Oh...Terminal, Imagemu Tak Pernah Berubah !



Berharap Keramahan di Terminal ??
(Mungkinkah?)


Sudah lama saya tak "menengok" terminal bus antar kota yang terkenal dengan kesan ganas dan kasarnya. Walau untuk sekedar menghantar kerabat atau teman. Atau saya sendiri mungkin yang akan mudik menggunakan jasa bus yang ada di terminal. Kalau cuma sekedar numpang lewat doang, sih, sering. Tapi tak sampai harus duduk atau berjibaku mengangkut barang bawaan diantara kerumunan orang-orang yang sedang menanti bus atau jadwal keberangkatan untuk menghantar mereka ketempat tujuan. 

Namun, siang tadi, saya harus merasakan kembali keganasan dan aura kasarnya terminal, karena mengantar teman satu kos saya, untuk pulang kampung ke Kediri dengan menggunakan Bus antar kota yang berada di salah satu terminal di Jakarta. Gak begitu jauh sih terminal ini dari rumah kos kami. Cuma sekitar 15 menit perjalanan, udah sampai kok.

Suasana Terminal Rawamangun
Nah, setelah memasuki terminal, baru saja taxi putih yang kami tumpangi berhenti didepan area tunggu penumpang/ loket, eehh. 3 orang laki-laki tanpa tedeng aling-aling membuka bagasi taxi dan tanpa permisi langsung menyambar barang-barang bawaan teman saya. 

Wuiih, Saya langsung ngotot melihat cara mereka yang tanpa basi -basi, boro-boro izin, eh langsung main sikat aja. Padahal, kami belum turun dari taxi lo, bahkan membayar sopirnyapun belum sempat. Tapi mereka sudah "menguasai" barang bawaan teman saya. Melihat adegan itu, tentu tanpa komando, saya langsung keluar dari dalam taxi dan langsung pasang bahasa tubuh kesal sambil menegur mereka " Hei, pak saya belum nyuruh kalian lo untuk ngangkut barang-barang kami. Kok main serobot aja, sih..!" Permisi dulu dong!", ujar saya sewot.

Tapi, tiga orang laki-laki paruh baya yang berumur sekitar 30-45-an itu tak menggubris perkataan saya. Mereka tetap saja menggangkut barang-barang teman saya dengan cueknya, seolah tak mau meninggalkan mangsanya. Dan omongan saya hanya dianggap angin mamiri, eh, angin lalu . Hah!

Yach, walau sebenarnya memang kami butuh bantuan mereka, tapi paling tidak, mbok ya ada sopan santun dikit toh sama si empunya barang. Kulo nuwon kek atau ditanyain dulu, si penumpang taxi butuh jasa mereka atau tidak misalnya. Tapi, ah...mengharap tata krama seperti itu di area terminal, rasanya sia-sia dan tak akan pernah ada yang namanya basa-basi, demi sekedar mengharap sejumput rupiah.

Suasana di belakang terminal

Setelah semua barang berhasil diangkut 3 orang laki-laki yang sungguh "sangat sopan" tadi, dan di letakkan didekat loket bus, teman saya langsung memberi uang sepuluh ribu rupiah kepada. kepada salah satu diantara mereka. Ya, sepuluh ribu untuk bertiga ! Saya rasa cukup, untuk ukuran "mindahin" barang dari bagasi taxi ke area tunggu terminal, yang berjarak tak sampai 20 langkah itu.

Setelah Mendapat tempat duduk,  saya menyuruh teman saya untuk ngecek ke loket yang dituju atau paling tidak konfirmasilah, kalau si calon penumpang udah hadir gitu, dan siap meluncur ke rumah asal.

Sembari menunggu bus untuk menghantar teman saya kekampungnya, yang kata petugas loketnya belum datang, saya duduk dikursi tunggu penumpang yang disediakan dalam terminal yang tak bersih itu. Sekalian menurunkan darah saya yang sempat naik tensinya.

Asyik makan di warteg yang ada di area teminal
Siang itu...

Kebetulan suasana terminal tak begitu ramai, walau hari sabtu. Jadi, bisa lebih lega mengamati gerak gerik orang-orang. 

Ada yang sedang ngobrol, yang asyik makan di warteg, yang hanya mondar mandir saja juga banyak, dan ada yang dengan setia menunggu busnya yang belum datang-datang, seperti saya dan teman saya, Dewi.

Si bapak yang cuek merokok.

Disebelah saya, duduk bapak-bapak yang dengan cueknya merokok ditempat umum, tanpa menghiraukan orang disekitarnya terganggu. Asap rokok yang dikeluarkannyapun tentu singgah di hidung saya... Terhirup.... 

Apa saya mau tegur itu si bapak..? Ah, saya gak mau ambil resiko...Itu terminal, bro.. Bisa-bisa dia tersinggung kalau saya tegur dan jadi berantem...Takut, ah. Jadi ...yah, ngambil amannya, ya, diam saja. Itu lebih baik, walau hati dongkol..

Sepuluh menit saya duduk di kursi yang ada didalam terminal, mata saya bergerilya mengamati gerakgerik orang yang hilir mudik. Namun, saya tetap waspada tuk terus menjaga barang-barang bawaan teman saya yang lumayan banyak, untuk ukuran dia yang berangkat sendirian.

Coba lihat yang dia bawa....

Ini dia barang bawaan si Dewi. Berat & Besar!

Ada karpet (pemberian dari sang kekasih, prikitiew!), TV 20 inc, plastik besaaaar yang isinya baju-baju, travel bag, dan dua tas mudik. Dududu...,
  
Ah, saya gak kebayang deh kalau seandainya dia sendirian tadi yang berangkat keterminal alias gak ada pengantar, tentu akan rempong dan panik sendiri. Takutnya tambah "dipalak" tuh sama si penawar jasa . Untung tak terjadi ya,. Untung juga suasana terminal tak begitu padat.

Tapi coba, kalau menjelang lebaran, beuh....jangan dibayangkan deh... ampun-ampun ramainya. Bukan hanya ramai oleh penumpang, tapi juga ramai oleh copet yang juga ingin berlebaran dengan hasil rampokannya. Yah, itulah tradisi suasana terminal dari masa ke masa, dari satu tempat ke tempat lain.

Penumpang yang  sedang menunggu kedatangan Bus.



Ehm, agak gak deg-degan lo memang setiap kali "bertamu" ke tempat ini. Karena tau sendirikan, selain suasananya yang menyeramkan, lengah dikit, bisa hilang tuh barang. Minimal kecopetan, ditipudaya atau dihipnotis. Paling parah dibikin tak sadar diri dengan minuman yang udah dicampur obat bius, hingga hilanglah semuanya, seperti yang sering kita lihat beritanya di media tv atau di koran. 

Ih, seramnya.. 

Tapi, itulah hal-hal yang sering terjadi di terminal Indonesia. Tak cuma di Jakarta, terminal didaerah lainpun tak kalah menakutkan kondisinya. Bahkan sepertinya memang begitulah budaya yang sulit tuk dihapus atau di perbaiki. Meski ada kantor polisi di dalam area terminal itu sendiri. Namun, tak menjamin kalau tak akan terjadi kejahatan.

Wajar saja, kalau keluarga saya selalu wanti-wanti kalau mau berangkat mudik melalui terminal. "Awas, jangan mau kalau dikasih orang makanan/minuman, nanti makanan itu udah dicampur yang macam-macam"

Atau, 

"Hati-hati kalau ngobrol sama orang yang baru dikenal, jangan terperdaya dengan bujuk rayu atau kebaikannya." 

Dan masih banyak lagi nasehat-nasehat orang tua, agar kita selalu waspada dan jaga diri, jika berada di terminal.

Salah satu bus antar kota di Terminal Rawamangun


By the way, sekitar 15 menit "asyik" menikmati suasana terminal, eh,..teman saya mengabarkan kalau busnya sudah datang dan siap tuk berangkat.

Dan.. eh,.... lagi-lagi muncul tuh 2 dari 3 orang yang tadi main angkut barang teman saya secara paksa pas turun dari taxi. Mereka bilang, bahwa bus yang ditunggu  sudah datang. Pintarnya, mereka tau juga bahwa teman saya akan naik mobil tersebut. Dengan sok pedenya, mereka sudah menyiapkan kereta dorong tuk mengangkut barang-barang ke dalam bus. 

Namun, saya tak langsung percaya, dan, lagi-lagi..., saya mulai mengeluarkan ekpresi sewot dan ngotot. Saya melarang mereka tuk memindahkan barang teman saya kekereta dorong milik mereka, sebelum teman saya memastikan terlebih dulu mobil yang akan siap membawa dia tuk pulang kampung, apakah sudah ada atau tidak. 

Sembari si Dewi ngecek busnya, ehh.... si potter ini malah balik ngedumelin saya, dan bilang bahwa mereka gak mungkin bohonglah kalau busnya bener-benar sudah ada. Dan banyak lagilah omelan mereka, menangggapi ekpresi saya yang tak percaya sama mereka. Sayapun hampir perang mulut dengan satu diantaranya. Hadeehhh.!!!! Anak muda ngalah aja dah!

Hmmmm, dalam hati saya." Hei...Ini bukan masalah kalian bohong atau tidak, ini masalah keamanan barang milik orang, dan masalah sopan santun yang harusnya mereka tunjukkan sedari awal, agar kita tak berfikir negatif! "  

Tapi, lagi-lagi.., 
Mengharap sopan santun dengan mereka... oh.... sungguh.....meski negara ini udah berubah warna benderanya sekalipun, sepertinya tetap sulit tuk menemukan keramahan di tempat yang tak pernah sepi ini.

Akhirnya....

Setelah beres semua urusan dengan si pengangkut barang secara paksa itu selesai, barulah lega tuk hantar teman saya memasuki bus yang sudah terpampang nyata, cetar membahana, ulalala.... Eh, pas masuk kedalam bus, ternyata semua penumpang sudah standby di kursi masing-masing. Saya yang ikut masuk mobil, jadi salah tingkah sendiri. Karena, teman saya ini justru penumpang paling telat yang masuk mobil. Mesin bus besar itupun sudah dihidupkan, sepertinya sudah siap tuk beranjak meninggalkan terminal. Duh, untunglah teman saya gak ditinggal sama busnya, hihihi..

Ehmm, setelah teman saya menempati kursinya dijejeran bangku urutan ketiga dari depan, saya langsung cipika-cipiki, dan berpesan hati-hati dijalan semoga selamat sampai tujuan. Saya tak bisa lagi basa basi dan berdiam lama di dalam bus besar itu, karena mesinnya sudah meraung-raung dan siap meluncur. Olalala, tunggu dulu pak sopir, saya cuma pengantar lo, bukan penumpang...sabar ya..emang salah kita sih yang telat datang, disaat semua penumpang sudah duduk manis ditempatnya, hahaha..

Ah, lega melihat teman saya udah aman berada ditempatnya. Dan "urusan" dengan terminalpun  berakhir.

Ehm.....

Cerita diatas,  mengingatkan saya ke masa lalu.

Saya jadi ingat waktu masih kecil dulu, ketika diajak orang tua tuk mudik ke kampung nenek. Baru saja turun dari dalam mobil yang mengantar kami masuk terminal, e..e..e..barang bawaan orang tua saya langsung saja disamber sama para ”pembawa barang" yang ada dikawasan itu, tanpa pake permisi. Haduuh, rupanya kejadian jadul yang saya alami, sampe sekarang masih berlaku, toh..

Duh,... imagemu... oh terminal, belum berubah rupanya, ya.....??



Read More

Berburu Sepatu High Heels !

Merah Membara. (foto: Koleksi Pribadi)




Cantiknya Model High Heels  


 
Akhirnya, pekan lalu saya berburu sepatu high heels di Centro, Plaza Semanggi, Jakarta !  

Tumben deh.. 

Loh kok tumben?

Ya, gimana gak tumben, selama ini kalau berburu alas kaki, ya pasti sandallah yang saya incar, sepatu gak pernah saya toleh. Tapi, minggu lalu, justru sandal yang tak saya toleh. Sebaliknya, malah sepatu yang dikejar.

Tak mudah memang menentukan pilihan, karena bagus-bagus.. Ehm, rasanya pengen dibawa pulang semuanya, hehhe. Ya, samalah kayak beli baju, mesti diubek-ubek dulu setiap stand/toko atau merek, baru kita bisa memilih mana yang sreg dan cocok. 

Setelah 20 menit mata saya memberikan penilaian dengan mengitari ribuan sepatu di Centro dengan beragam jenis dan model itu, akhirnya ......... saya kepincut sama sepatu high heels warna greey. 

Sederhana sih modelnya. Tapi, sepatu merek CALLIOPE yang tinggi haknya sekitar 10 cm ini, pas dan nyaman dikaki saya.  Sepatu nomor 39 ini saya beli, selain emang suka, pas kebetulan pula lagi diskon 50%, dari harga 300 ribuan, jadi 150 ribuan. Biasa, kalau cewek mah, ada yang discount sedikit, pasti mendekat ke sasaran, hehhehe....Walau, kalau dinilai dari sisi fashion, yah sepatu ini mah termasuk model jadul. Tapi, yang namanya kenyamanan, kalau kita udah ketemu, pasti gak akan dilepas ! Iya kan?

Sepatu merek Calliope, hrg setelah discount 50%,  150 rb

Daaan, ..... 

Tak puas sudah mengantongi sepasang sepatu, eh, saya pun kepincut satu model lagi, eits..kepincut tiga bahkan. Dengan model serupa, tapi motif berbeda. Sama sih, high heels juga. Tapi, kali ini lurik kulit ularnya yang bikin saya ngiler. Tingginya sekitar 15 cm. Beuh, kalau gak hati-hati makenya, bisa keseleo kali ya, hehehe....

Nah, ini dia nih tiga sepatu motif kulit ular Merek AMANTE yang bikin saya harus merelakan waktu tuk memperhatikan, memegang, mengelus, membolak-balik, bahkan mencobanya. Dan... tiga benda cantik ini cukup lama menguras perhatian saya, dengan berperang gejolak batin. Jiaaahh.!

Sepatu Lurik Kulit ular Amante. Hrg stelah disc 20%, 280 rb

Keren kan.......???

Yang satu lurik ularnya warna hitam, disebelahnya kecoklatan, dan satu lagi gradasi putih, coklat dan hitam, dengan bagian penutup samping sepatu yang bergelombang. 

Keren deh!

Saya sempat bingung mau pilih yang mana diantara ketiganya, karena gak mungkin saya borong langsung semuanya.Saya gak mau kemasukan setan (lagi)! 

Si mbak dan si mas Pramuniaganya, tak lepas dari permintaan saya tuk memberikan pendapatnya terhadap ke tiga alas kaki cantik itu, tuk memantapkan pilihan saya.  

"Yang mana mbak menurutmu yang bagus tuk kaki saya? Orang yang beli sepatu model ini, banyakan beli yang warna apa? Kalau model ini, kurangnya apaan?" Begitulah kira-kira bawelnya pertanyaan saya.


Sepatu yang bikin saya jatuh hati
Jujur saja,.....

Kalau dari segi fashion, sebenarnya saya menyukai sepatu yang lurik ular gradasi putih, hitam dan coklat. 

Selain warnanya menonjol, gelombang dibagian samping kulit sepatunya, itu yang sangat bikin saya kagum berat. Beda aja, gitu! 

Cuma,...... karena mengingat faktor kenetralan dan ini-itu, akhirnya saya memutuskan tuk beli sepatu lurik ular yang warna hitam. 

Pertimbangannya, ya, daripada saya beli yang warna putih, tapi gak semua busana cocok dipadupadankan, yang akhirnya jarang dipake, sayang toh ! Dan untuk sepatu kulit ular ini, saya harus memilih  nomor 40. Kalau nomor 39 agak kesempitan. Berbeda dengan  sepatu warna greey, meski nomor 39, tapi udah mantap di kaki saya. Maklum, ukuran standar masing-masing  merek sepatu beda-beda, toh?  
 
Akhirnya, sepatu lurik hitam ini yang saya bawa pulang


Oh ya, sepatu-sepatu ini juga discount lo, tapi cuma 20% sih (ngarepnya 50% ya), dari harga 360 ribuan, setelah discount jadi 287 rb gitu deh. Dan, ini adalah sepatu termahal saya lo, hahaha....

Ya, selama ini kalau saya beli sepatu, tak pernah diatas 200 rebong. Dan sepatu-sepatu yang pernah saya beli sebelumnya, harganya murah meriah semua, karena mengingat saya tak begitu suka pake sepatu. Jadi, buat apa saya beli sepatu yang mahal? Kalau saya pun akan jarang memakainya. Begitulah pikiran saya.

Ehmm.... akhirnya, hari itu  saya menggondol dua pasang sepatu. Du..du..du...
Nah, ini dia nih dua sepatu yang saya angkut dari Centro. Semua high heels, Yang satu warnanya greey/abu-abu dan yang satu lagi hitam lurik kulit ular. Wow, cetarnya.

Dua pasang sepatu high heels, kini jadi koleksiku

Eh, ya..diatas tadi,....


Saya sempat menuliskan kalau tumben-tumbennya saya berburu sepatu, biasanya paling sering mengincar sandal.  Nah,  ini jawabannya,...
 
Ehmm, sebenarnya saya paling gak suka pakai sepatu! Bener-bener gak suka! Tapi, bukan gak suka ngeliat sepatu ya. Kalau mengamati sepatu sih, dengan beraneka ragam model seperti sekarang ini, mulai dari yang lucu2, bermotif-motif/ lurik2 ular bahkan yang aneh-aneh bentuknya, saya sih suka-suka aja meliriknya, memegangnya, gemes bahkan. 

Tapi, berhubung kaki saya ini ukuran jumbo, alias kaki ukuran orang barat (barat daya, maksudnya, hahaha), jadi saya kalau pakai sepatu, biasanya dibagian depannya, atau ujung jari jempol dan telunjuk kaki, sakit sekali karena tersantuk penutup sepatu. Ya itu tadi, karena kaki saya ukuran besar, sementara ukuran sepatu pabrik Indonesia yang sering ditemui di pasaran kebanyakan masih sempit tuk ukuran kaki saya, meski nomornya 40 sekalipun. So, kalau pake sepatu, jadi sebuah siksaan buat saya. Benar-bener gak banget deh, kecuali terpaksa!

Koleksi sandal di Centro
Itulah salah satu alasan yang membuat saya benci pakai sepatu. Selain alasan tak bisa bernafasnya kaki indah saya tentunya. 

So, semenjak tamat SMA, bisa dihitung berapa kali saya memakai yang namanya alas kaki berpenutup itu. Dimasa kuliahpun, saya pakai sandal doang, tapi sandal high heels, sih. Untung cewek ya, jadi gak terlalu menonjol kalau gak pake sepatu ke kampus. Meski gak boleh sih sebenarnya, meski juga kalau ketauan sama si dosen dan si pemantau mahasiswa, ya diomeli juga sih, hahaha....

Duh,... jadi inget kebandelan masa kuliah dulu deh, yang mesti diplototin karena gak pake sepatu, tapi tetap aja dilanggar. Maklum, pengen terlihat lebih modis. hihihihi....
 
Pun, ketika memasuki dunia kerja, saya tetap malas yang namanya pakai sepatu. Paling pakai sandal high heels, kecuali kalau ada acara khusus yang memang mengharuskan saya pakai sepatu, ya.. akan saya pakai tuh sepatu. Misalnya perusahaan saya mengadakan acara seminar di hotel yang mengundang banyak tamu, atau ada event tertentu yang kebetulan banyak tamu berkelas yang datang, saya pun akan menyesuaikannya. 

Atau, jika ada job diluar sana, yang menawarkan saya tuk jadi MC atau narsum di suatu acara misalnya, barulah sang sepatu pingitan yang hanya berdiam diri saja dalam kotaknya, saya keluarkan juga. 

Pernah tuh, suatu hari  dapat panggilan tuk interview kerja. Tentu harus pakai sepatu dong, sebagai penanda kita menghormati perusahaan/institusi tersebut. Tak langsung dari rumah saya memakai alas kaki yang bikin saya tersiksa itu, pastinya. Tapi, ketika udah sampai di gedungnya, saya melipir bentar ke toilet, dan baru menukar sandal dengan sepatu yang saya simpan di dalam tas, hahaha....

Ya, bayangkan coba kalau saya udah pake sepatu hak tinggi dari rumah, kletak-kletuk, kletak- kletok... walau oke terlihat, tapi tersiksa. Pantesan orang bilang, cantik itu, sakit!

Tapi, karena di dunia/ tempat kerja saya yang sekarang ada "kebutuhan khusus" yang mengharuskan saya memakai sepatu. Mau gak mau saya harus berburu sepatu dong. Ya, paling tidak punya koleksi sepatu lah, walau jumlahnya sedikit.

Kebutuhan khusus apakah itu? hihihihiih.. 
 
Suasana Talkshow TV
Begini, setiap hari rabu jam 3 sore teng, kantor saya bersama dengan surat kabar nasional dan TV jaringan yang tayang di salah satu TV Cable, mengadakan kerjasama untuk Talkshow tentang lingkungan, atau sesuatu yang berbau "Green". Kebetulan, saya yang ditunjuk sebagai hostnya. 

Nah, karena ini tampil di layar TV, maka mau gak mau penampilan tetap yang utama yang harus diperhatikan. Salah satunya adalah sepatu. Lagipula, tampil talksow di TV, gak mungkin dong hostnya pakai sandal. Meski acara yang saya bawakan, konsepnya santai sih. Gak harus memakai blazer, atau baju safari misalnya. Tapi, yang namanya alas kaki, ya tetap aja harus SEPATU ! Harga mati! Kalau pake sendal, kesannya main -main gitu. Iya gak?

Loh, urusan sepatu, kok, saya sendiri yang nyediain? Biasanyakan ada sponsor ?

Betul, memang acara yang saya bawakan ada sponsor. Baik itu sponsor tuk baju, sepatu, bahkan perhiasan/aksesoris. Cuma, adakalanya kontrak atau kerjasama dengan sang sponsor tiba tiba berhenti, karena satu dan lain hal. Seperti yang terjadi saat ini, yang membuat saya harus beli Sepatu. Nah, kalau sudah begitu, otomatis urusan baju dan sepatu jadi urusan si presenter dong.

Lah, emang kita mau minta bantuan siapa coba? Kalau bukan diri kita sendiri yang berusaha tuk memoles penampilan kita, supaya tetep oke dilayar. Kan, ketika tampil di TV, tak hanya membawa nama kita sendiri dong, tapi juga nama perusahaan tempat kita bekerja, toh..??

Makanya harus tampil sesempurna mungkin, gak peduli kostum yang kita pakai itu dari mana asalnya, pokoknya ketika syuting berlangsung semua perlengkapan, termasuk kostum dan sepatu, ya harus tersedia! Lagian, kalau saya pinjam punya teman, belum tentu pas dan cocok buat saya. Apalagi, ukuran kaki saya yang besar ini, yang hanya bisa masuk di nomor 40, kadang malah 41. 
 
Sepatu Apple Green, yg saya pakai di acara TV
Sebenarnya, saya sudah punya sepatu hitam tertutup, merek Apple Green. Sudah 7 tahun lo sepatu itu menemani saya dikamar, tepatnya didalam kotak, heheh. (ya, karena gak pernah dipake-pake, toh). 

Cuma, sepatu yang modelnya biasa namun awet ini, haknya pendek, skitar 5 cm dan bentuknya petak. Jadi, kurang bagus kalau dilihat di layar. 

Gak cetarlah ngelihatnya....

Pernah sih saya memakainya untuk acara TV ini, karena kebetulan sponsornya lagi kosong. 

Namun, setelah saya perhatikan, dan ngeliat hasilnya dilayar dan di foto, kok ya kurang anggun ya ngeliatnya. Gak elit gitu loh. Sayapun jadi kurang pede kalau memakainya untuk acara TV. Tapi, meski tak enak dipandang, saya salut sama produk Apple Green ini, karena meski lama dalam kotak, tapi gak mengelupas lo kulitnya. Hemm, sepertinya asli ya, dan emang kualitasnya bagus nih sepatu. Jadi, meski sepatu ini tak oke untuk di TV, tapi saya tetap mencintainya, dan akan saya pakai dikesempatan lain.

Nah, foto dibawah ini, adalah salah satu contoh baju dan sepatu dari sponsor. Kinclong ya warnanya. Ya, si mbak Ethel, sang Wardrobe, tentu sangat jeli dong untuk memadu-madankan warna antara baju, aksesoris/gelang dan alas kaki. Jadi, kostum saya pun terlihat serasi.



 Baju & sepatu  sponsor. Warnanya Senada!
Berbunga-bunga dan cerah






















Bandingkan kedua gambar dibawah ini. 
Mana yang lebih terlihat anggun ?


High heels 10 cm, sponsor


High Heels 5 cm, Apple Green






















Tentu, sepatu dengan hak model meruncing tinggilah yang terlihat lebih memukau mata. Iya kan..?

Menurut Anda?

So, tuk memenuhi kebutuhan keanggunan itulah, makanya saya jadi berburu sepatu high heels. Meski, benda itu hanya saya pakai ketika acara talkshow itu saja. Selebihnya?... Aduh dengan haknya yang 15 cm, itu gak mungkin bisa saya pakai tuk ngemall, atau perjalanan dari kos saya menuju kekantor, walau hanya berjarak 50 meter itu. Atau meski tuk wara-wari disekitar gedung kantor sekalipun. Duh, tersiksa cyin. Nggak deh! Hehehe... 

Tapi, setelah punya sepatu kebangsaan sendiri, akhirnya saya bisa tampil cantik deh. Coba lihat foto dibawah ini, kerenkan? Kayaknya gak salah deh model sepatu yang saya pilih, hehehhe..*muji sendiri*

Terlihat lebih jenjang & modern






Lebih gaya dan Trendy







Ehm, ngomongin soal sepatu wanita,......

Jaman sekarang perkembangan dan modelnya tentu beda banget dengan jaman dulu kali ya. Kalau dulu sih, eh....gak usah dulu-dulu banget deh. Sekitar tahun 2000-an awal aja deh. Coba ingat-ingat, gak banyak pabrik sepatu yang berani mengeluarkan sepatu yang berwarna dan beragam corak.. Kebanyakan sih, warna sepatu yang diproduksi, gak jauh-jauh dari coklat, hitam, putih, atau melenceng dikit ke warna cream. Alias warna aman dan dianggap netral dan dianggap juga banyak wanita yang suka dengan warna yang gak neko-neko. Tul gak..? 
 
Begitu juga dari segi model dan corak, sangat terbatas, dan itu-itu juga. Maksud saya itu-itu juga, kalau versi saya sih seperti model sepatu yang sering dipakai para ibu-ibu guru kalau lagi mengajar. Iya kan..? (Sambil mengingat masa sekolah dulu) Palingan, desainer sepatunya berani mainin bagian depan moncong sepatu. Ada yang meruncing, bulat, atau agak kedataran/kotak. Begitu juga dengan hak nya. Ada yang tinggi, sedang, atau yang tinggi banget. Namun, ya itu-itu juga modelnya. Hanya beda centimeternya doang, hehehe.

Tapi, sekarang, tengoklah pajangan sepatu-sepatu di mall. Wuihh..keren-keren dan ajaib-ajaib dah. Pilihan warna pun bervariasi. Model haknya juga beragam . Tinggal dipilih yang mana yang cocok dengan ukuran, bentuk dan warna kulit kaki saja. 

Pajangan sepatu di Centro, Plaza Semanggi. Ramai !
 

Oh ya, kenapa waktu itu pilihan saya berburu sepatu di Centro? Bukan ditempat perbelanjaan lain. Ada alasan pastinya. 

Yang pertama, ukuran sepatu di Centro itu gede-gede, lo. Baik ukuran panjang, maupun lebarnya. Untuk ukuran 40 yang memang menjadi standar patokan kaki saya misalnya, eh, justru kelobokan . Maka saya pilih yang nomor 39, yang paling pas. Mungkin merek/ produknya mengambil sample ukuran kaki orang luar ya, walau bisa jadi proses produksinya di dalam negeri sendiri . Lah, buktinya, selama ini kalau saya beli sepatu produk merek dalam negeri, gak pernah muat kalau pake sepatu ukuran 39. Pasti sempiiitt banget. Nah, ini malah 39 pas dan mantap. 


Variasi warna dan Model sepatu di Centro
Selain itu, variasi model, warna, gaya sepatu/sandal dan tawaran discountnya, kayaknya mewakili banyak selera wanita Jakarta deh, hihihi....

Coba tengoklah suasananya. Etalase panjang yang begitu banyak pilihannya.

Dari wedges, hak ceper hingga high heels 20 cm, dari warna netral hingga warna ngejereng, dari warna pekat sampai model bling-bling, dari model yang biasa sampai yang unik pun tersedia. Asal punya waktu yang cukup aja untuk mengeliling, plus uang dikantong yang tersedia. 
 
Ragam Sepatu cantik di Centro
Sepatu warna netral di Centro
Saya rasa, Centro salah satu tempat pilihan pas tuk berburu beragam model sepatu/sandal deh. 

Harganya masih bisa terjangkau! Ada  kok yang seratus ribuan. 

Meski tak jarang ada juga yang selangit harganya. Yah, tergantung isi  dompet aja sih, hehehhe...

Hadeh, pokoknya kalau udah masuk ke suasana "rimba"nya Centro, pasti akan terkesima deh ngeliat alas kaki yang unik dan ciamik2. Beda deh !   
 
Pilihannya tak terbatas lo....

Terbukti outlet ini selalu ramai dikunjungi calon pembeli. Karena suasananya meriah sih, dan gak pelit discount. Dari 20% - 50%. Sayangnya, ini tempat jarang terlihat discount mpe 70%., hehehe... Ngarep.com. 

Untuk soal kualitas, saya bisa bilang bahwa sepatu dan sandal ditempat elit ini cukup bagus dan kokoh. Karena, kebanyakan sepatu/sandal yang dipajang adalah sepatu merek impor, jadi mereka tak akan berani mau tebar alas kaki yang kualitasnya jelek. Makanya, dari segi ukuran juga lebih besar daripada ukuran standar dari sepatu biasa. Itu yang saya suka! Paling tidak , sepatu yang saya beli disini, bisa bikin nyaman kaki saya. 

Ehm, sebenarnya saya juga naksir sama sepasang sepatu warna kuning dan putih yang cantiiiikk banget. Harganya 350 ribuan. Sayangnya harga normal yang dipajang. Coba kalau lagi harga discount, mungkin saya berfikir untuk membelinya juga kali ye. wuahahaha.. kalap lagi deh..

Sepatu cantiikk bikin hati meleleh. Warnanya itu lo, menggoda



 Atau kuning yang ini?

Si Kuning yang Kinclong ! Aw..

Nah, di area persepatuan ini, anda juga bisa menemukan tas-tas impor cantik yang dipajang disela-sela koleksi sepatu keren ini. Tinggal dipilih-dipilih-dipilih... (ngomongnya pake logat padang ya, hehehe). 

Tapi, awas jangan sampai lapar mata lo. Jangan borong gila-gilan, ntar nyesel lo, (pengalaman pribadi) !




Beraneka ragam tas, diantara sepatu-sepatu antik




Centro itu salah satu pusat perbelanjaan yang harganya masih bisa ditolerir lo, dengan lemparan discount yang cukup banyak. Coba deh, kalau anda pergi ke Sogo, SoHo, atau pusat perbelanjaan yang ada di Grand Indonesia atau Plaza Indonesia. Beuh, sepatu yang paling murah 400 ribuan kali. Banyakan harganya diatas 1 jeti. Iiiih, pokoknya ngeri-ngeri deh harganya. Kalau yang seratus ribu mah, barangkali sepatu yang ada cacatnya kali, hahahha....Tapi, lagi-lagi ini pendapat saya ya.



Sepatu dan tas bling-bling ala Centro

Ya, itulah pengalaman saya berburu sepatu di Centro, karena ada "kebutuhan khusus" tadi, heheh. Tapi, kalau membeli sepatu, usahakan benar-benar harus dipake ya, walau jarang. 

Daripada, beli sepatu/sandal tapi gak pernah dipake, Cuma keburu nafsu doang. Sayang toh.! Mubazir jadinya. Sementara orang-orang diluar sana masih banyak kali yang perlu sepatu, tapi tak sanggup tuk membelinya. Iya kan? 

Pajangan Cantik Centro


  Foto  : Koleksi Pribadi
Read More

Kabar Yang Mempesona dari PESONA




Kabar Yang Mempesona dari...... PESONA
 
Wow.....,

Dapet email kejutan sore hari dari redaksi PESONA, 8 Maret 2013 kemarin. Saat itu saya sedang ngantor. Ih, senang sekaligus bengong. Karena gak nyangka,  artikel dari pengalaman pribadi yang saya kirimkan sekitar 3-4 bulan lalu, ternyata dianggap layak untuk dimuat di Majalah Pesona edisi maret 2013 untuk halaman "Jeda", berdasar dari email pemberitahuan itu.  

Cover  PESONA Edisi Maret 2013
Yaay!!

Kirain itu tulisan bakal lewat aja, karena kelamaan nunggu konfirmasinya, hihhi... 

Senang pastinya...

Tapi, bukan semata karena jumlah nominal yang didapatkan dari honor dimuatnya tulisan saya, tapi justru lebih kepada rasa kepuasan, jiaaahh..  #lebay..

Ehm...

Sebenarnya, artikel yang saya kirimkan ke Redaksi PESONA yang berjudul "Nek Laskmi" ini saya tujukan untuk halaman 'Sharing', salah satu halaman yang menampung tulisan singkat dari pembaca PESONA tentang kisah positif, gagasan  atau kisah inspirasi yang patut dibagikan kepada pembaca.

Nah, kebetulan saya punya cerita inspiratif tentang seorang nenek berusia 60 tahunan di dalam kosan kami. Ia sering berbagi rezeki dan kebahagiaan. Maka tak mau ketinggalan dengan yang lain, sayapun mengirimkan artikel untuk halaman tersebut. Tapi, ini bukan lomba, lo, hanya sekedar berbagi kisah saja. Kalau ternyata cerita yang saya kirimkan itu justru dimuat dihalaman yang lebih special,  ya bearti emang rezeki saya, hehehe . ...

Tampilan Artikel Nek Laksmi di PESONA Edisi Maret 2013

Ya, ternyata ketika dimuat, justru tulisan saya di taruh di halaman "Jeda". Wah, saya senang sekali, dong. Karena di halaman 'Jeda" tulisan dan ulasannya lebih panjang daripada halaman 'sharing'

Kalau di 'Sharing', biasanya jumlah karakter tulisan berkisar 1500-3500 karakter, tapi kalau di 'Jeda', bisa mencapai 4000-6000 karakter. Tuh, gimana saya gak bahagia banget. Artinya, tulisan saya hampir seluruhnya dimuat, dan hanya ada beberapa kalimat saja yang dipangkas  dan diedit oleh Redaksi Pesona.

Nah, seandainya tulisan saya dimuat di 'sharing', pasti banyak sekali kalimat yang dibuang, karena tak mungkin memajang tulisan yang begitu panjangnya di halaman yang memang jumlah karakternya dibatasi itu.

Yipii... ketika mendapat email surga dari Redaksi Pesona itu, pagi tadi saya langsung menuju Gramedia Matraman, tuk beli majalah yang sudah 10 tahun menemani dan memberi informasi bermutu kepada wanita-wanita dewasa Indonesia ini.  

Tak sampai 15 menit perjalanan saya naik kopaja, sampailah di toko buku bergengsi dan komplit ini.  Saya langsung naik ke lantai dua, dimana tempat para majalah-majalah keren Indonesia dipajang disana. Dan...ups... mata saya, langsung mencari sosok PESONA.. Deuh, tak sabar saya ingin melihat hasil tulisan saya mejeng di majalah  populer ini, heheh..


Dan, ini dia nih penampakannya....

Artikel Nek Laskmi di PESONA Edisi Maret 2013
Meski ada beberapa kalimat saya yang diedit, tapi tentu tidak mengubah makna dan isinya. Justru, tulisan saya tambah kinclong, heheh. Toplah, siapa dulu dong yang ngeditnya,? Yakin sajalah dengan mbak-mbak Redaksi Pesona yang sudah berpengalaman, hehehe.

Namun, rasa penasaran tetap menghantui saya.

Ketika sudah tiba kembali di depan kompi kantor, saya buka tulisan asli yang masih saya simpan dengan baik. Saya bandingkanlah dengan
hasil editan Pesona. Setelah saya perhatikan, rupanya memang ada kalimat-kalimat yang harus di sederhanakan, supaya tak bertele-tele. 

Dari sinilah saya belajar menyimpelkan kalimat, menambah diksi, dan menyegarkan tata bahasa, berkaca dari hasil 'sulapan' Pesona tentunya.


Ehm, tulisan Nek Laksmi ini, sebenarnya sudah lama saya tulis, tapi selama ini hanya saya simpan dalam draft blog ini saja. Entah kenapa kok ya saya ragu-ragu mau nge-publishnya, hihihi. Tapi, setelah PESONA menerbitkannya, justru menjadi pemicu saya tuk membagikannya juga di blog ini, tepatnya setelah saya mendapat email kejutan dari PESONA, kemarin, hehehe... 

So, hari ini sayapun mengumpulkan foto-foto kebersamaan saya bersama Nek Laksmi dan teman-teman kos, supaya bisa memberi gambaran cerita dari suasana pondokan kami.  Alhamdulllilah, jadi juga akhirnya.

Nah, buat yang ingin membaca tulisan saya tentang Nek Laskmi , silahkan tengok disini ya..

Terimakasih lo,  ilmunya PESONA , sudah mengoreksi tulisan dan secara tidak langsung mengajarkan saya menulis yang baik dan ciamik, supaya hasilnya lebih cetar, ulalalala.....


Cover PESONA Edisi Februari 2013
Oh ya, sebelumnya, di edisi Majalah Pesona bulan Februari lalu, yang covernya Wulan Guritno, tulisan saya tentang arti "TEMAN", juga dimuat di halaman 'sharing' nya Pesona.

Nah, tentu tulisan saya di artikel ini banyak sekali yang dipangkas...hehhe.. 

Ya, seperti yang saya jelaskan tadi, kalau di halaman "sharing', jumlah dan karakter tulisannya memang terbatas, jadi tulisan saya hanya terlihat sedikit. Meski begitu, apa yang dimunculkan Pesona, cukup mewakili  kok, apa yang ingin saya sampaikan. 

Nah, untuk lebih lengkapnya, silahkan baca tulisan saya tentang "TEMAN" , disini ya. 

 
Tengkyu so much PESONA, semoga tetap mempesona selamanya. Mudah mudahan di bulan selanjutnya, saya mendapat kabar yang tak kalah mempesona lagi darimu...
Amin....

Artikel  saya ttg TEMAN, dimuat di "Sharing" PESONA Edisi Februari 2013

Read More