Cerita Anak Kos: Kertas Kejutan

Kalau kejutannya dalam bentuk barang, kabar gembira, atau dapat hidayah Illahi, tentu akan bahagia sekali. Tapi, kalau kejutannya berupa kertas? Mesti senang atau gak ya? hahaha. Mending kalau kertasnya ada angka nominalnya, alias uang kertas, tapi kalau kertas biasa? Nah, itu dia. Dalam kurun satu minggu ini, saya mendapatkan dua kertas kejutan! Kejutan pertama adalah kertas sobekan dari noteebook, ditempel di daun pintu kamar kos saya.



Selasa, 23 juli 2013 sekitar jam 00.30 malam, saya mendengar seperti ada bunyi ketukan di pintu kamar. Namun karena itu sudah malam, maka ketukan tersebut tak saya hiraukan. Lagian, jam segitu mah, saya udah ngantuk kali.

Lagian,si pengetuk pintu sok-sokan gak pake manggil-manggil nama saya (jadi saya tak bisa mengenali suaranya) kan saya nambah males bukanya, hihihihi...

Ketukan pertama di malam gelap itu, suaranya pelan. Ketukan kedua, juga pelan. Saya diamkan saja. Sayapun tak menyahut, "Siapa, ya?'

Nah, pas ketukan yang ketiga kalinya, karena gak dapet respon dari si empunya kamar, bunyinyapun meningkat keras, seperti memaksa saya untuk membukakan pintu.Namun, saya tetap tak bergeming. Tetap memeluk mesra guling lepek saya...oh...

Karena ketukan-ketukan selanjutnya tetap tak ada jawaban, kemudian....hilanglah bunyi gedoran tengah malam khusuk itu. "O, kecapekan ya kali itu orang (yang saya kira teman satu kosan) ngetuk kamar saya. Atau mungkin dia mengira saya sudah tidur", begitulah pikiran saya. Saya pun lanjut tidur. Emang gue pikirin itu ketukan...wakakakakak.....


Kecupan mesra diatas kertas., mmuuaacchhh..
Esok harinya, setelah bangun tidur, eh, saya melihat ada sesosok penampakan sobekan kertas tak bertuan tertempel di daun pintu dan dihiasi dengan tulisan: "Kajol, Happy Birthday. Love, Angga." pake tanda cap bibir warna orange lagi, seperti bibir penyanyi favorite saya Beyonce.  

O, rupanya ada seseorang yang ingin memberikan kejutan di hari ulang tahun saya, 22 Juli 2013 kemarin. Itu toh tanda ketukan semalam. Ketukan dari si pemberi surprise yang mengaku bernama Angga, seperti yang tertera di bagian bawah kertas putih kecil itu. 


Hah.??
Angga..? 
Siapa dia..? 
Anak mana...?
Laki-laki atau perempuan...? 
Manusia atau...? 

Lama saya telusuri ingatan saya, apakah saya punya teman bernama Angga yang begitu nge-fan-nya sama saya, sehingga bela-belain memberikan ucapan ultah ditengah malam pekat lewat secarik kertas? #inipurapura


Kertas kejutan di daun pintu kamar kos
Ouw..., 

Untunglah...satu jam kemudian, ingatan saya pulih...ah... saya baru ngeh ....O..O...O...Angga itu adalah teman kantor saya yang panggilan manjanya itu...Jeng Wid...


Ah, tengkyu ya Wiwid.

Walaupun telat sehari sih ngasih surprisenya. 

Kok telat sih?

Ehm..saya tau.. pasti si manusia pemberi surprise itu lupa kapan tepatnya tanggal lahir saya. Mungkin ada yang baru memberitahu dia, makanya, kasih surprisenya tanggal 23 Juli. Kan, kalau sudah lewat jam 24.00, bearti sudah masuk tanggal 23, toh? Nah, si Jeng Wid ini ngetuk pintunya jam 00.30-an.

Seharusnya...., kalau mau kasih surprise itu, mbok ya tepat waktu dong, Tante Wid.Biar klop aja gitu.Tapi, berhubung saya tahu, kalau ini orang cuek sama ulang tahun teman dan tak pernah mengingat atau menghapalnya bahkan, jadi .....yah, saya memakluminya aja kalau telat sehari. Untung sehari ya, coba kalau telatnya seminggu, saya kasih SP dia ! Surat Penindasan!

Berhubung saya baik hati dan tidak sombong serta rajin menabung...maka....meski kertas yang tertempel di daun pintu kamar kos saya itu, gak sebagus kertas surat cinta, dengan lakban yang semrawut pula hasil belas kasihan teman satu kos saya, Fani, yang kebetulan belum tidur dimalam itu, namun ...kertas itu masih saya biarkan tertempel dengan manisnya di pintu kayu kamar saya.

Dua hari setelah kertas itu bertengger di pintu kamarku yang oke, Si Fani bilang: 

"Kok gak dilepasin mbak Eka kertasnya. Udah dibaca belum nih?" 


"Udah saya baca, kok, Fan.. Biarlah tertempel indah disitu, buat kenang-kenangan, biar si pemberi surprise puaaaaassss!!", begitu jawab saya....hihihihihi

Ucapan Ultah dari Angga


Eh, besoknya ketika di kantor, rupanya wanita yang punya nama aliasan Waidiah ini, bersama dengan soulmatenya bernama Om Frenchoo, memberi saya surprise yang kedua dengan menghadirkan kue ulang tahun di kedai kantor bersama dengan Tante Inong, Om Asrul, Tante Oci, dan Tante Felika. Ow, makasih ya.....Jeng..... Enak kuenya.. Beli dimana?

Nah, itu cerita kertas kejutan yang pertama

Kertas kejutan kedua, terjadi hari ini, 26 Juli 2013.


Siang tadi tepatnya ketika sedang beres-beres kamar, saya temukan secarik kertas yang runyam, yang sempat terinjak oleh kaki jenjang pragawati saya, tergolek lunglai terlipat dua dilantai kamar kos saya. Saya pikir itu kertas bekas atau kertas apalah ya.. Pas dibuka, ternyata kertas kecil berwarna kuning itu adalah kuitansi..Ow, kuitansi apa ya,,? 


Kertas kejutan kedua, berbentuk Kuitansi
Setelah saya baca...ternyata itu adalah kuitansi "bukti pembayaran kos" ala ibu kos saya, yang entah gimana caranya, tiba-tiba kok itu kertas bisa tergeletak di lantai kamar saya, sih. 

Padahal, kamarnya kan saya kunci. Dan si Ibu kos juga, gak punya kunci serepnya. Ehm, mungkin, ia memasukkannya melalui bagian bawah sela pintu kamar, jadi ketika saya membuka pintunya, kertasnya ikut tergeret masuk ke dalam, hingga terlihatlah oleh dua mata indah saya :)

Tapi...

Lucunya....ternyata itu adalah kuitansi yang seolah-olah saya sudah membayar uang kos untuk bulan Agustus 2013 ini, pake ditanda tangani lagi oleh Ibu Kos. Padahal saya belum bayar. Bahkan, yang bikin saya heran, di kuitansi tersebut, tertulis jumlah pembayaran uang kos saya untuk bulan Agustus ini adalah Rp. 400.000. Padahal, selama ini, sewa kos kamar saya itu perbulannya hanya Rp. 350.000. Kok beda Rp. 50.000?

Ow, ternyata...

Tulisan pemberitahuan ala Ibu kos
Kuitansi kejutan itu adalah cara si ibu kos untuk memberitahukan kepada saya, bahwa uang kos untuk bulan depan, naik Rp.50.000. Begitchu... Owalaahah. Ibu kos-ibu kos, saya geli sendiri.

Kenapa ndak bilang langsung saja sih ke saya kalau mau naik biaya sewanya. Misalnya, saat saya menemuinya untuk membayar sewa kos perbulan, kan bisa sembari diinformasikan ke saya. Kenapa mesti lewat secarik kertas bernama kuitansi itu. hahahaha...

Saya jadi nyengir sendiri melihat cara si Ibu, yang memberitahu dengan cara seperti itu.

Ehm..btw...saya jadi berfikir...Apa dia gak enakan ya buat ngomong langsung sama saya,mengingat selama ini memang tak pernah ada kenaikan sewa kos? Jadi, dia agak sungkan. Atau, karena dia jarang ketemu saya? Maklumlah, saya setiap harinya hampir pulang malam terus, karena jadwal kerja saya yang memang mendapat shift malam, jadi mungkin dia sulit menemui saya.
  
Emang sih,  masing-masing Ibu kos punya cara sendiri-sendiri ya. Salah satunya Ibu Kosnya si Jeng Wid, wanita pemberi surprise yang saya ceritakan di atas tadi. Ia bercerita kalau Ibu kosnya biasanya ngomong langsung ke anak kos, kalau ada kenaikan biaya kos. 

"Atau, si Ibu minta bilangin melalui teman kos yang lain ketika mereka membayar kos," begitu kata si Jeng.

Ada-ada saja karakter masing-masing si empunya bisnis Kosan.
Ah, andai saya bertemu beliau hari ini, saya akan bilang' : 

"Bu, saya gak marah, kok, kalau biaya sewa kosnya naik. Kan BBM juga naik, jadi saya tahu kebutuhan bahan pokok dan dan oprasional kos juga ikutan naik. Apalagi ini mau lebaran, hehehe.. Saya gak galak dan ganas kok, Bu. Udah jinak! Mana berani saya mau menolak keputusan Ibu kos yang sudah baik hati memberikan tempat menginap yang murah kepada 18 orang penghuninya, bebas memakai listrik, dan sepuasnya menggunakan air, tanpa ada biaya tambahan lagi untuk fasilitas itu. Lagipula, saya kan udah 3,5 tahun ngekos disini, tanpa pernah ada kenaikan seperserpun, Jadi, wajar kalau di pertengahan tahun ini, biayanya jadi naik Rp.50.000. Saya gak marah dan tersinggung, kok, Bu. Saya maklum.!  "

Kosan murah meriah
Saya beruntung dapetin kosan yang murah, dan gak pernah naik-naik biaya sewanya, disaat teman kantor saya yang ngekos di tempat lain, malah ada yang mengalami kenaikan sampai tiga kali, dalam kurun waktu 3 tahun. Artinya, dalam setahun selalu ada kenaikan Rp.50.000. Nah, kalau tiga tahun, ya bearti udah naik Rp.150.000. Sementara saya, dalam kurun waktu 3 tahun 6 bulan, baru kali ini naiknya.

Apalagi, kosan saya berada rada di tengah kota Jakarta. Meski gak di tengah-tengah amat sih, agak melipir dikit ke dalam, hahaha. So, saya sangat ikhlas sekali menerima hal tersebut. Hare gene, susah kali mau cari kosan yang murah. 

Apalagi mengingat biaya sewa kos teman-teman satu kantor saya yang sudah mencapai 500 hingga 800 ribuan. Lah, saya malah cuma 400 ribu saja, gimana saya gak ikhlas dan bersyukur.

Hey, Anda yang pernah ngkos atau sekarang sedang ngekos sama seperti saya, gimana tuh cara Ibu kosan untk memberitahu tentang kenaikan sewa kosan?

Ya, selagi tarif kenaikannya masih dalam taraf wajar bin normal, kita terima saja lah ya. Lagian, mereka juga sebenarnya gak "tega" kok buat naikin sewa kos kalau gak terdesak dengan melambungnya harga-harga kebutuhan pokok. Kecuali, kalau mereka menaikkannya dengan semena-mena ya, Misal setahun atau 6 bulan pertama, langsung naik Rp. 100.000, trus tahun selanjutnya naik lagi segitu, mending kabur aja dari sana dan cari kosan baru. hahaha..

Bersama teman-teman kos, di sofa kosan sederhana 

No comments :

Post a Comment

Hai teman-teman...

Silahkan tinggalkan komentar yang baik dan membangun ya....Karena yang baik itu, enak dibaca dan meresap dihati. Okeh..?