Tempoyak Sumsel, Enaknyo!

Tempoyak! Siang hari saat saat masih mudik di kampung halaman ketika lebaran lalu, saya memasak sambal tempoyak. Ada yang tahu dengan lauk ini? Tempoyak adalah buah durian yang difermentasi atau diawetkan dengan garam, lalu disambal.

Bumbu sambalnya: kunyit genit, serai ganteng, cabe merah manja dan gula pasir kinclong. Itu ajah! Ada beberapa orang yang menambahkan bawang cantik, ada juga yang tidak. Saya pilih tidak. Mengapa? Karena rasa bawangnya kalah sama tempoyak, jadi rasa bawangnya gak berasa


Cara membuatnya: semua bumbu tadi ditumis, trus masukkan tempoyak, dikasih air dan tambahkan beberapa sendok gula, sampai  mengental. Kenapa gulanya mesti beberapa sendok? Karena tempoyak ini asyiiiinn banget, jadi kalau gak pake gula ya takutnya keasinan. Kalau mau asik lagi, dikasih ikan teri. Alamak, maknyus banget itu mah, hehehe

Sambal tempoyak buatan keluargaku

Tempoyak yang saya olah ini adalah buatan bibi (adiknya Ayah) yang buahnya beliau ambil dari kebun durian di dusun. Kebiasaan bibi saya, kalau tempoyaknya sudah jadi, dibagi-bagikan sama keluarga besar, sisanya dijual. Dan karena saya juga yang bikin sambal tempoyaknya, jadi, klop ya, sambal tempoyak ini made in keluarga eikeh, hehehe.

Untuk mengkonsumsi sambal tempoyak, biasanya dicampur dengan nasi, ya seperti kita mengkonsumsi sambal biasa. Mau dipadukan dengan lauk apa pun, oke-oke saja tuh. Misalnya, dengan ikan goreng dan lalap terong atau dengan tumisan sayur.

Selain disambal, tempoyak juga bisa diolah jadi campuran kuah pindang. Pindang tempoyak, disebutnya. Ada juga yang memakan tempoyak tanpa diolah atau sering disebut tempoyak mentah. Saya juga suka lho makan tempoyak mentah, campur cabe-cabe rawit manja dikit atau sambal terasi mentah, sedaplah… hehhehe

Ini tempoyak mentah sebelum diolah.

 
Pokoknya, Kalau makan ditemani "adonan" durian ini, bagi saya, semua begitu indah dan asik, lebih asik dari Pokomen GO yang lagi ngehits plus penuh pro dan kontra ituuuh, hahhaha.. Beneran lho, makan saya jadi lahap kalau ada si tempoyak manja. Dari kecil, keluarga saya sudah akrab dengan sajian ini. 

Tempoyak adalah salah satu makanan khas Sumsel. Daerah lain seperti Bengkulu, Jambi, Bangka Belitung dan Lampung, juga mengenal tempoyak. Tapi, teman-teman yang berada di luar Sumatera, saya kurang tahu, apakah teman-teman di sana juga pernah atau tahu dengan tempoyak? Namun, setelah saya cari tahu, ternyata di daerah Kalimantan, warganya juga familiar dengan tempoyak dan sering memasaknya.

Biasanya, bagi yang bukan orang Sumatera dan Kalimantan, mungkin aneh ya melihat tempoyak. Misalnya, kata temen saya yang Wong Solo ”Durian dicampur nasi? Gak kebayang gimana rasanya?” Ia berkata begitu dengan ekpresi wajah yang seolah-olah ingin berkata “ogah banget dah gua,” hahahha.

Ketika gambar tempoyak ini saya publish di Facebook, beberapa hari lalu, muncul juga komentar teman yang merasa aneh dengan tempoyak. Seperti komentar dari teman kantor saya yang dulu, Septi Utami: “Aq kenal dan pernah makan tempoyak mb eka, krn dulu pernah kost di rumah yg pemiliknya org Sumatra, beliau sering masak makanan itu… cm aq g tau gmn cara masaknya, taunya cm makannya doank...makanan aneh sepertinya tempoyak."  

Dari sesama teman blogger, Kang Asep, si pemilik blog simplyasep.com, mention akun twitter saya dan bilang: "20thn lebih sy di Pontianak tetap belum bisa makan Tempoyak. Nda tahan. Aromanya saja (maaf) membuat mau (maaf) muntah." Nah, gegara membaca cuitannya Kang Asep ini, saya jadi tahu, orang Pontianak juga sering mengkonsumsi tempoyak.

Selain Kang Asep, teman blogger yang tinggal di Jawa Barat, Rinrin Irma, juga komen di facebook saya: “Duren pedes... kaya' apa ya jadinya, penasaran”

Nah, kalau Anda? Bagaimana Anda melihat penampakan tempoyak? Aneh? Atau malah jadi penasaran?
Read More

Tukar-tukaran Mi Jelang Lebaran




Jelang lebaran ini banyak perusahaan yang bagi-bagi sesuatu untuk karyawannya. Ada yang bagi sembako, seperti di kantor tempat saya bekerja yang dulu. Ada yang memberi parcel, sekotak kue lebaran, atau berbagi buah-buahan manja, jika perusahaannya memproduksi buah. Trus, kalau perusahaannya menjual barang-barang elektronik, ada gak ya dibagiin juga elektroniknya ke masing-masing karyawan? hahahhaha...

Nah, di kantor saya yang sekarang, dua hari lalu semua karyawan masing-masing dibagikan satu dus mi. Aneka mi tentu rupa-rupa warnanya eh rasanya. Ada rasa kuah ayam bawang, kari ayam, kuah soto, ada pula rasa kuah mi goreng soto, mi goreng ayam bawang dll.

Yang baju merah jilbab hitam adalah juragan mi.

Awas, Yang baju merah jangan sampai lepas! Bisa gak kebagian mi, lu!
Untuk pembagiannya, siapa dapat mi rasa apa, diundi oleh juragan mi, mbak Niti. Itu tuh, yang pakai baju merah jilbab hitam, hehehe. Doi adalah karyawan bagian GA yang mengurusi urusan kayak-kayak gini nih, hihihih. Sebelumnya, juragan mi menyuruh karyawan mengambil kupon undian yang digulung, yang ditaruh di atas mangkuk. Di kupon tersebut tertera tulisan mi apa yang mereka dapatkan. Jadi, karyawan harus mengambil sekardus mi yang sesuai dengan apa yang tertulis di kupon tersebut. Dalam satu kardus mi, tentulah rasanya sama semua dong, ya. 

Nah, begini penampakan kuponnya, hahhaha

Nah, karena kepengen mendapatkan rasa mi bermacam-macam, maka timbullah ide. Bagaimana kalau karyawan saling bertukar mi yang memiliki rasa yang berbeda? Semua setuju dan membuka selotip penutup kardus mi masing-masing. Setelah itu, adegan saling bertukaran mi pun dimulai.

“Punya lo rasa rasa apa? Gua mi goreng rasa ini nih, tukeran, ya,” begitu kira-kira obrolan tahapan eksekusi. Ada yang tukaran 5 mi rasa A ditukar dengan rasa B, pun sebaliknya. Keseruannya di situ. Saya juga ikut tukar-tukaran plus memotret mereka. Lucu ada, serunya pasti dan hebohnya itu lho. Pantry kantor jadi ramai, karena kebanyakan tukar-tukarannya di titik itu. Sementara, ada karyawan lain yang ketawa melihat repotnya teman-temannya yang bertukaran mi, ihihihihih


Ati ati, jangan berebut, sayang..

Eh, gua dapet mi kuah nih, mau dong yang mi goreng

Keriuhan tukar-tukaran mi terus lanjut sampai sore. Kali ini bergeser ke ruang  utama...  Yuhuuuu...

Ehm, maunya tukeran mi sama si bule nih... wkwkwk
Lanjut tukeran mi.
3 cowok nyempil di tembok, sambil bertukaran mi juga, hihi

Terima kasih deh buat kantorku yang sudah memberi rezeki mi sekardus. Untuk saya yang anak kos, ahay, ini mah bermanfaat banget. Apalagi kalau lebaran, warteg atau tempat makan pada tutup semua. Jadi, ya mau gak mau makan yang instan-instan kayak mi ini, hehehe.

Bagaimana suasana bagi-bagi sesuatu di kantormu jelang lebaran ini?

 
Nah, begini akhirnya ketika mau bawa kardus mi pulang, kayak mau mudik, hahahha



Read More

Serunya Buka Puasa Bersama Sunpride, Royal Buah!

Beberapa kali membaca status medsos atau blog yang ditulis blogger yang pernah datang ke acara Sunpride: kalau brand ini ngadain acara, royal, bertabur buah dan dikasih buah. Saya percaya sih, karena terlihat dari foto-foto yang mereka publish, pada bawa pulang beraneka buah sekantong besar kelar acara. Dan akhirnya, aih, kesampaian juga daku kecipratan hadir di acara Buka Puasa Bareng Sunpride di Arion Swiss Hotel Kemang, Jakarta, Sabtu (26/6/2016).

Baru memasuki ball roomnya aja, hawa-hawa buah segar sudah menjadi pemandangan indah. Ketika tiba di meja bundar tempat saya dan teman yang saya ajak, duduk, pisang, apel, jeruk baby dan jambu, sudah tersedia di atasnya. Saya langsung mengabadikan 4 buah cantik dan segar itu. Jepret! 

Ini nih si buah penyambut tamu

Pas ngelihatin sekeliling, eh, ada lagi buah yang lain, nanas, melon, pepaya dan blewah dll. Buah-buahan segar ini menghiasai area ruangan. Acara buka bersama yang dihadiri awak media, blogger dan komunitas Fruitaholic. Sembari menunggu waktu berbuka, kami disuguhkan dengan tayangan video yang memperlihatkan bagaimana proses buah-buahan Sunpride diproduksi. Mulai dari penanaman, panen, pengaturan suhu, pengepakan hingga distribusi.Dibalik semua itu,ada banyak orang yang terlibat selain para petani tentu.

Peran engineering pada brand ini, sangatlah penting. Karena mereka bertugas memastikan agar mutu produk terjaga dan proses distribusi berjalan lancar dan aman, hingga sampai ke tangan konsumen. Saat pengolahan pun, listrik tak boleh terputus, jika tidak, buah akan rusak.

Menurut Marketing & Communication Manager Sunpride, Luthfiany Azwawie, di balik brandnya, ada proses yang sangat rumit dan melibatkan teknologi agar terjaga kualitas. Tapi, tehnologi yang dimaksud, bukanlah bahan kimia atau pengawet, tetapi ada yang namanya tehnologi Managing Multi Temperature. Tehnologi ini, berguna untuk menjaga kesegaran buah. ”Untuk menjaga kualitas produk, Sunpride diaudit oleh Sucofindo 6 bulan sekali. Berdasarkan audit yang dilakukan April 2016, Sunpride bebas residu pestisida dan logam berat” kata Lutfi. Saya juga baru tahu, kalau Sunpride sudah diekspor hingga ke Jepang, lho.

Menurut Marketing & Communication Manager Sunpride, Luthfiany Azwawie

Dulu, saya kira Sunpride ini produk impor lho, karena tampilannya yang kinclong dan menarik gituh. Ternyata eh ternyata,ini adalah buah-buahan asli Indonesia. Perkebunannya saja ada di Lampung. Kalau Anda pernah melihat pisang cavendish Sunpride yang mulus manja, licin, montok dan warnanya kyang kinclong, itu bukan karena diberi obat atau pengawet, lho, tapi karena pengolahannya yang baik. 

Menurut Product Management Officer Sunpride, Sri Astuti, pisang sunpride begitu mulus dan cantik, karena saat masih di batang, pisangnya dibungkus, sehingga tak terkena sinar matahari. Ketika pisang dipotong dari batangnya, gak boleh sampai jatuh, agar kulitnya tak kotor atau tergores. Saat panen, pisang pun dicuci berkali-kali hingga bersih supaya tak ada getah atau kotoran yang menempel. “Jadi kalau kata orang, buah Sunpride itu segar karena disuntik, jumlahnya yang banyak gitu masak disuntik satu persatu,” ujar Sri. Mendengar penjelasannya,dalam hati saya, iya juga ya. Bisa tepar juga tuh orang yang nyuntiknya kalau setiap masing-masing pisang satu persatu disuntik,belum lagi buah-buah yang lainnya, hihiihi..

Dalam acara tersebut, kami juga diberikan pengetahuan tentang gizi, dari ahli gizi Mayapada Hospital, Pauline Endan. Ia menjelaskan komposisi makanan yang seimbang adalah karbohidrat 60-65%, protein 10-15%, dan lemak 25-30%. Karbohidrat sangat penting bagi tubuh, karena merupakan nutrisi utama bagi sel otak, sel darah, dan sel saraf.

Nah, buat Anda pecinta buah-buahan, menurut Pauline, buah apa yang baik dikonsumsi saat sahur adalah buah yang memiliki karakteristik banyak cairan, tinggi serat, dan lamban dicerna, seperti adalah apel, pepaya, melon, buah naga, dan pisang. Sedangkan, saat buka puasa, pilihlah buah kurma, anggur, rambutan, mangga dan kelengkeng. Buah-buahan ini tinggi gula dan cepat meningkatkan gula darah, sehingga bisa menambah tenaga. Kebetulan bingits, semua buah yang disarankan untuk berbuka, aku suka! Yay!

Ahli gizi dari Mayapada Hospital, Pauline Endan.

Setelah dapat suntikan ilmu dari Pauline, kami diberikan Tausiyah dari Ustadz Rizky, tentang manfaat buah pisang. Kata ustadz, manfaat buah pisang  sudah dijelaskan dalam Al Quran. Saat berbuka puasa, juga disunahkan untuk makan buah-buahan dahulu, dulu sebelum makan berat. ”Buah pisang adalah salah satu buah yang akan diberikan di surga, tapi kita di dunia sudah diberkahi untuk menikmatinya,” ujarnya.

Sekitar 5 menit menunggu waktu berbuka, es buah segar hadir di depan mata, disajikan langsung oleh tim Sunpride di atas meja kami. Hmmmm, menggoda bingit sih, warna kuning-kuning manja mendominasi dalam cangkir gelas mini itu. 

Es buah hadir sembari nikmati Tausiya Ustadz Rizky

Setelah berbuka dengan es buah segar nan nikmat, kami juga bisa menikmati rujak buah, salad buah, puding, soto, goreng-gorengan, nasi plus lauk pauk. Pokoknya komplit dah. Sotonya enak banget euy. Mau, nambah, eh, sudah kehabisan, hahaha. Penuh nutrisi deh buka bersama bareng Sunpride.

Usai berbuka dan menjalankan sholat Maghrib, rupanya acara masih berlanjut Kali ini, ada game yang menarik: membuat parcel.  Yipi, sekalian nih daku bisa belajar bikin parcel, karena suka dengan penampakan parcel yang indah dan menggoda. Sebelum memulai lomba, MC nya sempat bercanda. “Itu buah-buahan yang ada di atas meja pada ke mana? Kok gak ada? Buah-buahan itu yang akan dijadikan parcel, lho,“ katanya. Semua tamu nyengir, karena buah-buahan yang ada di atas meja, yang sudah disajikan sebelum tamu pada datang, semuanya sudah ludes tentunya, pun dengan meja kami, hehehe.

Tapi akhirnya, kami diberikan buah-buahan baru lagi, lengkap dengan wadah parcel, plastik dan pita untuk menghias parcel. "Siapa yang lebih dulu mengantarkan parcelnya ke depan, dialah pemenangnya,” ujar sang MC. Maka semua tim pun beradu cepat, tanpa memperhatikan kerapian dan keindahan. Pokoknya kudu cepat aja. Maklum, siapa yang menang akan diberikan sekeranjang buah. Jadi banyak yang berburu dan terburu-buru menyelesaikan parcelnya. Dampaknya? Banyak pita cantik tak terpasang di parcel. Bahkan, ada kelompok yang melilitkan pita besar yang diambil dari kursi hotel untuk mempercantik parcel, saking gak mau ribetnya.

Ini kelompok saya. Daku yang mana? Daku yang motret, hehe
Ini hasil (hancur) parcelnya, wkwkwkwkw

Jadi, siapa pemenangnya? Aha, bukan siapa yang paling cepat menyelesaikan parcel yang jadi pemenangnya. Ibu Lufti yang didapuk sebagai juri, memilih parcel yang paling banyak buahnya. “Saya kok melihat cuma ada satu parcel yang ada jeruk babynya,” kata Lutfi. Maka parcel itu pun menjadi pemenangnya, Sementara, pemenang yang lain dipilih Lutfi dengan penilaian warna buah yang tersebar merata. Kedua pemenang, justru kelompok yang paling akhir menyelesaikan parcelnya. Yaaaahh..., kecewa deh, tahu gitu, kelompok kami gak apa-apa pelan-pelan saja yang penting cantik, hehehe... 
 
Bu Lutfi tengah menilai parcel siapa yang paling cantik

Lomba parcel mengakhiri acara buka bersama Sunpride. Setelah itu diumumkan juga pemenang lomba twitter dan instagram. Selamat ya, semua pemenang membawa pulang sekeranjang buah. Ketika kami bersiap pulang, kejutan kembali hadir. Masing-masing meja diberikan pisang satu keranjang. Wuuahahaha, kelompok satu meja pun berebut pisang enak dan cantik. Tak cuma itu, panitia juga memperbolehkan kami mengambil semua buah-buahan yang dipajang di dalam ruangan, siapa cepat dia dapat. Wah, benar-benar sehat buka puasa kali ini, bertabur buah. Ternyata, benar apa yang dikabarkan rekan-rekan blogger. Lain kali, kalau saya datang ke acara Sunpride, kayaknya siap siap bawa kantong gede dari rumah dah, dan siap-siap juga memenuhi nutrisi bersama buah-buah Sunpride di ramadan kali ini.

Nah, buah yang dipajang ini, boleh dibawa pulang usai acara. Serbu! (foto: FB Sunpride )




Read More

Manusia oh Manusia


Ada berapa banyak teman di kantor? Berapa jumlah teman satu kos? Tetangga kanan-kiri pun tak terhitung  jumlahnya. Bahkan, di lingkup keluarga, ada beberapa isinya dalam satu rumah? Semua manusia yang saya temui setiap hari, diciptakan dengan khasnya sendiri. Tak ada yang bisa meniru sikapnya. Kalau pun bisa ditiru, tentu tak sama persis. 

Ada seorang teman yang terlihat lembut dan bijaksana, tapi ada kalanya ia bisa marah meledak-ledak sambil menggebrak meja. Saya kaget dibuatnya, tak menyangka ia akan seperti itu. Meski begitu, ia orangnya mudah memaafkan dan cepat memperbaiki kesalahan. Ini satu keunikan menurut saya. Karena tak semua orang yang suka marah cepat memaafkan, yang ada malah didendam. Iya, kan?

Teman yang lain lagi, ada yang tak terlalu pintar dari sisi akademik atau istilahnya pintar di atas kertas. Nilainya? Wah bagus semua! IPK-nya, ehmm..hampir mencapai kepala 4. Tapi kalau berbicara di depan orang atau ada sesi diskusi di salah satu mata kuliah, hanya bisa diam seribu bahasa. Sebaliknya, ada mahasiswa yang nilai kuliahnya sering dapat angka jelek, tapi, kalau berorasi atau berbicara di depan orang, jagonya bukan main. Semua orang terpana melihat kelihaian bicaranya. 

Ada lagi.....yang pendiam, tak banyak bicara. Tapi, bisa jadi penyiar radio, yang notabene harus nyerocos atau paling gak pintar mengolah kalimat. Nah, kalau selama ini orang melihatnya tak banyak cakap, maka ketika dia jadi penyiar radio, semua orang kaget. "Kok bisa ya dia jadi penyiar?" Teman saya yang lain, ada yang belum pernah jadi marketing. Bahkan sempat menolak ketika ditawarkan. Tapi ketika ia memang ditasbihkan harus berjualan dan mendapatkan klien, rupanya ia bisa melakukannya dengan baik, meski minim pengalaman. 

Seorang yang berprofesi sebagai dokter pun, yang biasanya dianggap orang mempunyai kecerdasan, tapi ada juga yang mudah diperdaya atau ditipu orang.  Saya pernah membaca di salah satu media cetak nasional, seorang dokter senior yang ditipu oleh seseorang yang mengabarkan kalau ia terpilih sebagai salah satu dokter terbaik dari satu lembaga, melalui percakapan di telephone. Nah, karena hal itu, ia diharuskan mentransfer sejumlah uang untuk memperlancar prosesnya. Begitu kira-kira, ya. Sang dokter pun percaya dan dengan semangatnya menuruti apa yang diperintahkan oleh seseorang tadi. Hingga akhirnya ia sadar, kalau telah tertipu. Ya, itulah, Tuhan menciptakan kelemahan dan kelebihan mahluknya masing-masing.


Ada pula teman saya yang lain, yang pemalasnya minta ampuuuuun, tapi mudah mendapatkan pekerjaan. Ini juga hal yang membuat saya geleng-geleng kepala. Kok bisa ya dia begitu? Bangunnya selalu siang, kamarnya aja malas diberesin. Tapi, kalau urusan melobi orang, dia jago. 

Teman yang lain lagi, terkenal sekali dengan sifatnya yang suka ngomongin dan mengejek orang lain yang punya kelemahan atau tak sejalan dengannya. Tapi, di sisi lain, ia tak pelit dan senang berbagi. Saya cuma bisa tersenyum jika melihat sisi baiknya dengan mengingat betapa banyak orang yang sudah dibuatnya jengkel dan sakit hati karena sisi sifatnya yang jelek.


Kisah lain lagi dari seorang manusia...  

Ia dikenal tak mempunyai tata krama yang baik. Masuk ke rumah orang langsung ngelonyor sampe ke dapur, misalnya. Tapi, meski sopan santunnya sering jadi perbincangan, dia ternyata pemurah. Jika ada  yang mengalami musibah, tak segan-segan ia langsung memberikan sejumlah uangnya untuk menolong orang yang tertimpa bencana tersebut tanpa pikir panjang, tanpa hitung-hitungan. Sebaliknya, ada orang yang suka ceramah atau menasehati orang dan dianggap santun oleh banyak orang, tapi sayang, ia belum tentu akan bertindak sigap mengatasi satu masalah atau membantu orang lain. Saya sudah pernah melihat hal ini. 

Ya, itulah contoh beberapa bentuk sifat manusia yang saya temui di kehidupan. Di balik sifat buruk, ada kebaikan di dalamnya. Pun sebaliknya. Manusia oh manusiaaaaa....

Read More

BNI, Demi Masa Depan!


Di ATM BNI

Memilih bank untuk jaminan masa sekarang dan masa depan, tentu harus cermat  dan bijak. Sebagai nasabah, salah satu penilaian yang dilihat pertama kali adalah cara pelayanan dan secepat apa menanggapi keluhan nasabah. Kalau bank tersebut mau membuat nasabahnya betah, maka faktor berbeli-belit dan lama merespon keluhan nasabah, harus segera dihilangkan.

Saat ini, saya memilih BNI Cabang Utan Kayu sebagai sarana untuk menyimpan dan mengelola keuangan saya. Sampai hari ini, sudah sekitar 5 tahun saya bolak balik ke BNI untuk urusan ini dan itu. Mulai dari mengurus ATM yang hilang, kliring, membuka Tapenas dan Deposito, atau ada sesuatu hal yang ingin saya tanyakan kepada customer Service BNI. Namun, pernah pula saya mengeluh kepada BNI via telepon.

Ini suasana BNI Utan Kayu, Jaktim.

Ya, saya pernah mengeluh pada BNI karena uang saya "hilang" saat melakukan transaksi pembayaran di salah satu toko buku termuka dengan menggunakan Kartu ATM BNI. Kejadian itu sekitar 3 tahun lalu. Buku yang saya beli cuma 1,  eh, tapi uang saya malah terpotong dua kali lipat dari harga buku tersebut. 

Jadi, saat melakukan pembayaran buku seharga Rp55.000, kasir yang menggesek kartu ATM saya mengatakan, transaksinya  gagal. Saya pun melihat keterangan di mesin gesek ATM kasir, bahwa transaksinya memang gagal. Karena gagal, lantas sang kasir menggesekkan kembali ATMnya. Untunglah, gesekan yang kedua ini  berhasil. Namun, setelah saya cek jumlah nominalnya, ternyata transaksi awal yang gagal itu, tetap terpotong. Sementara pihak toko buku merasa tidak memotong uang saya, karena laporan transaksinya gagal. Sedih dong ya, uang saya lenyap tak bertuan.

Karena hal ini, saya langsung mengadu ke call center BNI 021-500046 via ponsel. Sekarang  nomornya berganti  menjadi 1500046. Setelah menceritakan kronologisnya, laporan saya pun ditanggapi, dan dijanjikan paling tidak 1 minggu setelah melapor, akan mendapat penjelasan kemana raibnya uang saya itu.

Dua hari setelahnya, saat saya sedang duduk santai di teras kos, ponsel saya berdering. Ouw, ternyata itu telephone dari BNI.  Suara wanita muda di ujung telepon mengabarkan, kalau uang saya sudah di transfer kembali ke rekening saya. Menurut penjelasannya, uang saya itu "nyangkut". Jadi, hilang kagak tapi kembali ke rekening saya juga nggak. Ya, begitu jadinya, hehehhe.

Senangnya, keluhan saya ditanggapi dalam 2 hari saja. Saya pikir bakal menunggu satu minggu beneran, lho. Itu pun, saya sudah mempersiapkan hati, kalau-kalau tak ada lagi kabar selanjutnya. Saya mengira, karena uang yang dilaporkan hilang cuma Rp.55.000, siapa tau BNI malas menanggapi, eh, ternyata dugaan saya salah. Apa yang dilakukan BNI,  tentu saja membuat nilai plus di mata saya, sebagai salah satu nasabahnya. 

Karena takut uang saya hilang tak ketahuan, saya pun berlangganan SMS Notifikasi BNI. Jika ada sesuatu yang mengalir ke rekening atau ada transaksi mencurigakan, saya bisa tau, karena laporannya akan disampaikan otomatis juga melalui SMS. Tentu saja saya bisa bereaksi dan cepat tanggap kalau-kalau ada notifikasi dana keluar yang tidak saya lakukan

Selain itu, dengan SMS notifikasi ini, saya tak perlu  repot mesti membuka internet untuk melihat dana masuk atau dana keluar, apalagi, seringkali saya kehabisan kuota internet, hahahaha. Tak perlu pula saya harus ke ATM untuk mengecek transferan duit dari hasil side job. 


Ya, BNI melindungi nasabahnya dengan memberi kemudahan informasi.  Itulah yang saya dapatkan dari BNI selama kurun waktu yang tak pendek itu. Walau pulsa saya harus dipotong setiap kali ada SMS notifikasi BNI, namun pulsa yang terpotong itu, tak sebanding dengan keuntungan yang didapat.

Kini, sudah 5 tahun menjadi nasabah BNI. Banyak uang saya yang tersangkut di bank ini, hehehe... Nyangkut? Iya!  Dua tahun belakangan, misalnya, uang gaji saya setiap bulan selalu dipotong BNI melalui autodebet. Ini karena BNI menawarkan program TAPENAS kepada nasabahnya. Saya mengambil jangka 2 tahun. Setiap bulan, saya harus rela mendapatkan SMS notifikasi BNI, kalau saldo di tabungan BNI Taplus saya harus berkurang nominalnya. Tak mengapa, karena ini adalah simpanan berjangka untuk membantu perencanaan keuangan saya.

Saya mengikuti program ini, salah satu tujuannya untuk menabung demi biaya pernikahan kelak. Hari gini, tentulah tak sedikit merogoh kocek untuk sekadar pesta penikahan yang sederhana sekalipun. Saya mau,  semua yang akan saya jalani bisa mewujudkan tujuan dan masa depan saya dengan lebih pasti dan aman.  Iya dong, emangnya wanita cuma butuh kepastian dari lelaki saja? Saya juga butuh kepastian dari cara mengelola keuangan melalui BNI, agar uang tak lenyap begitu saja.   

Di dalam Buku Taplus BNI dan Tapenas BNI ini, menyimpan masa depanku.

Dua bulan yang lalu, jangka waktu dua tahun TAPENAS BNI itu berakhir sudah. Hasilnya? Saya merasakan seperti mendapat durian runtuh. "Nah, sekarang seperti dapat hadiah, kan mbak," kata sang customer service saat saya
curhat betapa "ngilunya" menerima kenyataan gaji yang harus terpotong separuhnya setiap bulan demi TAPENAS. Saya pun manggut-manggut mendengar ucapannya yang menyenangkan hati itu saat mengurus masa Tapenas yang tlah berakhir.

Lantas, uang yang sudah bisa saya cairkan itu,  saya gunakan untuk apa? Uang itu masih utuh, kok. Kan, tadi saya sudah bilang, itu bekal buat nikah nanti plus untuk membeli benda-benda jika saya sudah memiliki rumah sendiri.

Saya simpan di mana? Uang yang terkumpul dari hasil TAPENAS, kini telah saya depositokan saat itu juga, ketika persis jangka waktunya habis. Bahkan, mbak Customer Service BNI yang berhijab itu pun ikut membantu mengarahkan, baiknya berapa nominal yang perlu saya depositokan, (dengan melihat juga nominal taplus BNI yang saya miliki) dan berapa jangka waktu yang harus ditetapkan untuk menguntungkan saya.

Ah, tercapai lagi keinginan saya punya deposito, setelah beberapa tahun sebelumnya deposito yang saya buat, gagal. Gagal, karena saya belum bisa mengelola keuangan dan belum dapat mengontrol hawa nafsu untuk belanja, hingga deposito pun harus "dijebol". Tapi, saya menyadari, yang saya lakukan dulu, mungkin karena usia yang masih muda, hingga labil, masih pengen ini dan itu. Namun, semakin bertambahnya usia, kebijaksanaan dalam diri, untuk hal apa pun, ikut berkembang. Saya percaya, setiap orang pasti punya keinginan untuk maju dan baik dalam segala hal. Begitu juga dengan masa depan, semua orang tentu ingin bahagia dan tercukupi. Pun saya, demi masa depan, saya percayakan menitipkan uang pada BNI.

(Foto : adharta.com)

Read More

Susahnya Makan Pakai Sumpit

Sumpit menjepit dinsum :D
Kalau memesan makanan sejenis dinsum, mi-mi-an, atau masakan Jepang, sudah nebak nih, pasti bakal dikasih sumpit sama pelayannya. Ya, dipake sih emang sumpitnya, tapi itu bikin saya lama makannya, karena susah memegang sumpit dengan benar. Beberapa teman sudah mengajarkan, tapi tetap tak berhasil. Kalau saya menjepitnya, makanan enak itu lolos dari sumpit yang saya pegang, hahahaha.

Sesekali, saat di resto, saya request sih untuk minta diganti dengan sendok atau garpu saja. Maklum, tangan ini tak terbiasa pakai sumpit. Wong dari orok sampe saya sudah mateng kayak gini, tiap hari kalau makan ya pakai sendok atau pakai tangan sekalian. Sumpit? Hmmmm... dalam setahun, mungkin cuma dua kali saya memakainya. Itu pun ketika jajan diluar. Itu pun bukan keinginan saya tapi keinginan resto/cafe. Itu pun gak nyaman kalau memakainya. Walhasil sampai sekarang saya gak bisa pakai sumpit. Ya, sudahlah.….

Dinsum menggoda manjaah

Kalau dipaksakan, alhasil saya jadi kesal sendiri, karena waktu akhirnya habis cuma buat ngepasin gimana caranya itu makanan nyantol di sumpit. Apalagi kalau dinsum yang ada isinya, itu bisa kocar-kacir isinya. Jadi gak nikmat lagi mengunyahnya, padahal saya doyan ngonyel dinsum. Saat makan mi, lumayan berkali kali menggulungnya agar gak jatoh, hihihih.

Trus, apakah saya berusaha untuk bisa memakai sumpit? Sepertinya nggak ada deh niat untuk mahir pakai sumpit. Bagaimanapun, makan dengan menggunakan sendok atau dengan tangan, lebih nikmat dan cocok untuk saya. Anda?



Read More