau gak, wah isi perut saya akan melonjak keluar melihat dunia dan magh bertambah parah. 

Dududu...gara-gara sakit, tubuh saya harus memilah-milah makanan yang cocok atau tidak dalam lambung ini.


Oh.....alergi alergi.......

Alergi itu apa sih? 
Nah, ini adalah  reaksi menyimpang dari mekanisme pertahanan tubuh terhadap zat/bahan yang secara normal tidak berbahaya bagi tubuh, dan melibatkan sistem kekebalan tubuh terutama antibodi imunoglobulin E (IgE).

Untuk mengetahui kemungkinan adanya reaksi alergi di dalam tubuh seseorang dapat dilakukan dengan pemeriksaan kadar IgE di dalam darah. Seseorang dengan kadar IgE yang berada pada ambang batas tinggi akan memiliki kecenderungan mudah mengalami reaksi alergi.

Alergi terjadi karena pengaruh faktor genetik, lingkungan, dan gaya hidup tidak sehat. Para ahli menyebut alergi sebagai gangguan imunitas tubuh akibat kelainan genetika. 

Nah..nah..nah...saya mengalami hal ini....

Ya, saya alergi dengan lima hal yang saya sebut 'neraka kecil' diatas. Namun, dibalik semua itu, saya ambil hikmahnya saja, lah ya. Karena, semua orang pasti ada sesuatu hal yang sensitif yang ia tak bisa jika harus begitu atau begini. Anggap saja, ini adalah bagian kesensitifan saya, yang sudah diatur sama Tuhan. Lagipula, alergi yang alami ini,  masih bisa saya netralisir dan dihindari, kok. Juga, tak rugi-rugi amat toh kalau saya tak menikmatinya, hehehe... 

Kalau anda.... alergi atau sensitif apa..?


 Sumber tulisan :
-http://painkillerclinic.wordpress.com/2012/01/23/tidak-semua-nyeri-asam-urat-beda-rematik-dan-asam-urat/
-http://www.deherba.com/mengkonsumsi-kerang-berlebihan-berpotensi-terkena-bahaya-logam-berat.html
-http://news.mnctv.com/index.php?option=com_content&task=view&id=3504
-http://www.dakwatuna.com/2013/06/12/35046/bolehkah-menggunakan-kosmetik-yang-mengandung-alkohol/#ixzz2kntaxW1v

- http://prodia.co.id/penyakit-dan-diagnosa/alergi

2 comments :

  1. Awesome information..
    Keep writing and giving us an amazing information like this..

    ReplyDelete
  2. Awesome information..
    Keep writing and giving us an amazing information like this..

    ReplyDelete

Hai teman-teman...

Silahkan tinggalkan komentar yang baik dan membangun ya....Karena yang baik itu, enak dibaca dan meresap dihati. Okeh..?